Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 20


"Kalau begitu kita ke dokter saja, ya?" Tanya Yuli pada Jimin.


"Ah, sial, tangannya yang cukup dingin untuk di tempelkan di pipiku." pikiran jimin


"Aku hanya demam biasa dan mungkin sedikit radang," ucap Jimin sambil tersenyum, entah itu menertawakan kepanikan Yuli yang berlebihan atau mencoba merayunya.


Yuli menggigit bibir bawah. "Kalau begitu perlu obat. Tapi, aku tidak tahu obatnya," perkataan Yuli yang dengan sangat jujur dan dalam keadaan panik.


Entah mengapa Jimin malah tertawa. Dalam keadaan sakit seperti ini, dia masih menertawakan Yuli yang panik. "Oppa!"


Yuli yang tadinya khawatir jadi kesal sendiri. karena Jimin masih terkekeh pelan, lalu lelaki itu mencoba berdiri sendiri. Dia sedikit meringis karena mungkin merasa nyeri di seluruh persendiannya.


Yuli membantu jimin agar bisa bangun dalam posisi duduk. Dia tidak menyangka saat mereka berdua saling berhadapan, Jimin malah mengusap salah satu sisi kepala Yuli.


"Kau menyiapkan sarapan kan pagi ini?" tanya Jimin, meskipun dengan mata yang masih menyipit, rambut yang berantakan dan wajah yang pucat. Sialnya, dia masih terlihat sangat tampak dan seksi.


"Aku baru selesai menatanya di meja."


"Baiklah. Aku minta tolong, bawakan saja kesini. Setelah itu, ambil kotak obat yang ada di lemari kecil kedua dekat kulkas. Di sana ada kotak obat. Bawa saja ke sini kotaknya, nanti aku akan pilih sendiri," Ucap Jimin dengan lembut seperti meminta tolong kepada seorang dewi.


"Ada lagi?" tanya Yuli.


Jimin tampak berpikir. "Hmm, sebenernya ada, tapi tidak bisa."


"Hah? memangnya apa?"


"Menciummu. Aku tidak bisa karena sedang sakit, nanti kau tertular."


hal yang ada di pikiran yuli. "Jimin sialan, saat sakit pun dia masih saja menggoda."


Dan akhirnya yuli terpaksa membatalkan janji bersama temannya dan tetap berada di rumah. Jimin sedang sakit dan yuli tidak mungkin meninggalkannya, Jimin terlalu lelah. Dia masih saja terus berkerja tanpa mengukur waktu.


Bahkan tadi siang, setelah selesai minum obat dan panasnya mulai turun, Jimin bahkan berniat untuk ke kantor karena katanya ada rabat penting. Namun, kalau bukan yuli yang lebih tegas melarangnya dan mengancam akan mendiamkannya lagi, lelaki itu akan tetap pergi.


Jimin jadi lebih sensitif dengan ancaman yuli sejak dia pergi meninggalkan rumah kemarin. Apa sebegitu takutnya jimin dengan kepergian yuli?


Malam ini, yuli baru selesai mencuci piring. Tepat saat dia sedang mengeringkan tangannya di serbet, ponselnya yang ada di atas meja makan tiba-tiba saja berbunyi. Ada sebuah pesan masuk.


dia mengernyitkan kening karena nomornya tidak dikenal. Namun, karena penasaran Yuli tetap membukanya.


*Apa kau merindukan orang tuamu?*


yuli tidak tahu pasti apa yang dia pikirkan saat dia mendapatkan pesan ini. apa yuli Terkejut? Tidak juga. Ini mungkin saja dari seseorang yang di kenal. seperti Sepupunya? paman? bibi? atau siapa pun yang mungkin belum di simpan nomornya. Namun, jika itu memang mereka, anehnya kenapa langsung menanyakan hal itu? yuli pun mengetik pesan balasan.


*Maaf ini siapa?*


dia tidak perlu menunggu lama karena lima detik berikutnya, ponselnya berbunyi lagi.


*Orang baik yang akan mempertemukanmu dengan orang tuamu.*


Kali ini yuli baru terkejut. dia bahkan nyaris menjatuhkan ponselnya saat membacanya, tetapi dia mencoba tenang. Sesegera mungkin yuli menarik napas panjang.


Dia memilih untuk mematikan ponselnya setelah nomor itu diblokir. yuli melangkah masuk ke kamar, melihat Jimin yang sudah tertidur lelap dengan posisi miring. Dia sudah semakin membaik hingga malam ini.