Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
pisode. 77


dan rumah dua lantai memang selalu membuat yuli antusias karenan mareka pasti memiliki balkon . Yuli sudah mengkhayalkan pemandangan indah apa saja yang bisa yuli lihat dari atas balkon nanti sejak yuli menaiki anak tanggapertama. Tempat ini jauh dari hiruk pikuk kota, jimin memang selalu menyukai rumah yang sejenis ini sepertinya,


Lantai dua tentu tidak selalu lantai pertama. Namun ada area bersantai juga yang lebih terkesan hangat dan kekeluargaan. Ada sebuah ruangan yang dikelilingi oleh rak-rak, ini akan menjadi ruang kerja jimin pastinya. Lalu ada tiga pintu kamar lain.


Jimin membuka kamar yang pertama, memperlihatkan nuansa vintage dengan sentuhan wallpaper yang pas.


"Ini kamat ibu-ku nantinya, kamu tahu kan mama akan pilang bulan depan? Dia pasti ingin ikut mengurus cucu kesayangannya nanti. Mama juga akan membantumu menjelang persalinan."


Yuli snang sekali mendengarnya. Yuli senang ibu mertuanya akan tinggal bersama mereka, setidaknya akan ada yang mengajari yuli bagaimana mengurus anak nanti. jujur yuli kadang masih takut membayangkan jika yuli nanti tidak bisa mngurus anakny sendiri.


"Aa Oppa juga akan membaa asisten rumah tangga lagi?" yuli memutar tubuhnya menghadap jimin sambil menyingkirkan sedikit debu kecil yang ada di bahu jimin.


"Mungkin, kita masih membutuhkannya sampi enam bulan setelah kamu melahiran. Setelahnya kita butuh seseorang untuk membantumu karenan kamu pastinya akan sangat sibuk dengan anak kita. Kamu pasti belum siap untuk meninggalkan anak kita dalam aktu yang lama dan untuk mengurus keperluan lain di enam bulan pertama. Setelah selesai masa itu jika kamu ingin memakai tidak melnjutkan, teserah. Asal jangan sampa kamu kelelahan." jimin mengusap kepala yuli dengan penuh kasih sayang.


Jimin adalah sesek laki-laki idaman para kaum wanita karenan dia bahkan memperhatikan semua itu. Tapi kadang yuli merasa malu karena yuli yang mngandung, tapi jimin seaan yang paling bisa merasakan apa yang yuli butuhkan. Bagaimana yuli bisa untuk tidak mencintainya jika seperti ini?


Yuli hanya mngangguk mendengar keputusannya. Jimin memang paling tahu apa yang terbaik ddalam rumah tangga ini. Benar kata dokter rosa, anaknya ini sudah sangap siap sebenarnya dalm berkeluarga.


ereka lalu beranjak pintu yang lainnya, jimin membukanya lalu mempersilakan yuli masuk lebih dulu.


Terlebih, saat yuli mlihat kasur berukuran sedang dengan warna yang snada, rak-rak putih ksng dan meja kecil juga sudah ada di dalam sini. Bahkan karpetnya juga di teras begitu lembut dan nyaman untuk dipijaki.


"Apakah anak kita akan menyukai warna pink?" jimin memeluk yuli dari belakang. Yuli bisa merasakaan bahu runcingnya menyentuh bahu yuli.


Yuli memegang lengan jimin yang melingkar perutnya. "Dia pasti suka pilihan ayahnya."


Jimin terkekek, lalu mendaratkan bibirnya di bahu yuli terus menujuh ke leher dan menghirupn sepeti biasa. Hal yang tidak pernah gagal menyengat yuli dan membuatku merinding.


hal yang ada di dalam pikiran yuli. "jimin sialan. Kenapa dia gemar sekali melakukan itu?"


"Ini akan menjadi kamarnya saat dia sudah bisa tidur sendiri, di awal-wal pasti dia harus tidur bersama kita," bisik jimin seolah dia sudah merencanakan semua itu sejak jauh hari.


Yuli lagi-lagi tertegun.


"Benar, dia pasti akan sering menangis saat tengah malam dan harus segera di tnangkan." entah mengapa yuli juga jadi membayangkan hal itu.


Manis sekali.