
"Aku masih memikirkan foto yang dikirimkan ke ponselku hari itu. Maksudnya, bagaimana bisa?"
Yuli menatap Myura dan Gojung bergantian. Hari ini mereka berdua datang menemui yuli. Jujur, yuli sangat senang. Myura bilang Jimin meneleponnya dan menyuruhnya untuk datang. Ah, rasanya sulit mempercayai itu.
"Memangnya foto apa?" tanya Gojung penasaran.
Yuli menahan napas. "Itu foto jasad kedua orangtuaku."
Yuli memejam sejenak mengingat hal menggembirakan itu. "Kalian tahu kan? Orangtuaku meningal dalam kecelakaan pesawat. Bahkan, paman dan bibi sama sekali tak pernah membiarkanku melihat jasadnya. tapi, foto itu...." Rasanya begitu nyeri saat membayangkan kembali.
Kondisi jasad kedua orangtua yuli sangat mengerihkah. Yuli bahkan baru bisa mengenali foto itu saat melihat pakaian mereka saja, selebihnya_ah, tidak. Yuli merasa sesak. Yuli merasa begitu sedih dan terluka karena membayangkan kesakitan yang orang tuanya rasakan menuju detik-detik kecelakaan itu, ketakutan mereka dan berakhirnya seluruh hidup mereka lewat cara yang mengenaskan.
"Yuli, jangan di ingat lagi." Myura mendekatinya, lalu mengusap punggung hingga bahu Yuli.
Yuli menggeleng menarik napas, menyerap kekuatan yang sebenernya entah Yuli dapatkan dari mana. Yuli harus kuat. Yuli tidak boleh lemah karena itu.
"Aku hanya tidak mengerti bagaimana bisa? Padahal, foto-foto seperti itu harusnya sudah menjadi arsif pihak penyelidik dan tidak mungkin di sebarkan atau didapat sembarangan." Yuli mencoba berpikir lagi.
"Gojung-ah." panggil Yuli tiba-tiba.
"Apa?" Gojung heran melihat tatapan Yuli.
"Apa kau juga bermain gim?" tanya Yuli sedikit mengecilkan suara sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Jimin ada di sini. Dia sedang makan siang atau mungkin membaca buku. Padahal, seharusnya Jimin berkerja. Yuli tidak tahu apakan Jimin sedang meliburkan diri atau tidak, Yuli bingung. Yuli tidak mau memikirkannya karena hanya membuat naik darah.
"Jungkook siapa?" tanya Myura bingung.
"Temanku."
"Tampan tidak? Boleh kenalkan padaku?" Myura tersenyum antusias.
"Dia baru melihat jempol kakimu saja pasti sudah muntah duluan." Gojung terkekeh.
Satu lempar bantal sofa dari Myura berhasil di hindari Gojung. "Awas kamu, iya!"
Yuli berdehem. "Kalian ini jangan bertengkar, aku nanti semakin pusing." Yuli memijat pelipisnya, lalu menarik napas panjang.
Yuli menatap Gojung lagi. "Jadi, seberapa gilanya Jungkook tentang dunia gim?"
Gojung tampak berpikir mengingat, menakar lagi sebelum menjawab pertanyaan tentang sosok Jungkook. "Kurasa dia sudah sangat jauh. dia bisa jadi Jungkook yang berbeda ketika membicarakan soal gim. Jungkook seorang fotografer dan seorang gema sangat lah berbeda. Gim seperti passion lainnya yang terpendam, tidak terlalu ingin dia tunjukan. Dia sangat bersemangat dengan gim sampai masuk ke dunia komunitas dan percaya atau tidak, dia cukup terkenal di komunitasnya. Entahlah, mungkin dia salah satu pemain terbaik?" Kedua bahu Gojung terangkat samar, hanya itu yang bisa ia nilai.
"Wah, menarik sekali. Cepat kenalkan dia padaku." Myura menyela.
Gojung melebarkan matanya. "Dia bisa alergi jika melihatmu."
"Ya/ kamu kurang ajar, rasakan ini." Myura menghampiri Gojung sambil memukulinya dengan bantal berkali-kali.
Yuli terkekeh melihat ulah kedua sahabatnya yang jarang bisa tenang ini. Setidaknya, kehadiran mereka di sini membuat Yuli merasa terhibur, tapi dalam tawanya, yuli tetap memikirkan sesuatu. Diam-diam yuli memikirkan tentang Jungkook. Jika Jimin tetap diam dan tak mau memberi tahu segalanya tentang permainannya dengan jelas, Yuli akan mencari tahu sendiri. Mungkin Jungkook bisa membantu Yuli untuk itu.