Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episoe. 73


Yuli membuka matanya karena suara hujan yang cukup mengganggu. Sangat deras, bahkan disertai petir. Ketika yuli membuka mata dia menyaari dirinya tidak sedang berada di kamar tetapi ruang rawat.


Secepat itu yuli sadar, secepat itu pula dia teringat kembali kejadan sebelum yuli memejam. Buru-buru yuli meraba perutnya sambil menoleh ke bawa dan akhirnya bernapas lega ketika melihat perut masih utuh bentuknya seperti sebelumnya.


Yuli baru sedikit meringis ketika menyadari tangan kanannya yang ingin yuli gerakkan lagi, agaksakit karenan ada jarum infus yang mendarat di siu. Yuli melihat ekeliling, tampaknya ini sudah malam dan tidak ada orang di sini. Cahaya juga yang sudah sangat redup dan yuli benar-benar sendiri di sini. Sungguh?Sendiri?


Padahal, yuli butuh seseorang yang seti bisa kutanyai tentang apa yang terjadi?


Yuli memejamkan kembli matanya untuk meredakan kekesalan. Kenapa bisa jadi sperti ini? Blelum lama yuli memejam, dia mendengar suara pintu yang dibuka. Yuli tetap ingin menutup matanya.


Yuli sudah bisa mengenali siapa yang dapat. Dari suara hembusan napas dan kakinya melangkah. Yuli tidak mungkin salah mengenali seorang jimin.


Namun yuli benar-benar tak ingin membuka mata. Yuli ingin tetap tidur sangat tidak siap untuk menatapnya, tidak untuk saat ini. Sialnya jantung yuli berdegup kencang, apalagi saat sosok itu mendekati yuli dan menyentuh pergelangan tangannya.


"Maafkan aku," ucap jimin sambil mengusap punggung tangan yuli dengan ibu jarinya.


Jimin menarik napas. "Seharusnya kita tidak bertengkar."


Bertengkat ktnya? Itu bukan pertngkaran! Hari itu, hanyalah jiminnyudutkan yuli. Yuli tetap memejamkan matanya. Tidak yuli tidak mau melihatnya.


Lama menjeda, yuli pikir jimin akan pergi atau setidaknya menjauh untuk mencari tempat bersandar lain. Namun ternyata jimin malah naik ke bangkar ini, meski cukupluas tetap saja bangkar ini ditunjukan untuk satu orang saja dan tidak seharusnya dia berbaring di sebelah yuli dengan posisi menyamping. Lalu satu tangan jimin bergerak memeluk yuli.


Otomatis yuli berusaha bergerak mengelak masih dengan mata tertutup, tapi jimin malah mendesis di telinga yuli.


Mendengarnya membuat yuli seketika berhenti. "Au tahu kamu mendengarku, meski kamu tak ingin melihatku." jimin memperbaiki plukannya baahkan tangannya dlletakkan di atas perut yuli.


"Maafkan aku." Itu terdengar sedi. "Maafkan aku yang sudah mencoba untuk berhenti mencintaimu tapi sampai saat ini tak pernah berhasil. Mlaha aku semakin merinduhkanmu.'


Yuli semakin mengeratkan pejaman matanya, jimin memosisikan kepalanya mendekati leher yuli hingganapas hangat jimin berembus, menyentuh sisi leher yuli mengalirkan sengatan yang paling yuli benci.


"Yuli. Dengar, aku akan berhasil menyelesaikan ini. Aku hanya tinggal menunggu tantangan terakhir sebagai penutup misi dan aku melepaskan semua ini. Aku berjanji takkan ikut bermain lagi.'


Jimin mengusap perut yuli. Yuli seakan bisa merasakan jimin tersenyum di dekat leher yuli. "Dan nanti kita akan membesarkan anak ini bersama-sama. Kamu tahu, aku sangat ingin anak erempuan. Aku akan melindunginya dan akan belajar menjadi ayah yang baik untuknya." Jimin seperti sedang mengkhayalkan masa depan.


Yuli juga jadi ikut membayangkan semua akan seindah itu dalam kepala yuli? Membayangkan dirinya menggndong bayi perempuan dan mengecupnya berkali-kali dengan penuh sayang, ikut memandikan bayi mereka atau mungkin jimin yang sedang menggelitiki perut anak mereka agar bisa tertawa.


Apakah semua itu bisa terapai? Sementara di sini yuli masih terlalu takut karena belum mendapatkan kepastian. Setiap kali yuli membayangkannya hal indah itu, yuli juga ikut terbayang tetang kemungkinan terburuk.


Tentang jimin yang pada akhirny anya akan berdiri sambil menteng bunga di depan pemakaman yuli.


Manakah yang akan menjadi nyata?


"Aku sangat mengkhawatirkanmu." jimin berbisik lagi, membuyarka lamunan yuli.