
Yuli masih tidak percaya bahwa mereka masak bersama. Bukan hanya karena itu, yang membuat dirinya heran adalah sosok Jimin yang terlihat rajin tersenyum dan tertawa hari ini. Sepertinya tadi saat jimin tidak sengaja memecahkan telur dan menjatuhkan cangkangnya juga kedalam wadah, dia tertawa keras.
Yuli juga ikut tertawa, tapi ini menjadi aneh. Jimin seperti bukan Jimin yang yuli kenal. Apakah dia benar-benar park Jimin? suaminya yang dia sayang?
Karena kecurigaan yuli yang mengganjal itu, dia sampai melakukan hal gila ini. Yuli tidak pernah sama sekali berani mendekati Jimin lebih dulu, tapi ini demi memastikan apakah dia benar Jimin suaminya atau orang yang berada.
"Oppa," panggil yuli pelan.
Saat ini mereka berdua sedang menonton film fantasi dan Jimin tampak serius memakan kentang gorengnya. "Hmm?" tanya Jimin tanpa melirik karena sedang serius menonton TV.
Yuli heran, ini aneh, biasanya jam seperti ini jimin akan bergelut dengan laptopnya untuk mengurus gimnya. "Ada sesuatu di belakang lehermu,"
Sontak, Jimin meletakan kentangnya di atas meja, lalu mengusap leher dengan kedua tangannya. "Di mana? Ada apa?"
Yuli pura-pura menyipitkan mata. "Bukan-bukan di situ, sini biar aku lihat." Tanpa aba-aba, yuli mendekatinya yang sedang duduk. yuli sangat gemas sejak tadi hingga tak bisa menunggu lama untuk menyuruhnya berbalik. Dia malah langsung duduk ke atas pangkuan jimin, lalu memajukan kepala-nya untuk melihat leher bagian belakang jimin.
Yuli bisa merasakan Jimin menegang ketika dengan agresif mengangkat belakang rambutnya dengan telapak tangan yuli hingga kini kepalanya bergerak condong melewati bahu kanan yuli. Yuli langsung menggunakan kesempatan itu untuk mencari sesuatu di sana. Sebuah tanda lahir, titik kecil hitam tepat di cekungan belakang kepala Jimin.
"Su-sudah ke-ketemu?" tanya Jimin yang sedikit tergagap. Mungkin, dia masih terkejut dengan aksi ekstrem yuli.
Yuli bisa merasakan dirinya membuang napas lega yang begitu berlebihan ketika dia berhasil menemukan tanda itu. Yuli bahkan memegangnya untuk memastikan itu asli.
"Sudah. sudah hilang, kukira tadi serangga ternyata bukan," tipu yuli sembari berusaha mengatur degup jantung.
Yuli harus segera kembali ke tempatnya sebelum pikiran Jimin semakin melanglang jauh menyadari posisi mereka berdua sekarang ini yang sangat intens. Namun, sepertinya yuli terlambat karena saat dia menjauhkan diri dan ingin pergi, Jimin justru menahan yuli.
"Apa yang terjadi padamu?" kedua tangan Jimin menahan pinggang yuli yang ramping.
Sial, tatapan Jimin mulai curiga. Yuli menggigit bibir bawah. Berbohong sebentar bukan bakatnya, apalagi kalau sudah bertatap muka.
"Aku tadi hanya_"
"Kenapa kau memeriksa tanda lahirku?" tanya Jimin dengan nada menusuk.
Sial. Jelas jimin sadar ketika yuli mengangkat rambut dan memegang tanda lahirnya. Yuli mengutuki kebodohan dirinya. Jimin semakin menatap yuli penuh tuntutan, tangannya di pinggang yuli kini saling menyatu, membuat setengah lingkaran agar bisa menariknya lebih dekat dengannya. Tenggorokan yuli tersekat.
Bukan hanya kerena tatapan tajam jimin, melainkan karena yuli merasakan aura seorang park Jimin yang sesungguhnya telah hadir lagi. "Lihat dan jawab aku, Yuli..." Jimin menyentuh dagunya, mengarahkan wajah yuli agar menatapnya dengan baik.
Yuli menarik napas. "Aku hanya merasa kau berbeda hari ini, aku hanya memastikan bahwa kau adalah park Jimin, suamiku. Itu konyol.....Maaf, Oppa." yuli sudah kehilangan harga dirinya sendiri.
Jimin terkekeh pelan. Sudah yuli duga akan seperti ini. jimin lalu mengambil kedua tangan yuli untuk menyentuh pipi lembutnya. "Ini, kau pegang saja sepuasmu jika kau masih ragu aku bukan park Jimin. Barang kali kau berpikir aku orang asing yang sedang memakai topeng kulit?"
Yuli membuang napas menyesal, dia terlalu paranoid karena pernikahan-nya sendiri. Mungkin ini efek karena perasaan mengganjal yang ada dalam pernikahan ini. "Aku minta maaf, Oppa"
Mendadak, yuli merasa begitu sedih. Dia menunduk dan rasa sakit entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja menghantam relung hari yuli.