Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 24


Seketika, wajah protes Myura muncul. "Jadi, kita tidak jadi makan sushi bersama?" Memang, rencananya mereka akan seperti itu.


Yuli menggeleng. "Aku mendadak sangat mengantuk." lalu, dia berpura-pura menguap.


"kalau begitu, kenapa kita mengganggumu di sini?!" Gojung kesal karena dia bahkan harus absen dari rapat klub fotografinya untuk rencana makan sushi bersama.


Yuli menghampiri Gojung dan menepuk bahunya. "Maaf ya, nanti kapan-kapan aku janji akan mentraktir kalian sebuasnya."


Gojung memutar bola matanya."Ya sudah, hati-hati."


Yuli mengambil tas dan berjalan meninggalkan keramaian. Hari ini yuli ingin pulang dengan menaiki bus. Dari dulu yuli memang lebih nyaman menggunakan fasilitas umum. Sebenernya dia juga punya kendara sendiri yaitu mobil dari pemberian pamannya sebagai hadian ulang tahun yuli beberapa tahun lalu, tapi mobil itu sangat jarang di gunajan karena yuli adalah tipe orang yang suka memperhatikan apa saja yang terjadi di sekeliling-nya. Terkadang, hanya lewat bus atau kereta. Ketika menyusuri jalanan, yuli bisa melihat orang-orang yang sedang beraktivitas.


Seuol merupakan pusat kota yang cukup sibuk, orang-orang berjalan dengan langkah yang cepat di pagi hari. Yuli tahu, sebagai dari mereka punya satu tujuan dan beban dalam menjalani harinya, tapi dia juga tak jarang melihat mereka semua tersenyum di antara lelahnya melewati hari. Seluruh pemandangan itu selalu berhasil membuat yuli menjadi lebih bersyukur dengan kehidupan dirinya, itu tetapi yang baik untuk dirinya yang terkadang masih sering merasa kesepian.


...****************...


Pada akhirnya yuli sampai di rumah kira-kira 45 menit. Dia sempat menerima panggilan Skype dari dokter Rosa yang menanyakan keberadaan Jimin karena tak kunjung mengabarinya. Yuli memberi tahu Dokter Rosa bahwa Jimin sedang keluar kota.


Setelah menerima panggilan Skype itu, yuli juga baru sadar bahwa Jimin belum membalas pesan terakhirnya yang menanyakan kapan dia akan pulang. Yuli spontan menghubungi Jimin, tapi sayang ponsel Jimin mati.


Yuli baru akan menghubungi kantornya untuk mencari beberapa informasi saat suara mobil terdengar dari luar. Dia membuka tirai jendela dan melihat Jimin keluar dari sebuah taksi dengan kacamata dan kemejanya sambil menyeret koper kecil di tangan kanan.


Kaki yuli tak bisa berhenti melangkah untuk menyambutnya. Dia tak menyangka jimin akan pulang hari ini. "Oppa...." Yuli menghampirinya yang baru selesai melepas sepatu dan meletakan koper di dekat pintu.


Jimin tersenyum tipis dan mengarahkan tangannya untuk mengusap rambut yuli. "Kau terlihat segar,"


Jimin masih sangat harum. Sepertinya, dia juga belum lama mandi. Mungkin, habis mandi dia langsung pulang. Jimin membuka kacamatanya saat mereka sampai di kamar dan langsung meraih tubuh yuli ke dalam pelukannya.


"Aku rindu," ucap Jimin setelah mendaratkan satu kecupan singkat di puncak kepala yuli dengan lembut.


Yuli juga sangat rindu. Tubuh jimin sangat hangat, wangi dan menenangkan. Yuli rasanya betah menempelkan pipinya seharian di dada jimin. "Aku tidak bisa menelepon Oppa tadi, kenapa?"


Jimin sedikit mengurai pelukannya. "Ponselku hilang, sedang dicari."


Yuli terkejut. "Hah? bagaimana bisa?"


Jimin terlihat males membahasnya dan hanya menghela napas. Sepertinya dia sangat kesal kehilangan ponselnya. "Entahlah, aku lupa meletakkannya di mana."


Yuli mengerutkan kening. Tidak biasanya Jimin itu bukan tipe pelupa. Kata Dokter Rosa, Jimin itu punya ingatan yang cukup tajam, itu sebabnya Jimin bisa menjadi programmer hingga pembuatan gim. Dia mudah menghafalkan banyak kode dan rumus.


"Kau sudah makan?" Jimin mencari topil baru untuk memalingkan pembicara menginterupsi kecurigaan yuli.


Yuli menggeleng pelan. "Kau?"


Jimin juga menggelar. "Masak bersama?"


Yuli nyaris mengaga, itu tawaran yang paling aneh yang pernah dia dengar. Masak bersama? Kalimat itu seakan menggema berkali-kali dalam kepala yuli. Dan, mungkin dia akan mengaga dagunya, menyuruh yuli untuk ke dapur lebih dulu.


"Pergilah, siapkan semuanya. Aku akan ganti baju dulu, baru menyusul." Yuli tidak tahu sihir apa yang Jimin punya karena yuli langsung patuh dan pergi begitu saja.