Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 64


Jadi sebenernya Jimin mencintaiku atau tidak?


Aku memutar pertanyaan itu di kepalaku.


Terus menerus, mulai sejak keluar dari ruangan dokter sampai saat ini dalam mobil yang entah berjalan menuju ke mana.


Aku dan Jimin tidak saling berbicara lagi, seperti saat kami berangkat tadi. Jika saat berangkat tadi kami diam seperti sedang berusaha mencerna sesuatu yang entah apa objeknya.


Aku tidak tahu pasti apa yang dipikirkan Jimin. Setelah kejadian kami sama-sama menangis karena tahu jenis kelamin calon anak kami, rasanya sungguh aneh sekarang.


Aku tidak bilang telah mengibarkan bendera perdamaian untuk peperanganku dengan Jimin. Namun, entah mengapa, aku kehilangan amarahku sekarang. Mungkin hanya sementara, meski harus kuakui bahwa aku mulai memikirkan beberapa hal dengan lebih tenang.


Beberapa menit larut dalam hening, aku akhirnya memfokuskan pandanganku pada amplop berukuran sedang yang aku pegang. Amplop ini kudapat setelah pemeriksaan tadi. Aku melihat isinya. Ada beberapa lembut kertas hasil pemeriksaan dan dua lembar foto hitam-putih seukuran telapak tangan dalamnya.


Aku mengambil dua lembar foto yang menampakkan hasil UGD pertamaku. Aku memandanginya lama, merasakan hatiku menghangat saat melihatnya. Jari-jariku bahkan spontan membelai pinggiran fotonya dengan sangat berhati-hati. Dua sudut bibirku sedikit tertarik ke atas, menciptakan sebuah senyum tipis yang begitu tulus.


Sakin seriusnya, aku bahkan tak sadar bahwa mobil ini berhenti karena lampu merah. Aku mungkin juga tidak sadar seseorang yang tengah menginjak rem mobil dan memegang roda kemudi itu tengah mencoba padaku.


"Aku juga ingin melihatnya."


Barulah aku tersadar saat suara Jimin terdengar. Aku menoleh ke samping, baru menyadari sekarang tengah lampu merah dan sebenernya tanganku tidak refleks menyodorkan foto itu. Jimin yang mengambil dua lembar foto itu dari tanganku. Aku tidak keberatan.


Jimin melihat dua lembar foto itu dengan kedua tangan yang disandarkan juga pada roda kemudi. jimin menatapnya antusias. Bahkan, ekspresinya lebih bahagia dariku. Jika aku hanya tersenyum tipis, Jimin bahkan tersenyum hingga giginya terlihat.


Dia seperti seorang pelajar yang melihat nilai A pada hasil ujiannya. Jimin bahkan terus menatapnya, sampai sebuah klakson terdengar, membuyarkan perasaannya. Jimin lalu menoleh ke depan, menyadari bahwa lampu sudah berubah jadi hijau.


Jimin lalu mengembalikan satu lembar foto untukku. Lalu, satunya lagi dia letakkan di dekat roda kembali.


Tidak tahu harus berbicara apa, aku hanya diam merasa semua tindakannya semakin membuatku bingung. Sebenarnya, Jimin ini brengsek atau terlewat baik? Licik atau sebenarnya tulus tapi bodoh?


Dia seolah mencoba menjadi sosok yang paling tenang dan dewasa di saat-saat aku begitu ingin dia benar-benar botak. Dia mengakui tindakan terkutuknya dalam menyeretku ke dalam permainannya, tapi di sisi lain juga mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Dia membuktikan semua itu dari setiap perlakuan yang memang terasa begitu tulus. Namun, apa dia benar-benar sedang tidak bersandiwara lagi?


.


"Kita ke mana setelah ini?" tanyanya membuyarkan lamunanku, satu tangannya mengendalikan roda kemudi, lalu tangan yang lain sedang mengatur suhu mobil yang mungkin terlalu dingin.


Sepertinya, dia melihatku tadi sempat mengusap kedua lenganku.


Ya Robbi, Keira! Jangan GR! Dia itu memang pandai mencari celah karena dia sudah pernah berkencan dengan banyak wanita! Dia sudah berpengalaman. Jangan mudah luluh!


"Tidak ke mana-mana, pulang saja." jawabku tetap datar.


Padahal, sebenernya kalau berangkat sama sopir aku akan mampir ke mal untuk membeli pakaian baru. Namun, kalau bersama jimin? Rasanya bukan ide yang bagus dan bukan sesuatu yang kuinginkan untuk saat ini. Jadi, lebih baik pulang saja.


Kudengar Jimin menghembuskan nafas. "Bukanya kau bilang pada Seungbi Ahjumma bahwa kau juga ingin membeli sesuatu?"


Sial, aku lupa.dia itu manusia serba tahu, aku menelan ludah. "Tidak jadi, aku ingin pu__"


"Kita pergi ke mal untuk membeli pakaian baru dan sepatu yang nyaman untukmu," ucapnya tegas.


Oh, tentu saja. Si manusia super peka. Ah, haruskah aku melalui aktivitas itu dengannya? Canggung sekali.