
Jari-jari yuli saling meremas satu sama lain. Gugup melanda. Sementara terasa bagai sejam. Dokter kandung yang memeriksa yuli membantunya berdiri lagi. Dia bahkan membantu yuli memakai kembali alas kakinya dan membawanya untuk duduk di sebelah Jimin yang sejak tadi menunggu dengan penuh harapan.
Yuli lihat dia mencatat beberapa hal setelah memeriksa yuli. Sementara, Yuli masih terus saling meremas tangan dan menunduk. Yuli takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Jimin yang melihat kegelisahannya mengambil satu tangan yuli untuk digenggam. Sial. Ini malah membuat Yuli semakin gugup. Dokter itu selesai mencatat, menatap yuli dan Jimin bergantian, yuli bisa merasakan jantungnya berdegup kencang dia yakin Jimin pun begitu.
"Usia janinnya sudah tujuh minggu. Saya ucapkan selamat," ucap Dokter itu lalu tersenyum.
Yuli langsung menoleh ke Jimin, melihat reaksinya. Ini pertama kalinya Yuli liah Jimin tampak begitu bahagia, yuli meneteskan air mata.
★★★★★
Jimin langsung melarang yuli untuk memasak dan memutuskan makan di luar. Sebenernya, Yuli kecewa mengingat bahwa dia sudah belanja segalanya. Namun, Yuli tidak mau membantah, Yuli tidak mau merusak hari Jimin.
Mereka makan malam di restoran dan pulang pukul sembilan malam. Jimin langsung menyuruh yuli untuk membersihkan badan dan setelahnya tidur agar dia cukup beristirahat. Yuli tidak melawan karena kekenyangan dan lelah, ditambah seharian agak pusing.
Jimin sibuk dengan Ipad-nya. Namun, kali ini dia duduk di samping Yuli, menjaganya. Yuli terlalu lelah sehingga tidak sempat meminta maaf karena membuatnya marah. Padahal, yuli juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun dengan baik. Yuli tertidur selama beberapa saat sampai akhirnya terbangun. Jimin masih duduk bersandar di punggung ranjang. "Oppa..." panggil yuli lirih.
"Hmm. Kau terbangun?" Jimin menatapnya kaget menyadari bahwa Yuli terbangun. "Apa kau pusing lagi?"
Yuli menggeleng. Yuli tidak tahu apa yang dia rasakan dan dia inginkan. Semuanya terasa begitu aneh. Apalagi saat Jimin menatap yuli khawatir. Tiba-tiba saja yuli merasa takut tanpa dia tahu penyebabnya. Yuli menangis secara mendadak.
Jimin langsung meletakkan Ipad-nya di atas meja, lalu sedikit berbaring untuk mengusap yuli. "Hei, kau kenapa? Mana yang sakit? Apa kau ingin sesuatu?"
Yuli menggeleng samar. Mungkin, Yuli hanya merasa kecewa karena gagal membuat kejutan untuk Jimin. Atau, barangkali karena sempat membuat Jimin kesal. Mungkinkah Yuli menangis hanya terharu? Atau, takut karena saat ini dia punya tanggung jawab baru sebagai calon ibu? Yuli takut kelak tidak bisa menjaga dan mengurus anaknya dengan baik.
Jimin memeluk Yuli, memberikannya ketenangan seperti biasanya hingga yuli berhenti menangis.
Jimin menghembuskan napas. "Jangan pernah berhubungan dengan keluargaku yang lain lagi tanpa pengawasaku. Kau hanya boleh dekat denganku dan ibuku. Mengerti?" Akhirnya Jimin mengatakan ini. Yuli lebih suka Jimin seperti ini. Jika dia sudah memberi peringatan, setidaknya, yuli tahu seberapa kuatnya larangan itu.
Yuli mendongak, menatap Jimin. "Tapi, kenapa?"
Jimin terdiam sebentar dan menjilat bibir bawahnya. "Untuk seungwu? Tiga alasan."
"Tiga?" Yuli mengerutkan kening.
Jimin mengangguk. "Pertama, dia tampan dan lebih tinggi dariku. Aku tidak suka istriku dekat dengannya, aku cemburu. Sejak dulu, dia selalu iri padaku."
Yuli nyaris tak percaya Jimin mengatakan itu.
"Kedua, aku tidak menyukai semua saudara tiriku. Apalagi seungwu, aku membencinya." Berarti, seungwu benar, Jimin membencinya. "Tapi, kenapa?" tanya Yuli.
Jimin tersenyum tipis. "Alasan ketiga, aku membencinya karena...."
"Kenapa?"
Jimin menatap Yuli serius. "Karena, dia salah satu anggota dari kelompok itu. Dia, gila, Yuli. Dan, dia belum sembuh. Jangan dekat dengannya."
Detik itu juga Yuli melongo.