Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 102


"Nanti aku belajar dulu," jawab jimin. "Sekarang, pakaian saja tangannya dengan sarung tangan."


"Ah, iya." Yuli langsung bergegas untuk mengambil dua saring tangan kecil, lalu memakaikannya dengan hati-hati ke tangan Jiyu. Dia tak ingin mengganggu tidurnya.


Setelahnya, Jimin meletakan Jiyu ke ranjang kecil yang sebelahnya juga tak begitu jauh dari ranjang Yuli dan Jimin. Itu agar mereka cepat menjangkaunya jika Jiyu terbangun tengah malam dan menangis.


Jiyu begitu lucu saat tidur, setelah diletakkan dengan nyaman, dia sedikit menggeliat dan menjulurkan lidah, masih dengan pejaman mata. Yuli dan Jimin memandangnya gemas, sangat gemas, apalagi pipi tembam Jiyu yang berwarna agak kemerahan membuat siapa pun sulit menahan diri untuk tidak mencoleknya. Yuli juga membayangkan bagaimana saat dia tumbuh besar nanti. Saat dia sudah bisa berjalan atau berbicara. Kata apa nanti yang dia ucapkan pertama?


Yuli terlalu larut dalam khayalannya sendiri sampai tidak menyadari bahwa sejak tadi dua lengan Jimin telah mendekap Yuli erat dari belakang. Yuli baru menyadari itu, tepat setelah dia mendaratkan satu ciuman ringan di perbatasan antara leher dan mendapatkan bahu yuli. Hal yang selalu berhasil membuat Yuli geli.


"Bagaimana jahitan di perutmu?" bisiknya lirih di telinga Yuli.


Suaranya sangat kecil karena khawatir akan membangunkan Jiyu yang mungkin sudah jauh tenggelam dalam mimpi indahnya. Jimin meletakkan tangannya di atas perut Yuli dengan sangat hati-hati karena takut menyakiti Yuli.


"Sudah semakin baik. Obatnya cepat berkerja. Sepertinya, aku harus lebih memikirkan bagaimana untuk menghilangkan bekasnya. Itu sangat menggangguku." Yuli menghela napas agak sedih karena setiap kali melihat perutnya, ada bekas di sana.


"Itu tidak menggangguku. Aku suka, malah terlihat seksi, seperti tato alami," canda Jimin, sambil terkekeh pelan di area leher Yuli.


Satu hal yang berhasil membuat pipi Yuli memerah "Apa-apaan Jimin ini." batin Yuli.


"Seksi apanya?" Yuli masih bersikeras.


"Menurutku, itu seksi karena kelak, setiap kali aku berada di atasmu, aku akan selalu melihat, mencium dan memandanginya. Mencium pagi dan memandanginya, lalu mengusap dan menciumnya lagi dan awwhh-" Yuli mendorong siku ke belakang untuk menghentikan godaan Jimin.


Bisa Yuli rasakan Jimin tertawa lirih. Dia sangat puas menggoda Yuli rupanya. Jimin perlahan mengangkat kepalanya lagi, lalu kedua tangannya menyentuh bahu yuli, untuk secara perlahan membalik tubuhnya agar berhadapan dengan Jimin.


Hal yang pertama yang Jimin berikan pada Yuli adalah senyumannya, kemudian kedua tangan yang hangatnya yang menangkup pipi Yuli protektif, agar pandangan Yuli tak ke mana-mana, agar fokus Yuli hanya tertuju padanya.


"Bekas operasimu, tidak usah terlalu dipikirkan. Sebenernya, aku malah suka jika bekasnya tetap ada," ucap Jimin terlihat serius.


"Wae?"


Jimin mendekatkan wajah Jimin hingga hidung mereka bersentuhan. Yuli bahkan bisa dengan jelas merasakan aroma mint segar dari setiap embusan napasnya. Jimin tersenyum, lalu berbisik.


"Karena, bagiku itu adalah tanda pengingat bahwa kamu pernah terluka untuk melarikan anakku, salah satu kebahagian terbesarku." Jimin lalu melirik ke arah ranjang kecil dan menatap Jiyu sebagai penegasan atas kebahagiaannya.


Yuli membeku, terdiam dan selalu terbuai akan kata-katanya. Rasanya Yuli seperti dibuat takjub, bingung dan tersentuh dalam satu waktu. Bahkan Yuli masih saja Jimin kembali menatap Yuli, lalu tersenyum dan mengecup ringan bibir Yuli yang sedikit terbuka.


"Terima kasih," ucap Jimin dengan begitu tulus. "Terima kasih karena telah menjadi sumber kebahagiaanku."


Mata Yuli mengerjap beberapa kali, mendadak bisu, tak tahu harus jawab apa sampai akhirnya Jimin membawa Yuli ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, nyata dan menenangkan. pelukan yang tak membuat Yuli ragu untuk memberi balasan.


Yuli sampai memejamkan mata, menempelkan pipi Yuli di dadanya untuk mendengar irama dekatnya yang tak pernah bosan untuk Yuli dengar.