Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 21


Yuli meletakan ponselnya dan duduk di samping Jimin. Dia sudah mulai melupakan kejadian pesan teror LINE tadi. Yuli hanya perlu mengabaikannya saja, itu sama sekali tidak penting bagi yuli. Dia melihat sebuah majalah yang ada di dekat naskah. Majalah itu baru datang pagi ini dan halaman depannya memamerkan foto Jimin yang tengah berpose menggulung ke mejanya, terlihat begitu tampan.


"Sukses membawa C.U.Ink menembus pasar Eropa lewat sebuah gim." Yuli membaca judulnya sambil mengangguk-angguk. Apakah Jimin memang seterkenal ini? Entah kenapa yuli tidak menyadari Suaminya ini begitu terkenal.


Dia duduk di tepi ranjang dengan kaki yang menggantung kebawah sembari perlahan membuka halaman demi halaman. Yuli membacanya dengan seksama. Banyak istilah dan nama-nama perangkat yang tidak dia ketahui artinya. Dia tidak tertarik hal seperti ini, dia hanya tertarik melihat foto-foto jimin saja.


Yuli masih melihat-lihat begitu serius mungkin sampai dia tidak menyadari bahwa Jimin terbangun. Tiba-tiba saja jimin memeluknya dari belakang dan yuli seketika menjadi menegang sendiri, tertangkap basah sedang memandang potret-potret diri jimin di majalah.


Yuli merasa tangan hangat jimin melingkar dengan sempurna di perutnya, kemudian dagu jimin bersandar di antara bahu dan leher yuli.


"Ku-kupikir kau sudah tidur," ucap yuli sambil perlahan menutup kembali majalah.


"Aku terbangun saat kau membaca judul majalah itu."


Yuli spontan menutup mulutnya." Hah? Apa suaraku terlalu keras? Maaf, jadi membangunkanmu."


"Tidak, aku juga memang sudah terlalu banyak tidur hari ini." Jimin mendaratkan satu kecupan manis di sela-sela bahu dan leher yuli.


Yuli jadi merinding sendiri dan dia jug mencoba untuk membebaskan diri dari jimin. "Oppa....tidurlah, kau kan sedang sakit."


Yuli bisa merasakan tubuh jimin yang tidak sepanas tadi, walaupun tubuhnya masih hangat. Ini jauh lebih baik, seperti mendekati suhu normal.


"Baiklah, mari tidur," ucap yuli mencoba mengambil tangan jimin yang melilit di perutnya.


Namun ada sedikit keanehan. Jimin seperti tidak mau melepaskannya. "Aku merindukanmu, Yuli," bisik Jimin di dekat telinga yuli.


Yuli tidak tahu apa makna sebenernya dari kalimat yang baru saja jimin katakan, karena itu jelas bukan maksud sesungguhnya dari sebuah rindu. Karena selama ini yuli tidak pernah pergi ke mana-mana. Jimin jelas tidak merindukan yuli. yuli masih mencoba mencerna semua itu tetapi Jimin lebih dulu menjelaskan maksudnya. "Aku menginginkanmu."


Itu membuat yuli melebarkan mata dan menelan ludah. Apa jimin gila? Dia kan sedang sakit? "Oppa, sebaiknya kau istiraha." Yuli mencoba tenang di antara kecupan jimin yang semakin naik menjelajahi leher yuli.


"Aku sudah sembuh," ucap Jimin lalu tanpa diduga satu tangannya naik keatas untuk menyentuh dagu yuli agar diarahkan sedikit ke belakang hingga wajah mereka saling bertemu.


"Tapi, jika kau tidak menginginkannya, aku takkan memaksamu." Jimin berucap dari jarak yang cukup dekat, itu sama saja tak memberi yuli celah untuk menolak.


Yuli bisa melihat mata jimin yang memancarkan gairah. keinginan yang lebih. Yuki baru ingat bahwa sejak mereka berdua bertengkar kemarin, yuli dan Jimin tidak pernah lagi melakukanya. Itu sudah satu bulan yang lalu. Sebab, setelah pertengkaran itu, Jimin juga sangat sibuk. Saat dia pulang, yuli sudah tertidur, terus pada pagi dia selalu terburu-buru. Jimin pasti menahan ini sangat lama.


"Aku_" ucapan yuli terhenti ketika jimin mengecup sisi bibir yuli, alih-alih menciumnya.