Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 36


Matahari di siang hari terasa begitu hangat untuk daerah dataran tinggi seperti ini. Ini hari yang menyenangkan dan sangat langkah. Bisa dibilang, ini pertama kalinya yuli menghabiskan waktu sesantai ini dengan Jimin semenjak mereka menikah. Pada saat masa pendekatan pun, sangat jarang menghabiskan waktu berdua di tempat khusu. Kebanyakan di kafe tak lebih dari jam delapan malam dengan alasan masih banyak yang harus dia kerjakan.


Jimin membawa yuli kesebuah tempat dimana banyak penangkaran berbagai jenis tanaman hias, termaksud di dalamnya bunga-bunga yang indah. Yuli sedang mengabadikan gambar saat Jimin sedang mengobrol dengan pemilik penangkaran ini. Mereka terlihat seperti sedang reuni. Yuli rasa, bapak tua itu sedang berterima kasih pada Jimin karena telah membuat tempat ini jadi semakin di lirik untuk tujuan wisata setelah gim yang diluncurkan Jimin melejit karena menggunakan latar tempat yang mirip dengan lokasi ini.


Yuli melihat sekumpulan bunga yang berwarna lebih mencolek di sebuah area. Dia ingin ke sana tapi saat melangkah, Jimin memanggilnya. Ketika menoleh, yuli terkejut bukan main saat dia menyodorkan seikat bunga mawar putih untuk Yuli.


"Untuk istriku yang cantik."


Yuli tersipu malu. Mungkin, bunga itu diberikan oleh pemilik tempat ini karena Yuli lihat dari jauh bapak tua itu tersenyum melihat ke arah mereka berdua.


"Terima kasih," ucap Yuli singkat. Rasanya dia bahagia, ini kebahagiaan yang baru.


Yuli terlalu serius dan bahagia dengan bunga yang Yuli pengang dia selalu suka saat Jimin memberikan bunga. Yuli bahkan tak sadar saat Jimin mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol untuk memotret secara tiba-tiba. Yuli hanya menatapnya protes, meminta di ulang, tapi sepertinya Jimin sudah puas dengan hasil bidikan yang sebenarnya. Jadi dia memasukkan ponselnya, lalu mengajak yuli lagi ke area yang tadi ingin Yuli datangi.


Di area ini banyak bunga dengan berbagai jenis. mereka semua tumbuh subur, kebanyakan bunga mawar dengan corak warna yang beragam. Yuli sampai betah menyentuhkan ujung jarinya pada kelopak-kelopak cantik mereka.


"Oppa, ini seperti mimpi," ucap Yuli tiba-tiba, mungkin karena terlalu senang.


"Mimpi?" tanya Jimin sambil menatap yuli.


Yuli mengangguk. "Menghabiskan waktu bersama, berdua. Ini seperti bulan madu yang sempat kamu bilang bahwa mungkin kita tak bisa melakukannya tahun ini," kenang yuli kembali. Jimin pernah mengatakan itu saat ia akan menjadi CEO.


"Aku?kenapa aku?"


Jimin menaikan kedua bahunya samar. "Entahlah, kamu memang mengubah banyak hal dalam hidupku." Jimin menangkup kedua pipi yuli, menatapnya gemas. "Kenapa kau tidak muncul saja dari dulu?"


Yuli memanyunkan mulutnya. "Iya, seharusnya aku muncul dari dulu. Agar Oppa tidak tidur dengan wanita lain," sindir yuli memasang wajah sedikit kesal.


Yuli diam sebagai bentuk jawaban, dia terkadang memang masih kesal. Apalagi setelah Jimin menceritakan seluruh wanita yang pernah dekat dengannya, beberapa di antaranya adalah model dan wanita karier yang wajahnya sering muncul di majalah. Yuli yang mahasiswa ini bisa apa! Jimin menyadari kemurungan yuli, lalu melayangkan kecupan singkat di kening yuli tanpa permisi. Perlahan, dia menarik yuli ke dalam pelukannya yang jauh lebih hangat dari sinar mentari.


"Percayalah, Yuli. Aku tidak bisa melihat wanita lain lagi selain dirimu." Pelukan Jimin kian hangat, seolah tak malu dengan beberapa orang yang mungkin memperhatikan mereka.


Yuli masih membisu selama beberapa saat, keningnya berkerut ketika indera penciuman yuli mencium sesuatu yang seketika membuat yuli pusing. Sontak, Yuli mendorong pelan tubuh Jimin.


"Kenapa?" tanya Jimin, bukan protes tapi lebih ke arah khawatir saat melihat Yuli.


"Oppa...." Yuli menatap Jimin sebentar. "Kamu pakai parfum apa? Aku pusing." Yuli memegang kepalanya


Jimin lalu mencium bajunya. "Ah? Aku pakai parfum biasannya, kenapa?" Jimin memastikan dirinya tidak ada bau yang salah.


Yuli menggeleng, entah kenapa saat dipeluk tadi berdekatan dengan Jimin, yuli sudah merasa aga pusing. Yuli pikir karena aroma ragam bunga dari tempat ini, jadi yuli mengabaikannya. Namun saat Jimin memeluk yuli, dia sadar rasa pusing itu semakin nyata dan itu berasal dari aroma parfum Jimin.


"Entahlah...." Yuli memegang kepalanya yang mendadak terasa semakin sakit.


Yuli mundur karena takut akan semakin pusing. " Jangan dekat-dekat dulu."


Jimin menghentikan langkah kecewa. "Ada apa denganmu?" tanya jimin dengan nada khawatir. Mungkin, karena melihat yuli semakin kacau.


Yuli menatap Jimin sejenak. "Ayo pulang, Oppa. Aku masih bisa berjalan. Tapi, Oppa berjalan lima mater di belakangku, ya?"


"Yuli? Sungguh" Jimin ingin protes, tapi mungkin karena melihat yuli memohon, akhirnya dia menghela napas. "Baiklah, kita pulang."