Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 46


Namun, tetap saja. Yuli masih merasa menggigil. Ini adalah hari kedua Yuli mengalami demam. Sejak dua Minggu lalu melihat gambar menakutkan yang membangkitkan trauma Yuli itu di ponselnya, Yuli jadi sering memikirkannya. Yuli jadi mudah takut, namun dia tak menyangka jika ini juga akan berpengaruh pada kesehatannya.


 Perhatian Yuli terlihat ketika dia dengar suara pintu yang dibuka. Jimin dengan penampilannya yang baru pulang kerja menjadi pusat pandangan Yuli saat ini. Kemeja yang Jimin kenakan tidak lagi rapi, dasinya melonggar, jasanya tersampir acak di lengannya sebelum di lempar sembarangan. Lengan bajunya sedikit tergulung ke atas mendekati siku hingga urat-urat di lengannya bisa timbul seperti ingin keluar dari kulit.


Setelah menutup kembali pintu, Jimin menyingkirkan bagian depan rambutnya hingga keningnya terlihat. Dia menatap ke arah Yuli sembari menghela napas panjang. Sedikit tampak kecewa, dia berjalan ke arah Yuli. Lalu, mata Jimin melirik sesuatu yang ada di dekatnya, detik itu Yuli tersadar bahwa Jimin mempermasalahkan makanan dan obat yang masih utuh lengkap di nakas.


"Apa kau tidak ingin sembuh?" Jimin duduk di depan Yuli. Itu adalah kalimat lain dari kekecewaannya karena Yuli tak menyentuh sama sekali makanan dan obatnya, adalah sebelum Jimin pergi Yuli mengatakan bahwa dia akan menghabiskannya.


Yuli hanya terlalu lemas untuk mengunyah. Yuli juga tak tahu Jimin akan pulang secepat ini, dia lebih banyak tidur hingga tak menyadari waktu berlalu sementara Yuli belum menyentuh makanannya.


"Aku akan memakannya sekarang," ucap Yuli lemas, masih sambil menggigil.


Jimin menggeleng. "Tidak, aku akan suruh seungbi Ahjumma untuk membuatkan yang baru. Ini sudah dingin dan kurasa tidak segar lagi."


Jimin bahkan diam-diam menyewa dua orang keamanan yang rutin mengawasi area rumah. Meskipun Jimin mengelak akan hal itu, karena menghindari protes dari Yuli yang pastinya akan mengatakan padanya bahwa ini berlebihan. Namun, Yuli sudah tahu karena sering melihat orang suruhan Jimin mengawasi rumah setidaknya tidak kali sehari, entah hanya lewat mobil atau pura-pura menjadi orang yang tak sengaja lewat depan rumah mereka.


Setelah Jimin memberikan makanan ke Yuli  sebelumya kepada seungbi Ahjumma dan memberi perintah untuk membuat yang baru, Jimin kembali pada Yuli.


Jimin mengambil segelas air mineral yang ada di meja. "Ini, minumlah dulu, kau harus banyak minum di saat demam seperti ini. Cairan itu penting, agar tidak dehidrasi."


Jimin berbicara seperti ibunya. Yuli perlahan mengeluarkan tangan dari dalam selimut dan mengambil gelas itu, tapi rasanya tangan Yuli mendadak seperti kehilangan tulang. Jimin menyadari hal itu dan sebelum Yuli menyentuh gelas itu, Jimin sudah berinisiatif untuk menurunkan tangan Yuli.


 Dia memajukan tubuh Yuli. "Biar kubantu," ucapnya sebelum mengarahkan gelas itu ke bibir kering Yuli.


Yuli meminumnya dengan berhati-hati. Jimin juga sangat lembut dalam membuntuti minum. Satu tangannya bahkan bergerak mengusap kepala Yuli selama Yuli meneguk. Yuli sudah merasa cukup untuk menelan, Jimin menjauhkan gelas itu dari mulutnya dengan berhati-hati. Setelah Jimin meletakan gelas itu kembali, sejenak mereka bertatapan. Yuli melihatnya begitu lelah atau lebih tepatnya seperti orang yang putus asa. Jimin sedih melihat Yuli seperti ini, mungkin Jimin sudah menyerah untuk berusaha membuat Yuli melupakan isi gambar itu, tapi jika Jimin tahu rasanya menjadi Yuli, dia pasti tak akan terus memaksa Yuli untuk melupakan semua itu. Seolah itu semua hanyalah sebuah sensasi ketika memasuki wahana rumah hantu yang rasa takut Yuli akan berangsur hilang setelah keluar dari sana.