
Rasanya Yuli ingin tersenyum seharian. Yuli sedang dalam perjalanan bus menuju supermarket untuk membeli beberapa makana karena hari ini Jimin berulang tahun. Yuli ingin membuat sesuatu yang dia suka. Yuli sudah menghubungi Dokter Rosa. Dia terus memberi tahu seluruh makanan kesukaan Jimin dan selama beberapa hari ini, Yuli diam-diam belajar memasak semua itu.
Yuli masih belum bisa melepaskan diri dari seluruh kejadian yang sangat indah seminggu ini belakangan ini, terlebih saat yuli melihat lagi foto-foto upacara wisuda yang digelar seminggu lalu. Yuli memejam untuk mengingat momen-momen di Jeongseon saat keesokan harinya Jimin memutuskan untuk pulang. Dia kesal lantara Yuli memintanya menjauh gara-gara tak tahan dengan aroma parfumnya. Dia pikir Yuli bercanda, padahal yuli serius! Hal itu membuat kehilangan mood sehingga Jimin tidak memperpanjang waktu libur mereka berdua. Yuli sempat menangis diam-diam saat meninggalkan Jeongseon. Tapi itu terlalu indah untuk di tinggalkan. Mitos itu sepertinya benar.
Hari-hari setelahnya menjadi lebih tenang. Jimin memang masih sibuk, tapi dia mulai belajar untuk pulang lebih awal sehingga intensitas obrolan mereka sedikit bertambah. Meski, menurut yuli masih belum cukup karena rasanya yuli ingin melihat Jimin sepanjang hari atau setidaknya, Yuli ingin melihat Jimin beristirahat dengan baik punya waktu tidur yang normal dan pikiran yang jauh lebih stabil. Yuli tahu, dia masih mencoba untuk melakukannya.
Di foto wisuda yuli, dia melihat Jimin yang masih berjas rapih berdiri di sampingnya. penampilannya sangat mencolok sehingga dia menjadi perhatian banyak orang atau barang kali Jimin mempunyai aura kuat hingga mampu menyedot perhatian orang sekitarnya.
Yuli memperhatikan foto ini lagi. Yuli lihat dirinya memegang bunga yang Yuli yakin baru dia beli saat perjalan menuju ke kampus. Dia tersenyum menatap ke kamera dengan satu tangan yang merangkul yuli. Ada beberapa foto yang diambil Gojung secara candid. Saat Yuli dan Jimin tak sengaja saling menatap dan tersenyum, Ada juga Jimin yang sedang menyingkirkan rambut di wajah yuli.
Yuli senang saat itu Jimin menyempatkan datang, padahal tahu dia baru saja memimpin sebuah rapat besar. sudah Yuli katakan padanya agar tidak menjadikanya beban, tapi dia bersikeras datang begitu rapat selesai.
Yuli masih mencari foto-foto berikutnya, tapi bus sudah berhenti. Sadar bahwa Yuli sudah sampai, Yuli turun untuk berjalan menuju supermarket yang tidak jauh dari halte. Ini masih siang, yuli tidak memberi tahu Jimin bahwa dia keluar rumah, khawatir nanti Jimin sudah menebak. Yuli memilih semua barang yang ada di dalam daftar belanjaan yuli, semua dimasukkan ke keranjang satu persatu.
Yuli memasuki area bumbu dapur dan berhenti mendorong keranjang belanjaan ketika melihat sosok yang tidak asing baginya. Yuli pernah melihatnya saat pernikahannya saudara tiri Jimin. Dia mungkin seusia yuli, entahlah. Jimin tak pernah bercerita banyak tentang. Seungwu. saudara tirinya. hidungnya mancung, kulitnya bersih tatapannya tajam dan punya postur yang lebih tinggi dari Jimin.
seungwu tengah menatap Yuli dan tersenyum. "Hai," sapanya ramah. Dia meletakan kembali sebuah botol berisi lada pada tempatnya semula.
"Oh, hai," Yuli sedikit membungkukkan badan untuk menghormatinya. Rasanya Canggu karena Yuli tidak begitu mengenalnya.
Dia berjalan mendekati yuli sembari memasukan satu tangannya ke saku celana. Turtle neck abu-abu polos membuatnya tampak keren.
"Bukannya ini ulang tahun Jimin Hyung?" nada bicaranya tidak terdengar seperti basa-basi, melainkan keheranan akan suatu hal.
Yuli mengangguk. "Benar, Kenapa kau menatapku seperti itu?" Yuli penasaran.
seungwu mengerutkan kening jari telunjuknya mengusap bibir. "Hmm, aneh saja melihatmu di sini."
Meski penasaran yuli bertanya lagi. "Memangnya kenapa?"
Seungwu sontak menggeleng. "Ah, tidak apa-apa,"ucapnya.
"Katakan saja," desa yuli. Dia benci dibuat penasaran.
Seungwu tersenyum tipis. "Aku hanya heran karena setahuku, dia tidak pernah merayakan ulang tahunnya di korea."
"Benarkah?" Yuli tidak tahu soal hal ini.
Lelaki ini mengangguk."Dia selalu pergi keluar negri bersama kekasihnya pada saat itu."
Yuli tak sadar bahwa ketika kalimat itu terucap, yuli meremas keranjang belanjaannya.
"Maaf, Yuli tidak bermaksud. Aku hanya terkejut saja. Hyung masih di Korea saat ini." Yuli lihat ekspresinya. Dia benar-benar menyesal dan heran.
"Memangnya kalian tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya?"
Seungwu tersenyum tipis, lalu menghembuskan napas. "Aku sudah tidak mengucapkannya sejak dua tahun lalu."
"Kenapa?"
Seungwu terkekeh tipi. "Tidak apa-apa. kami sama-sama sibuk," Alasan klasik.
"Kau bohong."
"Wah, ternyata kelihatan. ya."
"Apa hubunganmu dan Jimin memang sejauh itu?" Yuli tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Hmm, dia membenciku." Seungwu menarik napas pelan. "Dia membenci saudara-saudaraku. Dia paling benci dengan ayahnya_ayah kami."
Yuli tak menyangka bahwa dia akan mendengar hal ini. Namun, yuli tak bisa menampik rasa penasaran untuk mengorek lebih dalam, meskipun hatinya berkata tidak boleh meneruskan ini karena Yuli harus percaya pada Jimin seperti yang selalu dikatakannya.
"Ah, kau ingin berbelanja apa? sepertinya aku tidak asing dengan semuanya". Seungwu tiba-tiba saja mengalihkan pembicaraan. Dia melirik kedalam ranjang yuli. "Ingin memasak stew kimchi Jjigae," tebaknya.
Yuli melongo. "Kau tahu?"
"Aku mengambil sekolah memasak. Apa kau lupa?" tanyanya. Yuli baru teringat lagi, saat pernikahan Jimin memperkenalkan dengan seungwu dan sempat bilang bahwa adik tirinya itu pandai memasak.
Tak ingin suasana menjadi canggung, yuli lalu mengangguk. "Ini makan kesukaan Jimin. aku ingin membuatkannya."
"Ah, iya. Aku bisa membantumu mencari bahanya."
Yuli spontan menggeleng. "Ani, tidak perlu, aku....."
"Jangan sungkan, kita keluarga kan?" tak Yuli sangka dia Serama ini.
Kenapa Jimin membencinya?
Yuli tak bisa menolak karena dia langsung mengambil keranjang belanjaannya dan memimpin di depan seolah sudah tahu di mana letak barang yang Yuli butuhkan tanpa harus melihat catatan.
Wow.