
"Kau tidak akan suka mendengarnya."
"Katakan saja!"
Jimin menahan napas. "Yang jelas, yang berhasil tidur denganku adalah enam orang ".
Mata yuli melebar. Jika dia bilang satu banding sepuluh, berarti sudah lebih dari enam puluh wanita. Pantas saja dia sangat unggul dalam hal bercinta. Brengsek. Yuli tidak menerka sejauh ini.
"Berarti aku yang ketujuh?"
"Delapan." koreksi Jimin. "Tantang, tapi aku bersih, sungguh. Aku selalu menggunakan pengaman. Hanya bersamamu tidak."
Yuli tidak tahu, tapi rasanya pedang raja Arthur saat ini sedang menancap di jantungnya. "Yang ketujuh?siapa?"
Jimin menggigit bibir bawahnya. "Sekretarisku."
Yuli langsung menegang. Sekretaris yang mana? setahu yuli, Jimin punya dua sekertaris, yang satu laki-laki, yang satunya lagi perempuan. Dan, yang perempuan itu, Yuli lupa namanya, yang jelas dia pernah datang ke pesta pernikahan mereka dengan seorang lelaki tampan yang Yuli pikir itu pacarnya. Dia sangat cantik. Tubuhnya bagaikan model, yuli sama sekali tidak mencurigai apapun karena Jimin dan sekretarisnya juga tak banyak berinteraksi.
Entah mengapa tusukan pedang itu semakin dalam saja di dada yuli membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata. Untuk yang satu ini, yuli tidak bisa menahan. Dia hanya menangis, tapi tak melepaskan diri dari Jimin. Yuli hanya sedih karena merasa begitu kecil, Jimin harusnya bisa mendapatkan yang lebih baik darinya untuk dia nikahi
"Maafkan aku Yuli." jimin menyandarkan kepalanya di belakang kepala yuli. "Aku sudah mencoba mengendalikannya. Dua bulan belakangan ini." Jimin memeluknya lagi. " Itu karena aku sadar bahwa sudah saatnya aku keluar dari permainan ini."
Yuli masih mengeluarkan air mata. "Permainan apa?"
"Perlu kau ketahui, kegilaanku tidak cukup sampai di sana. Sebelum kita menikah, aku sudah masuk ke sebuah kelompok yang diisi orang-orang yang sama tidak warasnya denganku, meskipun latar dan faktornya berbeda-beda."
"Sebuah kelompok ambisius, itu seperti sebuah gim. Kami membawanya ke dunia nyata. Seperti sebuah misi untuk mencapainya. Jika kalah, taruhannya bukan harta, tapi juga nyawa."
Yuli spontan memekik, tak percaya dengan yang dia dengar. Yuli berusaha melepaskan tangan jimin, tapi gagal. "APA KAU GILA?"
"Jangan sayangku, jangan pergi dulu...." Jimin tetap menahan yuli, memohon sambil terus menciumi punggung yuli, seperti orang yang kecanduan sesuatu.
Yuli merasakan degup jantungnya berdetak kencang ini gila. Dia tidak menerka sejauh ini. "Apakah itu benar? Apakah sebuah nyawa tidak berarti lagi bagimu hingga kau mempertaruhkannya?"
Jimin terdengar menyesal dan hancur. "Kau tidak mengerti, Yuli. Aku dulu sudah ingin mati, tapi aku juga menyukai tentangan. Aku gila, maafkan aku." Jimin tetap memeluknya, Yuli bisa merasakan wajah jimin menempel di punggungnya dan terasa sedikit basah di sana, sepertinya Jimin menangis.
Yuli menutup mulutnya, menggeleng tak percaya, "Ja-jadi, itu benar? Itu artinya, tentang 'Wedding season' juga?"
Yuli terluka saat Jimin mengangguk di belakang yuli. "Iya, itu benar. Aku mendapat misi untuk membuat image baru dari bisnisku. Itulah sebabnya aku membuat 'Wedding season', padahal timku terkenal dengan gim yang maskulin."
"Jadi, kau menikahi-ku untuk mendalami gim itu?"
"Pada awalnya, iya. aku ditantang untuk menyelesaikan semuanya dan harus memenangkan setidaknya tiga penghargaan dalam waktu kurang dari satu tahun. Tapi, aku bodoh dalam dunia pernikahan. Jadi, kupikir seluruh anggota timku dan diriku juga harus menjalani kehidupannya agar gimnya menjadi realistis dan mampu memenangkan penghargaan." Jimin menjelaskannya.
Yuli mencoba untuk tetap tenang. Ternyata apa yang dikatakan sahabat yuli benar, seseorang seperti Jimin tak mungkin menikahinya tanpa sebuah maksud besar .
"Kenapa harus aku? Kenapa harus aku?" Yuli merasakan tubuhnya gemetar. Air mata mengalir saling menyusul.