Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 51


Ini seperti sebuah kode atau identitas dalam permainan itu. Jimin tidak pernah mau menjelaskan permainan detailnya ada yuli. Setiap kali yuli bertanya, dia hanya akan bilang bahwa yuli tidak perlu tahu dan dia selalu meminta agar yuli percaya bahwa dia bisa menyelesaikan semuanya.


Rasa penasaran yuli membuat tangannya bergerak untuk menyentuh ponsel itu. Yuli membukanya dengan berhati-hati, tak peduli dengan suara kunci cadangan yang digunakan Jimin untuk membuka pintu kamar ini.


Yuli mengusap layarnya dengan berhati-hati, lalu melihat dan membaca isi pesannya. Yuli mencoba memahami selama beberapa detik sampai akhirnya tenggorokannya seakan tersekat. Yuli sontak menutup mulut dengan telapak tangan. Ponsel itu masih berada di tangan Yuli, baru terlepas tepat ketika Jimin berhasil membuka pintu kamarnya.


"Yuli!"


Jimin tampak terkejut melihat Yuli yang sudah bercucuran air mata, Jimin lebih terkejut saat dia menyadari bahwa Yuli baru saja memegang ponselnya. Seperti tersengat listrik, Jimin langsung mendekati Yuli dan mengambil ponselnya.


"Kau membaca isi pesanku?!" bentakan Jimin seakan menandakan bahwa yuli telah melakukan kesalahan besar.


Yuli menatap Jimin tak percaya dengan air mata yang mengalir deras. "Jimin...." Saat yuli sudah memanggil namanya, itu artinya yuli sangat marah padanya. "Kenapa?" tanya yuli dengan rasa sesak yang menghantam dada.


Mendadak, semuanya terasa begitu nyeri, tak hanya di kepala tapi juga di jantung. Sakit, sangat sakit. Tulang dada Yuli seolah menyempit hingga rasanya sangat sulit sekali untuk menarik napas. Yuli menatap Jimin dengan tatapan kecewa yang luar biasa. Kini raut wajah Jimin berusaha menjadi panik, Jimin belum tahu apa yang yuli baca. Namun, mungkin sekarang dia sudah bisa menebak.


Yuli menangis lagi dan spontan menepis tangan Jimin yang hendak menyentuh wajah yuli. "Kenapa Jimin, kenapa kau tega?" Yuli bertanya lagi, dengan memekik. Yuli tak percaya Jimin bisa melakukan itu.


"Yuli, dengar_"


Yuli menatap Jimin tajam. "Jika ini permainanmu, kenapa kau tidak menanggung semuanya sendiri?! Jika taruhannya nyawa, kenapa bukan nyawamu saja?! Kenapa kamu tega mempertaruhkan nyawaku?!"


Suara tangisan Yuli pecah dalam kehancurannya. Isi pesan itu kembali terngiang di kepalanya. Yuli bahkan menghafal susunan kalimatnya.


Sanksi: Denda


Sisa taruhan:Range Rover, sebuah vila, seluruh saham, dan nyawa Target : Kim Yuli Keira.}


Ya, itu benar. Jimin memasukkan Yuli ke dalam taruhannya. Jimin pernah bilang, jika dia gagal, maka yuli tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Ternyata, itu adalah kata lain dari: Karena Kim Yuli Keira akan mati.


★★★★★


Bisakah membayangkan perasaan yuli saat ini?


Hancur.


Ini sama dahsyatnya atau bahkan lebih pedih dari pada saat Yuli mendengar kabar bahwa orang tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat. Setidaknya, hari itu begitu banyak yang memberi yuli kekuatan. Yuli dikelilingi oleh keluarga dan teman-temannya. Ibu dan ayah Yuli juga masih sempat menghabiskan liburan terakhir bersama yuli sebelum ternyata mereka benar-benar pergi meninggalkannya.


Namun hari ini, kenyataan tentang Jimin menghancurkannya. Yuli tak punya siapa-siapa lagi. Tak ada yang memeluk yuli dan meredakan tangisannya, tak ada yang mampu memberikan yuli ketenangan. Yuki tidak punya ponsel untuk menghubungi siapa pun, Yuli tak bisa ke mana-mana karena Jimin tak membiarkannya untuk melangkah meninggalkan kamar.


Jimin bahkan frustrasi karena yuli tak berharap menangis, dia marah karena yuli terus menutup telinga dan mata sambil menggeleng saat jimin memintanya untuk mendengarkan atau sekadar menatapnya. Sejak kemarin malam, Yuli jadi kacau. Pada akhirnya, Jimin menyerah dan pergi meninggalkan Yuli sambil menjebak rambutnya serta menendang pintu. Yuli juga mendengar suara mobilnya yang pergi meninggalkan rumah.


Yuli lega dia tidak lagi memaksa yuli mengetahui dia pergi. Jadi, yuli bisa punya waktu untuk dirinya sendiri. Benar-benar sendiri. Seungbi Ahjumma yang ingin masuk pun Yuli larang untuk mendekat. Yuli sedang tidak ingin menceritakannya, terlebih pada Seungbi Ahjumma yang tidak tahu apa-apa.