Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 16


Sudah lebih dari seminggu berlalu yuli tidak pergi ke mana-mana. Dia tetap di sini bersama Jimin. Mereka juga tetap tidur di kamar yang sama, tapi interaksinya cukup berbeda.


Pada hari pertama setelah yuli mengucapkan bahwa mereka hanyalah partner, Jimin masih mencoba untuk menunjukkan rasa bersalahnya tanpa mau menjelaskan hal lain pada yuli. Namun, yuli yang sangat keras kepala akan tetap melakukan Jimin seperti partner saja, tida ada perhatian, tidak ada pertanyaan kapan dia akan pulang.


Yuli benar-benar membuat sebuah dinding yang membelah dunia diantara mereka. Jimin dan dunianya, yuli dan dunianya. Cukup menyiksa bagi yuli, mungkin juga bagi Jimin. Namun, Yuli akan melihat, sampai kapan ini akan bertahan.


"Hari ini kau tidak ke kampus?" tanya Jimin dengan agak canggung, sementara itu yuli sedang duduk di depannya setelah selesai menyiapkan sarapan sederhana. Walaupun Yuli sedang kesal tapi dia tidak melupakan kewajibannya, hanya saja ini tidak selepas dulu lagi yang begitu dekat dan penuh obrolan yang menyenangkan.


"Tidak," jawab yuli dingin.


"Apa kita bisa pergi berdua hari ini?" tanya Jimin dengan berhati-hati.


"Aku sedang tidak ingin ke mana-mana." yuli menjawab tanpa melihat wajah Jimin.


"Sebentar saja, Yuli."


"Kau kan sibuk. Sebaiknya, kau gunakan waktunya untuk mengejar seluruh targetmu daripada membuangnya bersamaku yang tidak berarti."


"Yuli_"


"Jimin, ini tidak akan berhasil." Yuli menyela. Jimin pasti tidak mengerti bahwa yuli tidak akan pernah berubah jika dia tidak mau menjelaskan apa yang ingin Yuli dengar.


Tatapan orang yang sangat marah, lebih tepatnya, hilang batas kesabaran. Dan yuli berusaha untuk tetap tenang dengan hal ini.


"Apa kau tidak bisa menghargaiku?" Jimin yang marah.


Yuli menelan ludah samar. "Jika, aku tidak menghargaimu, aku sudah tidak akan tinggal di sini lagi."


"Oh, begitu? Kalau begitu pergilah. Apa yang kau tunggu?"


Yuli tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari seorang park Jimin. Yuli masih mencerna kalimat itu, Jimin semakin menatap Yuli dengan tajam.


"Percuma kau tinggal di sini jika kau tak bisa menghargai semua kebaikanku." Jimin menarik napas. "Aku sudah melakukan sejuta kebaikan kepadamu. Aku memperlakukanmu dengan lembut. Aku berusaha menjadi versi diriku yang terbaik di depanmu. Aku bahkan memperhatikanmu di sela-sela kesibukanku dan kau harusnya tidak melupakan fakta bahwa aku mau menikah denganmu dengan cepat demi kesehatanmu. Padahal, seharusnya kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal."


Jimin mengucapkannya tanpa jeda, sangat cepat, secepat hati yuli yang kini hancur berkeping-keping dari setiap kata yang jimin ucapkan membuta Yuli ingin sekali tumbang. yuli merasa kehilangan seluruh tenaganya, bahkan sampai sendok yang dia pegang terlepas dari tangannya


Bernapas menjadi sulit bagi yuli untuk saat ini. Sesak melanda, semakin sesak lagi saat yuli memberanikan menatap wajah Jimin dan berkata, "Jadi, benar? Itu semua karena gim?" tanya yuli dengan hati yang paling sakit.


"Jika itu yang kau yakini, teruslah pada keyakinanmu." Jimin sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.


Jimin malah berdiri dan pergi begitu saja. Dia tak mengatakan apa pun lagi. Dia benar-benar pergi dengan membanting pintu. Meninggalkannya sendirian dengan semua kehancuran ini.