
Aku terbangun di tengah malam, lalu melirik jam yang menunjuk pukul tiga dini hari. Aku mencoba tidur kembali, tapi rasanya begitu sulit. Setelah pulang dan memaki-maki Jimin atas perbuatannya hari ini, aku benar-benar mengurung diri di dalam kamar.
Sakin kesalnya, aku sampai ingin sekali menjambak rambut Jimin. Aku serius, ini seperti keinginan yang aneh, yang tiba-tiba muncul dalam diriku. Entah mengapa, aku terbangun dan memikirkan bagaimana rambut Jimin mengisi sela-sela jariku dan aku bisa menariknya sekeras mungkin.
Ya Allah!
Apa yang aku pikirkan? Aku sampai menggeleng dan bangun, lalu mencuci muka dan berbaring lagi, tapi keinginanku itu semakin parah. Aku sampai ingin dan membenci diriku sendiri karena terus membayangkan rambut Jimin.
Kenapa aku sangat ingin menyentuhnya? Apakah ini pembawaan akan kehamilan?
Ah, anakku. Jangan menyiksa ibumu ini, ayahmu itu brengsek! Jangan membuat ibumu hilang harga dirinya untuk mendatangi ayahmu.
Aku benar-benar mengatakan itu dalam hati sambil mengusap perutku. Aku membalik posisi tubuhku dan mencoba memejamkan mata lagi, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Aku bahkan sampai meremas seprai dan menariknya setiap kali aku bayangan akan menarik rambut Jimin kembali berputar di kepalaku.
Tidak mungkin kan aku keluar kamar dan menghampiri Jimin, lalu tiba-tiba menarik rambutnya sampai aku puas? Aku benar-benar frustrasi. Sialan.
Sampai akhirnya aku berakhir dengan menangis. Aku menenggelamkan wajah ke bantal dan menumpahkan tangisanku di sana. Aku benci Jimin, aku benci apa yang telah dia lakukan padaku. Aku benci semuanya tapi aku paling benci dengan diriku sendiri yang masih memikirkan Jimin hingga detik ini.
Aku menangis terus berharap lelah dan akhirnya nanti bisa tertidur. Sampai akhirnya, aku mendengar suara pintu yang dibukan dan ditutup kembali.
Ah, kenapa pintunya bisa terbuka? Apa aku lupa menguncinya?
Aku tidak mungkin menoleh dan menunjukan wajahku yang penuh air mata. Jadi aku telah dalam posisiku sambil berusaha keras berhenti menangis, tapi isikan sialan ini tidak mau berkerja sama.
"Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?"
Entah mengapa aku merinding mendengar suara Jimin. Ini kesempatan bagus, Aku bisa langsung saja menarik rambutnya. Jadi aku berbalik, namun malah terpakut melihat wajahnya.
Jimin menatapku penuh kekhawatiran. "Kau sakit? Kau membutuhkan sesuatu? Mimpi buruk? atau aku_"
"Aku sangat ingin menarik rambutmu."
DASAR BODOH YULI KEIRA! KAU ADALAH MANUSIA YANG PALING BODOH!
KENAPA KAU MENGATAKANNYA DENGAN SANGAT JUJUR, TANPA ADA KATA PENGANTAR DULU!
Aku mengumpat dalam hati. Menyesali ucapanku. Terlebih saat Jimin menaikan sebelah alisnya, mulai heran dengan maksud ucapanku. Namun, aku benar-benar tak tahan apalagi saat kulihat rambut jatuhnya berantakan. Bahkan Jimin sampai-sampainya menyapu bagian depan keningnya hingga ke belakang sampai keningnya terlihat jelas.
"Kau ingin rambutku?" tanya Jimin masih belum paham. sampai akhirnya di detik kelima, dia tiba-tiba tersenyum. "Ah, ini pasti ke ingin anak kita."
"Aku benci kau!" hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku benci karena tebakannya benar.
Jimin terkekeh dan menunduk, menyangga kedua tangannya di antara kedua tubuhku. Dia mendekatkan kepalanya padaku.
Sial.
Sial.
Sial.
"Argh." Jimin sampai meringis kesakitan dan memejamkan mata.
Namun, aku seperti tidak bisa berhenti. Aku malah menariknya lebih keras lagi, mungkin ini juga karena bercampur dengan kesalahanku padanya akan apa yang telah dia lakukan. Jadi, aku hilang kendali dan tak peduli seberapa merah wajah Jimin saat ini karena menahan sakit.
"Keira______ah..." Jimin sedikit memohon. Lalu, membuka matanya perlahan menatapku sedih. "Bolehkah di Jedah sebentar? Aku akan menyuntik diriku dengan bius dan kau bisa sekalian memutilasiku saja." Jimin tampak sangat putus asa.
Mungkin, dia tidak mengira akan menarik rambutnya sekuat itu sampai seakan kulit kepalanya nyaris lepas. Aku lalu mengendorkan jeratanku pada rambut Jimin. Lalu, menurunkan tanganku. "Kalau begitu pergi saja sana sekalian!"
Aku merasa masih belum puas. Jimin menatapku putus asa. Dia memegangi kepalanya sejenak. "Jangan seperti itu. Baiklah, kita mengambil jalan tengah. Kau boleh menjambakku, tapi ketika aku berteriak keras, kau harus melonggarkannya? Bagaimana?"
Aku tidak menjawab, lebih tepatnya aku bingung akan menjawab apa. kami masih sering berhadapan. Jimin tersenyum tipis, menuntut tanganku lagi ke rambutnya. "Ayo, tidak apa-apa. Aku percaya anak kita tak akan menyakiti ayahnya." ucap Jimin lembut.
Pada akhirnya, keinginan sialanku ini benar-benar mengandalkanku. Aku mulai menarik rambut Jimin.
"Ah__ahh...."Jimin bersuara lirih.
Aku seketika berhenti.
"Kenapa kau mendesah?" perotesku pada Jimin yang akhirnya justru terlihat menikmati.
"Ah? tidak, itu sedang meringis, kesakitan tapi masih bisa di tahan. Ayo, lakukan lagi." Jimin mendekatkan kepalanya lagi kepadaku.
"Tidak mau, sudah cukup. Aku ingin tidur."
Meskipun sebenernya aku masih belum cukup. Jimin menghela napas kecewa dan memaksa tanganku lagi untuk diarahkan ke rambutnya lagi. "Baiklah, kau boleh menari rambutku sekeras mungkin. Bahkan kalau perlu sampai rambutku rontok semua. Aku tidak apa-apa serius."
"Hah?".
Jimin menyeringai. "Kau boleh menarik rambutku sekeras mungkin, asalkan kau bisa menahan ini."
"Menahan apa?" tanyaku bingung.
"Tarik saja dulu rambutku dan coba hentikan aku." tatapannya. Maka tanpa membuang waktu aku langsung menarik rambutnya sekeras mungkin.
Jimin menahan teriakannya, setelah itu aku tak menyangka bahwa tangannya yang lain justru berhasil menaikkan baju tidurku sampai ke atas hingga melewati dada. Aku terbelalak karena sadar tidak menggunakan bra.
Tanpa bisa dicegah, Jimin menunduk menenggelamkan dirinya di dadaku. Dia memberikan sentuhan gila lewat mulut dan lidahnya yang sangat kurang ajar.
Benar saja aku langsung berteriak dan semakin keras menarik rambutnya. "JIMIN SIALAN_AAA!"
Sayangnya, teriakanku tak menghentikan apa pun malah menjadi bensin bagi api yang dinyalakan malam ini.
Jimin, sebenernya kau ini makhluk apa?!