Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 98


Rumah sakit yang mereka datangi bahkan bisa di bilang bukan seperti rumah sakit pada umumnya. Ini seperti tempat pengobatan ilegal yang sangat tertutup. Kata Seungwu, pendiri rumah sakit dan dokter-dokter di sini adalah sekumpulan orang yang punya otak kelewat cerdas dan menyukai eksperimen gila.


Itu mengapa, di sini mereka menciptakan serum-serum aneh seperti serum penghapus ingatan dan sejenisnya. Yuli memeluk anaknya yang sedang tertidur lelap. Mereka masih melewati lorong-lorong dengan pencahayaan reduh, sampai akhirnya berakhir di sebuah pintu kaca dengan penerangan lebih baik.


Jantung Yuli berdegup kencang ketika Seungwu mendorong kursi Yuli untuk masuk. Ternyata di dalamnya ada sebuah ruangan berdinding kaca bening.


Seungwu mendorong kursi roda Yuli untuk lebih dekat lagi hingga Yuli bisa melihat dengan jelas siapa yang tengah duduk di bangkar dengan kepala yang menunduk.


"Kita hanya melihatnya dari sini. Dia jadi lebih sensitif dan agak depresi karena tidak tahu siapa dirinya. Kondisi fisiknya cepat menurun jika terlalu dipaksa untuk beradaptasi langsung dengan orang lain," Ucap Seungwu di dekat telinga Yuli.


Sementara, kini satu telapak tangan Yuli sudah menyentuh kaca, berusaha membela sosok jimin yang tengah memakai baju serba putih. Dia sangat berantakan. Yuli melihat banyak bekas luka di tangan dan di kakinya.


"Apa yang terjadi?" tanya yuli saat melihat luka-luka pada tubuh Jimin, bahkan pipinya juga ada bekas goresan.


"Dia menyakiti dirinya. Mencakar dirinya sendiri saat gagal mengingat siapa dirinya. Aneh." Seungwu menghela napas.


"Dia dulu sangat ingin menghapus ingatannya, sekarang saat itu berhasil, dia malah kebingungan mencari tahu siapa dirinya." Entah itu terdengar menertawakan atau perihatin.


Yuli menghela napas. "Apa aku tidak bisa berbicara dengannya? Kenapa dia selalu diam dan menunduk?"


Yuli sedikit tak yakin untuk menjawab, tapi Seungwu sudah lebih dulu menjalankan tangannya untuk mengetuk kaca tiga kali. Hal itu sukses membuat dia yang tadinya menunduk, kini menoleh.


Jantung Yuli seakan berhenti berdetak ketika Jimin menatap Yuli. Bahkan, hanya dalam hitungan detik Yuli berhasil mengeluarkan air mata ketika Yuli melihat dengan jelas kerutan pada kening Jimin. Kerutan wajah yang sudah jelas mengisyaratkan bahwa dia sedang mencoba untuk mengenali wajah Yuli.


"Dia tidak bisa mendengar suaramu, begitupun dengannya yang tak bisa mendengar suara. Kaca ini membatasi suara satu sama lain." Seungwu menjelaskan.


Yuli terkejut ketika Jimin sedikit memiringkan kepala, lalu turun dari bangkar dengan berhati-hati. Dia berjalan mendekati kaca ke arah Yuli dengan langkah yang pelan dan masih terus menatap Yuli seolah berusaha mengenali orang asing.


Jimin menyipitkan matanya lalu menyentuhkan juga telapak tangannya pada jendela kaca. Dia mengalihkan pandangannya ke bayi yang ada dalam gendongan Yuli. Jimin menatap bayi nya dan itu membuat Yuli menangis karena bibir Jimin justru bergerak seakan berkata.


"Siapa?"


Detik itu juga air mata yuli mengalir deras, Jimin menatap Yuli lagi yang sedang menangis. Dia tampak kebingungan dan heran. Lalu, tangannya yang menyentuh kaca diseret perlahan agar sejajar dengan tangan Yuli hingga mereka berdua sejajar. Jimin sedikit membungkuk. Dia menatap Yuli serius, lalu bibirnya bergerak berkata.


"Siapa kamu?"


Detik itu juga yuli menangis sehebat-hebatnya. Yuli menutup mulut dengan satu tangan untuk meredamnya. Hati Yuli terasa tercabik-cabik menemukan kenyataan ini. Jimin sudah benar-benar tidak mengenal Yuli.