
Ada banyak hal di dalam kepala Yuli dan itu semua sangat menyakitkan untuk terus di pendam sendiri. Orang-orang hanya berkata bahwa mereka bisa merasakan posisi Yuli, tapi itu tak bisa mengurangi siksaan ini sama sekali.
Banyak hal yang Yuli khawatirkan belakangan ini. Terlalu banyak sampai Yuli sendiri sendiri tak mampu menceritakannya. Salah satunya seperti saat ini, ketika Yuli dengar perdebatan hebat dari ruangan tempat Yuli di rawat.
Ayah Jimin datang ke sini bersama istrinya dan paman Yuli tidak mengizinkan mereka masuk. Padahal ini sudah yang kedua kalinya mereka datang, tapi entah kenapa kali ini penuh perdebatan. Kali ini, ayahnya seperti begitu memaksa.
Kepala Yuli terasa begitu sakit mendengarnya, Yuli hanya ingin pertengkaran hebat di luar sana segera berakhir. Meski sebenernya Yuli juga tidak mau lagi bertemu dengan keluarga Jimin, lebih tepatnya, Yuli takut tak sanggup menahan air mata.
Jika, pada akhirnya Yuli mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang Yuli miliki. Yuli turun dari bangkar dengan berhati-hati, lalu membuka pintu perlahan. Bersamaan dengan itu, mereka semua langsung terdiam melihat Yuli.
"Ki-kita seharusnya tidak seperti ini," ucap Yuli dengan sedikit gemetar.
Yuli menatap mereka satu-persatu, menunjukkan kesedihan Yuli karena melihat dua keluarga yang berdebat tanpa mau saling mengalah. Lalu, saat itu juga paman Yuli menghela napas panjang dan berkata," Baiklah, kalian kubolehkan untuk berbicara dengan keponakanku. tapi jangan pernah memohon untuk memintanya bertemu dengan anak kalian itu!" Paman Yuli menatap tajam pada ayah kandung Jimin berserta istri mudanya.
Pada akhirnya, Yuli duduk di bangkar dan mereka. Tuan Park dan nyonya Eunjung berdiri di dekat Yuli.
"Bagaimana keadaanmu dan cucuku?" tanya tuan park membuka percakapan.
"Kami lebih baik dari kemarin," jawab Yuli dengan wajah datar. Yuli bahkan tak mampu melihat wajah yang sedikit mirip dengan Jimin.
"Kami menyesal dengan semua yang terjadi. kamu pasti sangat membenci Jimin karena keputusannya," ucap Nyonya Eunjung mencoba peduli.
Yuli tersenyum tipis. "Yeah, itu mungkin sudah menjadi pilihan Jimin. Kita tahu bahwa dia begitu keras, kan?" Senyum tipis Yuli sebenernya gagal menyembunyikan kesedihannya.
"Kami tahu di mana dia sekarang?"
"Hmm, tidak perlu memberi tahuku. Dia juga pasti sudah tidak mengenalku."
"Sebenarnya, Yuli. Dia masih mengalami koma karena serum itu sulit bekerja untuknya. Tubuh Jimin melawannya, tapi sesuai dengan wasiatnya, mereka akan tetap melakukan proses kedua jika percobaan pertama gagal."
"Oh."
"Ah, Jimin adalah anak pertamaku dengan Rose. Kemampuan mengingat Jimin itu sebenarnya menurun dari Rose. Mereka adalah orang yang cerdas, tapi kami tidak pernah menyangka bahwa daya ingat Jimin terlalu kuat hingga sulit mengendalikannya. Jimin bisa membenci satu orang seumur hidup hanya karena satu kesalahan.
Karena itu akan terus teringat dan membekas untuknya. Dan sayangnya dia membenciku karena kesalahanku."
"Tapi, bohong jika aku tak peduli padanya. Diam-diam aku selalu membantunya mainan meski selalu atas nama ibunya, aku juga masih membantunya masuk ke sekolah yang dia mau, aku terus mendukungnya meski tak pernah tahu. Dan, aku juga selalu berusaha menutupi skandal yang sebenarnya beberapa kali hampir menimpanya." Dia sebenernya sesosok ayah yang baik untuk Jimin. Dia terdengar tulus saat menjelaskannya.
"Itulah mengapa Seungwu sangat iri." Nyonya Eunjung menyahut.