Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 29


Yuli akan melupakan rasa sakit yang dia rasakan setelah Jimin merasakan banyak makanan untuk mereka. Sebenernya tidak terlalu enak, tapi karena yuli lapar dan supnya hangat rasanya begitu nikmat.


Jangan tanya kenapa yuli tidak ikut memasak! ini semua salah Jimin. Dia membuat yuli nyaris tidak bisa berjalan akibat yang mereka lakukan di kamar mandi, yuli ingin memakinya jika saja tidak langsung meminta maaf saat yuli menangis kesakitan.


Mungkin rasanya seperti pertama kali melakukannya dan itu pastin sakit sekali, yuli tidak tahu salahnya di mana. Apakah karena terlalu brutal, posisi yang tidak pernah sama sekali mereka coba atau justru karena intensitasnya yang tidak lebih satu kali. Yuli tidak tahu apa yang terjadi dengan jimin? Dia melakukan hal itu seolah itu adalah satu-satunya hal terkahir yang bisa dia lakukan sebelum mati. Kalau saja yuli tidak menangis, mungkin masih akan ada satu babak lagi.


Namun, semuanya berakhir dengan Jimin yang membantu yuli mandi dan bahkan mencarikan pakaian. Sepanjang itu, jimin terus mengecup kening yuli dan meminta maaf padanya. Pada akhirnya, jimin juga membawakan makan ke kamar dan menemani yuli. Mereka makan berdua, entah ini romantis atau justru menyebalkan.


Sialnya, yuli terlalu mencintai jimin. Bagaimana bisa yuli tidak memaafkannya? Apalagi, jimin telah menebus semuanya dengan susah payah memasak dengan bahan-bahan yang jimin beli di pasar sendirian. Jimin harus berjalan kaki jauh dan mengangkat semua belanjaan itu seorang diri.


Salah sendiri, siapa yang memiliki tempat terpencil?! apa dia benar-benar setakut itu jika yuli akan kabur setelah mendengar semuanya? Memang kebenaran seperti apa? Yuli sendiri sudah membayangkan hal terburuk yang akan jimin ucapkan, tapi belum sama sekali tak membuat yuli ingin kabur.


Mungkin karena yuli punya keyakinan bahwa jimin mencintainya atau mungkin yuli yang mencintainya? Entahlah.


Jimin mendekati yuli yang masih duduk di ranjang sambil membaca buku tentang tumor dan kanker yang belakangan semakin sering dibaca. Yuli semakin tertarik untuk bergabung dalam gerakan melawan kanker, jadi yuli harus tahu lebih banyak hal.


"Aku sudah merasa lebih baik. jangan dibahas dan ditanya lagi." yuli mengembangkan pipi. "Dan, lain kali aku tidak mau di kamar mandi lagi."


Jimin terkekeh. "Baiklah, lain kali di dapur, bagaimana?"


Yuli langsung mengambil bantal dan mendorongnya ke wajah Jimin. Jimin tertawa sebentar sampai akhirnya berdiri, menjauh dari ranjang melepas kausnya yang setengah basah dan memamerkan tubuh berototnya. Yuli kembali mengarahkan buku yang di pengang di depan wajah, meskipun sudut mata yuli tetap mengawasinya. Yuli sampai tahu jimin sedang menuju koper, memilih pakaian selama beberapa saat hingga akhirnya mendapatkan sebuah singlet hitam polos. Bahkan, saat memakainya jimin terlihat sangat keran.


Setelah itu, Jimin berjalan menuju meja untuk mengambil Ipad-nya, lalu yuli lihat dia duduk di sebuah sofa dan mulai serius menatap benda itu. Pandangan ini sangat tidak asing, kalau sudah seperti itu. Jimin pasti sedang fokus dengan perkerjaanya.


Yuli menghela napas kecewa dan mulai membaca lagi. Berharap Jimin tidak melupakan janjinya untuk mengatakan semuanya pada yuli malam ini, meskipun sebenernya dia juga sudah malas menagih. lebih tepatnya, yuli tidak ingin berdebat di saat dia tidak bisa lari untuk menjauhi jimin. Yuli jadi curiga, jimin memang sengaja membuatnya tidak bisa berjalan lewat aktivitas bercinta mereka agar yuli benar-benar tidak bisa lari ke mana pun.