
Yuli dan Jimin memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah yang terjadi kemarin. Lebih tepatnya, dia memberi toleransi pada Jimin sampai jimin benar-benar bisa menceritakan semuanya. Yuli tidak tahu, apa yang membuatnya luluh begitu saja pada Jimin dan melupakan semua itu dengan mudah. Mungkin karena Rasa cintanya yang dalam terhadap Jimin? Mungkin saja. Jimin hanya terus meminta yuli agar tetap percaya kepadanya.
Yuli merasakan luka dalam dirinya, tidak siap dalam menghadapinya juga ketakutan. jadi, Yuli kembali tinggal bersama Jimin, menjalani aktivitas seperti biasa. Dua Minggu lagi dia akan wisuda. Yuli ingin Jimin datang di hari itu. dia sudah mengabari Dokter Rosa perihal ini di Skype_maksudnya agar dia juga datang_tapi dia menjawab dengan nada bersalah karena belum bisa meninggalkan tugasnya.
Sekarang harapan yuli hanya Jimin dan mungkin keluarga jauhnya seperti bibi dan pamannya atau mungkin beberapa sepupunya yang datang di wisuda Yuli.
Ini adalah Kamis pagi yang cukup cerah. Yuli bangun lebih pagi karena hati ini berencana untuk pergi ke acara job fair bersama Myura. Yuli mungkin akan mulai mencari beberapa perkerjaan untuk mengisi kegiatannya setelah selesai kuliah. Yuli belum bilang ini pada Jimin. Terakhir kali, Jimin meminta yuli untuk melanjutkan sekolah saja dari pada berkerja. jimin akan membiayai S2-yuli tapi Yuli menolaknya karena Yuli sangat bosan kuliah.
Yuli ingin merasakan dunia yang baru atau setidaknya punyak kesibukan yang bermanfaat bagi orang lain. Belakangan ini, yuli juga mencari tahu tentang organisasi melawan kanker payudara. dia sangat tertarik untuk bergabung. Sepertinya menyenangkan bisa berbagi.
Yuli sudah belajar memasak dari Myura selama beberapa Minggu belakangan ini, jadi dia mulai bisa menyiapkan makanan yang sedikit variatif, terutama untuk sarapan. Dia berharap bisa memasak lebih banyak makanan berat.
Yuli melihat jam dan mengerutkan kening. Sudah setengah delapan pagi, tapi Jimin belum selesai berpakaian. Bisa-bisa dia terlambat ke kantor.
Yuli berjalan ke kamar untuk memanggil Jimin, tapi malah terkejut dengan sesuatu apa yang dia lihat. yuli lihat Jimin yang masih tertidur pulas, berbalutkan selimut tebal.
Jimin tidak menjawab yuli, malah bergumam tak jelas masih dengan mata tertutup, lalu merapatkan selimutnya. Tangan yuli langsung spontan memegang kepala dan leher Jimin untuk mengukur suhu tubuhnya. Mata yuli melebar ketika merasakan panah yang hebat dari tubuhnya.
"Astaghfirullah, kau panas sekali," yuli panik sendiri ketika tahu kalau Jimin sakit.
Yuli langsung mengulurkan tangan untuk mengusap keningnya, menyibakkan rambut Jimin ke atas, menyadari bahwa Jimin juga mulai berkeringat Sakin panasnya.
Jimin sedikit membuka mata, wajahnya yang pucat kini mulai tampak. "Aku kedinginan," gumamnya lagi dengan tubuh yang mulai gemetar.
Yuli langsung bergegas meraih remote AC dan menekan tombol untuk mematikannya. "Aku akan mengirim pesan LINE ke Dokter Rosa" ucap yuli bersiap untuk mengambil ponsel. Namun, Jimin memegang lengan Yuli..
"Jangan, dia nanti tidak fokus dengan perkerjaanya," pinta Jimin dengan suara serak lemasnya yang memegang tangan Yuli.
Yuli jadi bingung dan panik sendiri harus berbuat apa. dia tidak pernah punya pengalaman nyata tentang mengurus orang yang sedang sakit. Saat dirinya sakit saja, dia juga harus di rawat oleh bibinya sendiri.