Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 59


Yuli sudah tidak terlalu nyaman dengan pesta ini. Semakin tidak nyaman lagi saat Jimin mendadak asyik sendiri dengan teman-teman kantornya yang ternyata juga datang. Mereka membahas gim yang diselingi dengan candaan. Mereka semua duduk di meja bundar dan Jimin benar-benar kelewat terbawa dengan percakapan nya. Melupakan janjinya bahwa mereka tidak akan lama di sini.


Omong kosong. Jimin malah semakin larut. Yuli sama sekali tidak bisa masuk dalam percakapan itu. Yuli bosan dan mual karena mencium bau masakan yang entah terbuat dari apa. Salah satu teman Jimin sedang memakannya. Mungkin, itu daging yang dilumuri kuah kari. Baunya sangat kental.


Yuli sampai pusing dan tak kuat lagi menahannya. Jadi, Yuli secara perlahan mundur karena sungguh tak tahan lagi. Jimin sepertinya tak menyadari bahwa Yuli pergi karena terlalu larut dalam percakapannya. Awalnya, Yuli pergi ke toilet, mencoba memuntahkan sesuatu, tapi tak ada yang keluar. Meskipun berdiam berdiri sejenak, Yuli tak juga merasa lebih baik. Aku ingin pulang, sungguh. Atau setidaknya mencari udara segar. Keluar dari toilet, Yuli tak segera kembali takut akan mual lagi.


Yuli lebih tertarik pergi ke balkon, lebih tepatnya karena dia tertarik dengan musik klasik yang mengalir di luar sana. Di sini tak terlalu banyak oran, mungkin karena udaranya cukup dingin. Namun, tetap ada beberapa orang yang memiliki untuk menikmati pesta di sini.


Di bandingkan di dalam ruangan, di sini lebih tenang meskipun dingin. Yuli berjalan ke bibir balkon melihat pemandangan dari atas, Terkagum karena langsung dimanjakan dengan atraksi air mancur di bawah dengan gradasi lampu yang sempurna dan di atur bersama dengan ritme gerakan airnya.


Lalu Yuli melihat ke langit, cukup terang walaupun tidak terlalu banyak bintang dan sangat tenang. Yuli menghirup udara segar malam yang dingin sebanyak mungkin, itu membuat Yuli terasa lebih baik.


Sampai Yuli sadar ponselnya bergetar. Yuli merogoh tasnya dan melihat nama Jimin tertera dilayar, Yuli tidak langsung mengangkatnya. Yuli malah melamun saat matanya tak sengaja menangkap sosok Amora yang juga ternyata ada di sini. Dia bersama dengan seorang temannya dan mereka tampak asyik mengobrol. Saat Amora tersenyum, kecantikan bertambah bahkan pelayan yang melewatinya sampai sedikit tersandung melihat pesonanya.


Yuli jadi berpikir, untuk apa Jimin melepaskan wanita sesempurna itu?


"Yuli". Yuli tersentak dan seketika yuli menoleh ke samping, menyadari kehadiran Jimin yang tampak frustrasi.


"Sudah aku bilang, jangan jauh-jauh dariku." Dia meresahkan suaranya tapi tetap tegas.


"Aku ingin pulang, aku tidak suka di sini." Ucap Yuli begitu saja.


Jimin menghela napas. "Belum selesai, sebentar lagi."


"Aku pusing, aku mual, aku ingin pulang. Apa kau tidak meng_"


Jimin menutup ucapan Yuli dan maju selangkah. Yuli tak menyangka dia menarik pinggang Yuli. Bola mata Jimin bergerak ke satu arah yang sama, tempat Yuli melihat Amora.


Dari sini, Yuli bisa melihat Amora yang mulai menatap ke arah mereka. Yuli tidak bisa membaca ekspresi wajah Amora, sulit sekali entah itu terkejut, terluka, marah atau bingung? Entahlah. sulit di artikan yang jelas dia menatap Yuli atau mungkin menatap Jimin.


Sementara itu Jimin mengarahkan pandangannya pada Yuli. "Sudah waktunya, tolong jangan melawan."


Yuli baru ingin bertanya apa maksudnya, tapi bibinya udah lebih dulu di sumpal oleh bibir Jimin. Apa-apaan ini? Mata Yuli melebar, Yuli mencoba menghindari tapi Jimin menjauhkan bibirnya sedikit walaupun ujung bibir mereka masih bersentuhan. Jimin bersuara lirih.


"Menciummu di depan mantan pacarku, misi terakhir malam ini. Setelah ini kita pulang, aku janji. Tetap berciuman."


Lalu, Jimin mencium Yuli lagi. Kali ini, tubuhnya dirapatkan dengan Yuli. kenapa harus seperti ini? Berarti, ini adalah bagian dari misi permainan sialannya itu? Yuli ingin memukul Jimin, tapi dia lebih dulu menurunkan tangan Yuli dan membawa tangan Yuli itu untuk terkalung di lehernya.


"Jimin ini tempat umum!" Yuli berhasil menghindar sejenak.


"Aku tahu, biar saja."


Jimin lalu mencium Yuli lagi. Kali ini lebih gila karena dia menggoda dengan ******* kecil yang lembut sampai akhirnya Yuli lihat Amora yang menatap jijik ke arah mereka dan langsung pergi.


Yuli langsung mendorong Jimin menjauh dan mengusap bibir Yuli.


"Brengsek, aku hanya kamu jadikan alat untuk membuat mantanmu cemburu dan memenuhi misimu. Aku membencimu!"


Lalu, Yuli melakukan pergi. Yuli tidak peduli lagi.