Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 6


saat pertama kali berdua mata yuli terbuka, yang dia temukan adalah wajah Jimin yang terlihat begitu tenang. kedua mata Jimin memejam, bibir sensualnya tertutup, deru napasnya teratur, sebagian rambut hitamnya sedikit berantakan karena posisi bantalnya kurang pas. Jimin menetapi janjinya kalau dia akan ada di sisinya saat yuli bangun tidur.


Yuli menarik senyum tak kentara di tengah nyawanya yang masih belum terkumpul. Menghela napas sejenak, aku memberanikan diri mengulurkan tangan untuk memperbaiki posisi bantal Jimin. Aku sedikit menarik bantalnya agar kepala Jimin bisa berbaring dengan sempurna pada posisi yang seharusnya.


Namun, yuli tidak menyangka gerakan yang dia pikir sudah sangat hati-hati ini justru membuat mata jimin bergetar. Dengan segera yuli berniat menjauhkan tangan, tetapi tertahan oleh tangan Jimin yang tiba-tiba sudah menahan tangan yuli.


Jimin kini membuka matanya dan yuli terlihat gugup setengah mati. "Ma-maaf, aku hanya ingin"


"Selamat pagi...," ucap Jimin dengan suara serak khas orang yang masih sangat mengantuk dan membuat yuli terkejut.


Jimin masih sempat-sempatnya menarik senyum."Oppa, maaf. aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu, aku_" ucapan yuli terputus ketika Jimin meletakkan tangan yuli di pipinya yang sangat dingin dan lembut dengan tiba-tiba.


"Tanggung jawab," gumam jimin seperti setengah tertidur.


"Hah?"


"Tidurkan aku kembali, Yuli." pinta Jimin dengan sedikit manja. Yuli menahan geli pada perutnya. Karena merasanya aneh melihat Jimin bersikap seperti ini. Di sisi lain, dia juga bingung harus berkata apa. "Bagaimana caranya membuat Oppa tidur lagi?"


"Buat apa pun yang menurutmu bisa membuatku tenang." Yuli merasa semakin kesini, kenapa jadi seperti menantang?


Yuli berpikir selama beberapa detik, sebelum akhirnya menggerakkan tangannya di pipi Jimin. itu adalah ide yang paling standar. Dia mengusap pipi hingga ke bagian kepala Jimin dengan sangat berhati-hati.


Jimin sesekali membuka matanya yang masih sayu. sesekali juga dia menarik senyum, itu membuat yuli menjadi percaya diri karena artinya dia menikmatinya. Yuli senang saat melihat jimin kembali memejam dan kali ini tidak membuka mata lagi. Embusan napasnya mulai tentang dan lebih teratur.


Yuli baru tahu, Jimin adalah orang yang mudah terbangun. Jimin memang tidak salah memilih rumah yang jauh dari keramaian kota seperti ini, Jimin punya telinga yang sensitif.


kalau begini, yuli jadi khawatir terhadap pola tidurnya. seharusnya jimin bisa mendapatkan tidur tanpa interupsi.


Yuli tidak terlalu pandai memasak. Dia juga jarang sarapan. Menurut yuli sarapan kadang hanya membuat sakit perut dan sangat menggangu ketika dia punya kelas pagi. Jadi, dia lebih suka kenyang karena air di pagi hari daripada kenyang karena makanan tetapi harus izin ke toilet saat kelas berlangsung.


Untungnya, Minggu ini yuli belum masuk kuliah. Jimin belum mengizinkannya. mungkin, Minggu depan. padahal, yuli merasa tidak bisa menunda tugas akhirnya lebih lama. Dia ingin cepat-cepat lulus dan masuk ke dunia kerja.


Kampus menjadi tempat yang agak aneh bagi yuli semenjak Gojung mulai masuk ke klub fotografi tahun lalu. Gojung jadi punya beberapa kenalan mahasiswa yang berbondong-bondong meminta nomor ponsel yuli. Dia bukannya tidak ingin memberi nomornya, tetapi menurut yuli cara mereka payah.


Yuli benci mereka yang ingin berkenalan, tetapi harus lewat perantara. Dia lebih suka lelaki seperti Jimin. Jimin sangat nyata, serius dan langsung tertuju pada yuli. itu yang membuat yuli sangat tertarik pada Jimin. Jimin selalu bisa menciptakan atmosfer yang nyaman di antara mereka.


kadang, yuli juga bertanya dalam hati, sebenernya siapa yang beruntung karena telah saling menemukan antara yuli atau Jimin?


"Kau membiarkan aku tidur hingga pukul sembilan pagi..."Suara Jimin membuat yuli menoleh.


Yuli sedang menyiapkan beberapa roti panggang setidaknya dia cukup bisa membuat itu. "Kamu butuh tidur "


Yuli berjalan membawa nampan yang berisikan beberapa potong roti siap makan di depannya. jimin baru selesai mandi, rambutnya setengah basah.