Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 67


Nam juga ikut diam, lebih mirip sepeti orang prihatin tapi sebelah alisnya terangkat. "Keira..." Aku tidak menjawab, hanya menatap ke monitor menunggunya untuk berbicara. Nam menarik napas, lalu menatapku serius.


"Kurasa, park Jimin benar-benar sangat mencintaimu."


Keningku spontan mengerut mendengarkan kalimat itu. Apa? Apa aku tidak salah dengan?


"Apa maksudmu? Jika di mencintaiku, dia tidak mungkin memasukkanku ke dalam permainannya."


Nam menggeleng. "Taruhan yang terakhir bukan berasal dari keinginan pemainnya. Itu pengajuan dari lawannya. Jika Jimin adalah P013 dan mendapat pesan dari P014 sebagai pengingat, maka kurasa yang menjadi musuh Jimin adalah P012. Karena P012 yang bertugas untuk mengusik pemain yang sedang menjalankan misi, sedangkan P014 sebagai pelindung."


Aku mulai bingung dengan penjelasan ini. Aku harus berkonsentrasi dengan mengingat bahwa Jimin adalah P013.


Nam lalu menjelaskan lagi. "Jika begini, pada akhirnya mereka semua akan berlomba-lomba untuk menyelesaikan tugas masing-masing. Jimin akan menyelesaikan seluruh misinya, sedangkan P012 akan terus berusaha untuk menggagalkan misi P013 karena itu adalah tugasnya. Lalu, si pelindung P014 akan selalu menawarkan perlindungan untuk P013 karena jika dia berhasil, dia akan mendapatkan apa pun yang telah dipertaruhkan oleh P013. Tapi, P013 selalu berhak menolak penawaran bantuan dari P014 karena jika dia menerima bantuan tertinggi, sama saja P013atau Jimin menang dari misi tapi tetap kehilangan semua apa yang telah dia pertaruhkan untuk membayar si pelindung P014."


Kepalaku mendadak pening. Angka-angka sialan itu membuatku bingung. "Lalu, apa yang akan P012 jika dia berhasil menggagalkan misi dari Jimin____ah maksudku P013?"


"Dia yang akan mengambil apa yang dipertaruhkan Jimin, satu persatu, termaksud nyawamu."


Aku menelan ludah. "Lalu apa hubungannya Jimin yang benar-benar mencintaiku dan taruhan ini?"


Aku masih tidak mengerti, meski dia bilang itu bukan keinginan Jimin untuk mempertaruhkan nyawaku.


"Berdasarkan informasi yang kudapat, taruhan tertinggi memanglah nyawa dan itu sudah seperti menjadi kewajiban dan harus nyawa orang yang paling berarti dalam hidup si pemain." Nam mengucapkan itu setelah ia membaca lagi catatannya.


"Ya, kira-kira seperti itu. Bukankah itu artinya Jimin memang menganggapmu sangat berarti dalam hidupnya?"


Aku memejamkan mata, menggeleng lagi. "Jika aku memang berarti dalam hidupnya, kenapa dia menyepakati hal itu saat dia tahu aku dimasukkan ke dalam taruhannya itu?!"


Nam menarik napas. "Itu karena suamimu mungkin sudah terlanjur masuk ke dalamnya sehingga tidak bisa keluar. Mereka selalu punya kesepakatan di awal. Entahlah, atau Jimin punya alasan lain untuk menyetujuinya. Untuk yang satu ini, aku masih belum jelas, aku akan menanyakannya ini pagi besok." Nam menutup buku catatannya.


Kini keningku mengerut lagi. "Menanyakan? Menanyakan pada siapa?"


"Seseorang yang pernah bermain permainan ini."


"Apa?! Jadi, kau pernah bertemu orang yang pernah menjalani ini? Bisa kau bantu aku menemui orang itu? Aku ingin sekali bertanya langsung?!" Mendadak, aku sangat bersemangat.


Namun, malah Nam yang kini agak ragu. "K-kau yakin ingin menemuinya?"


"Tentu, tolong bantu aku."


Nam tampak menimbang. sepertinya ada sesuatu yang membuatnya ragu. Namun, saat menatapku yang benar-benar memohon, akhirnya Nam mengangguk. "Baiklah, nanti akan kupikirkan caranya. Aku juga harus memikirkan bagaimana ini tidak ketahuan, mungkin aku memberitahu lewat Gojung lagi." Dia tersenyum menenangkanku.


"Terima kasih, kau sangat baik padaku. Sekali lagi terima kasih." Aku menunduk ke Nam.


Nam terlihat salah tingkah dan menggaruk belakang kepalanya. "Ah, iya sama-sama. Aku senang membantumu, ini juga jadi menambah pengetahuanku."


"Kau memang orang baik, aku berutang banyak padamu."


"Tidak perlu seperti itu, kau juga orang baik Keira." Dia tersenyum. "istirahatlah, ini sudah sangat larut. Sampaikan salamku untuk calon bayimu," ucapnya tulus.


entah mengapa itu membuatku tersentuh. Aku lalu mengangguk dan melambai, dia pun demikian, sebelum akhirnya kami mengakhiri panggilan video itu.