Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 43


Yuli mengikuti arah suara yang ternyata berasal dari sebuah ruangan dengan kaca transparan yang terisi oleh alat-alat gym. Ini adalah tempat gym pribadi Jimin. Dokter Rosa bilang, Jimin sudah jarang berolahraga setelah perkerjaanya semakin bertambah. Sejak menikah, aku juga tak pernah melihat Jimin menginjakan kakinya di ruangan ini. Ini pertama kalinya yuli melihat Jimin sedang mengangkat barbel di kedua tangannya bergantian.


Yuli melipat tangannya, bersandar di pintu. Jimin belum menyadari kehadiran yuli sampai akhirnya dia berdeham, membuat Jimin menatap yuli dan tersenyum, lalu Jimin meletakan dua barbel ke atas lantai.


"Kebetulan sekali kau datang," tubuh penuh keringat yang berlapiskan singlet tipis itu menghampiri Yuli.


Tanpa permisi tangannya yang basa karena keringat itu menyentuh lengan Yuli, membawanya kesebuah matras setipis karpet.


"Berbaringlah di sana," perintah Jimin.


"Oppa?" Yuli tidak mengerti.


Jimin menarik senyum. "Lakukan saja, aku butuh bantuanmu." Kalimat Jimin itu bagai hipnotis bagi yuli perlahan berbaring dengan posisi lurus.


Jimin membantu memperbaiki posisinya. "Lebarkan sedikit kakimu."


"Hah?"


Jimin menuntut kedua kakinya agar sedikit terbuka, lalu duduk di depan yuli dan memajukan tubuh Jimin. Perlahan dia memposisikan tubuhnya di atas yuli, kedua tangannya tegap luruh menyangga tubuhnya. Yuli merasa nafasknya berderu tak beraturan ketika wajah Jimin yang penuh keringat itu berhadapan dengan Yuli, Jimin juga terlihat mengatur napas.


Yuli menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan posisi tubuh Jimin. Ternyata benar, Jimin seperti orang yang ingin melakukan push up. Yuli menatap Jimin lagi, dia malah tersenyum jahil.


"Kau yang menghitung." ucap Jimin singkat.


Yuli tak sempat berucap ketika Jimin menurunkan badannya sekaligus mendaratkan bibirnya di bibir yuli. Dia tersentak saat tubuh Jimin terangkat lagi.


"Oppa!" protes Yuli kesal.


Jimin terkekeh. "Biar aku semangat," Dia menurunkan tubuhnya lagi, lalu mencium Yuli.


Yuli membulatkan mata karena Jimin tidak memberinya waktu untuk bicara lagi. Jimin melakukan itu terus sampai sepuluh kali, sampai dia tersengal-sengal sendiri. Pasti dia sangat lelah, keringatnya berjatuhan di wajah. Dia bahkan belum istirahat setelah mengantar barbel tadi, Yuli jadi merasa aneh.


Kenapa Jimin terlihat ambisius? Yuli menahan dada Jimin yang akan turun lagi untuk menciumnya. 


"Oppa ada apa?!" Yuli sedikit memekik hingga dia mematung, mereka berdua sama-sama mengatur napas. Tak peduli seberapa banyak keringat Jimin yang hampir ke tubuh yuli, yuli menyentuh sebelah pipinya menatap Jimin khawatir.


"Ada apa?" suara Yuli melebar.


"I-iya?"


"Apa tubuhku tidak sempurna untukmu?"


Yuli terkejut mendengarnya. pertanyaan macam apa itu? Yuli mengerutkan kening. Sungguh tak bisa mencerna maksud dari pertamanya itu.


"Apa yang Oppa katakan? Kenapa bertanya seperti itu?" Aku semakin khawatir dan bingung. Aku mengarahkan satu tanganku lagi untuk menyentuh pipinya. "Ada apa sebenernya?"


Jimin menggeleng samar. "Tidak. Kau pasti akan meninggalkanku jika tubuhku tidak bagus. Kau pasti akan memilih lelaki yang lebih tinggi. Kau pasti akan memilih lelaki yang berbentuk dan _"


"Oppa itu tidak benar." Yuli akhirnya membentak. "Kenapa berpikir seperti itu?! Aku mencintaimu kamu adalah kamu. Tak peduli seperti apa fisikmu." Yuli tak percaya bahwa Yuli menyakinkan Jimin akan hal ini.


Jimin menggeleng lagi. "kamu bohong."


"Apa?"


"Ya, kamu bohong, yuli. Jika kamu menyukaiku apa adanya, kenapa kamu tidak memelukku semalam?"


Aku melongo. "Heh? Apa?"


"Katakan kenapa kau tidak merapatkan tubuhmu padaku saat aku melepas


 pakaianku? kenapa kau bisa diam saja?"


Yuli masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Jadi semalam, Jimin melepas pakaiannya karena berharap agar yuli memeluknya? Yuli hanya berpikir dia kepanasan.


Jimin hanya menatap yuli yang sedang bingung. Tatapannya menajam menuntut jawaban. "Kenapa? kenapa kau tidak tertarik? itu pasti karena tubuhku kurang bagus untukmu kan?"


Oh, jadi ini alasan Jimin pergi keruang gym? Dia ingin membentuk badannya? Sial. Apa-apa ini? Bagaimana sebenarnya cara kerja otak lelaki yang super pinter ini?.


"Kenapa cepat menyimpulkan hal itu hanya karena aku tak memelukmu, Oppa?" tanya yuli akhirnya.


"Karena semua yang tidur bersamaku, pasti akan memeluk ketika aku membu-"


Jimin tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat tatapan tajam yuli. Yuli benci sekali mendengar kalimat itu. Sangat benci. Jimin menyadari bahwa dia telah kelepasan berbicara. tangan Jimin berniat untuk menyentuh pipi yuli. Namun, Yuli lebih dulu mendorong tubuhnya menjauh. Lalu, dengan cepat aku berdiri dan meninggalkan Jimin yang mungkin masi menyesali ucapannya.