Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 62


Aku terkadang masih sulit percaya bahwa aku bisa bertahan. Bahkan setelah satu bulan dari kejadian itu, aku masih bisa bertahan di rumah ini. Tinggal satu atap dengan orang yang sangat kubenci.


Namun, untungnya, selama satu bulan itu juga, aku tidak pernah lagi tidur satu kamar dengan Jimin. Dia sangat jarang menginap di rumah. Dia seperti kembali menjadi Jimin seperti saat awal kembali menikah. Sibuk dengan perkerjaanya.


Jimin menjadi lebih sering menginap di kantornya, semakin ambisius dan bahkan jarang mengajakku bicara. Jimin juga takkan menghubungiku jika tidak berhubungan dengan kandunganku. Rasanya, rumah tangga ini benar-benar sudah kehilangan harapannya.


Aku sempat berpikir, apakah Jimin marah padaku karena perkataanku tempo hari? Apa semua sikapnya ini adalah bentuk dari kesakitannya? Kenapa aku sekarang memikirkan itu? Bukankah aku memang tidak ingin melihat Jimin sama sekali?


Jimin juga sudah tidak melarangku untuk keluar rumah asalkan aku tetap berada dalam pengawasan alias tetap bersedia untuk diantar sopir pribadi dan diikuti oleh beberapa orang kepercayaannya dari jauh. Jimin tidak mengatakan ini langsung padaku, tapi pada Seungbi Ahjumma.


Namun, jika keluar dalam pengawasan, rasanya tetap tidak akan nyaman. Aku seperti tidak punya privasi sama sekali. Padahal, aku sudah berencana untuk menghubungi dan bertemu Nam untuk menanyakan beberapa hal. Rasanya, itu sangat sulit terealisasi dalam waktu dekat ini. Aku membuang napas, meletakan kembali lip balm ke atas meja. Aku menatap pantulan diriku lagi di kaca, memperhatikan penampilan hari ini.


Cukup rapi.


Aku lalu berdiri, memperhatikan penampilan. Sudah lama sekali aku tidak memakai rok di atas lutut dengan sweater kebesaran seperti ini. Rasanya seperti kembali ke masa SMA. Namun, agar tidak terlihat terlalu remaja, aku memadukannya dengan sepatu hak rendah dan juga tas dengan model yang cukup feminim.


Aku tidak punya pilihan selain memakai sweater agar perutku tidak terlalu kentara. Sudah empat bulan lebih atau bahkan hampir mendekati lima bulan. Tidak terasa. Selain itu, aku juga merasa nyaman dan mungkin hari ini harus mulai membeli pakaian yang lebih pas untuk kehamilanku. Dress atau mungkin sweater lagi.


Merasa semuanya sudah rapi dan sesuai, aku memakai Coat untuk melindungi tubuhku dari udara dingin dan ke luar kamar.


"Apakah sopirnya sudah siap?" tanyaku pada Seungbi Ahjumma yang kutemui saat aku keluar kamar.


"Apa? Kenapa? bukanya aku sudah berpesan sejak tadi pagi." Protesku, baru kali ini aku di buat sekesal ini, masalahnya aku sudah sangat siap.


"Karena aku yang akan mengantarmu."


Aku langsung menoleh melihat Jimin yang masih rapih dengan pakaian kantornya, ini padahal masih siang dan tidak mungkin perkerjaannya selesai secepat ini. Lagi pula, Jimin juga mulai jarang di rumah belakangan ini.


Kenapa dia sekarang muncul lagi?


Merusak mood saja.


Aku menghela napas. "Aku tidak perlu di antar olehmu."


Kau akan memeriksa kandunganmu kan? Dia juga anakku, aku berhak untuk tahu." Jimin menatapku aga dingin sepertinya benar, dia sedang marah padaku. Namun, kalau dia marah kenapa tidak menjauh? Kenapa malah perhatian?


Oh, kandunganku. Bukan karena masih perhatian denganku, melainkan ada sesuatu yang sangat dia inginkan dariku.


Aku jadi merasa menyesal mengapa mengatakan pada Seungbi Ahjumma bahwa aku akan pergi untuk mengecek kandunganku. Seharusnya aku bilang saja ingin pergi ke mal. Aku lupa Seungbi Ahjumma akan selalu mengabari Jimin jika aku ingin keluar rumah.


Karena tidak ingin melanjutkan pendebatan, aku akhirnya memutar bola mata malas, membuang napas kasar, lalu melangkah duluan. Tidak ada yang bisa melawan Jimin kalau sudah seperti ini.