Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 63


Aku membaca papan nama dokter perempuan paru baya yang masih kelihatan sangat menawan. Umurnya mungkin masih berkisar empat puluh tahun. Entahlah aku hanya mengira saja. Jimin membawakanku ke dokter ini. Dari cara menyambut kami, aku langsung tahu bahwa dokter Hwang ini adalah teman dari ibu mertuaku.


"Aku sudah lama sekali tidak bertemu ibumu, apakah dia menikmati tugasnya di india?" Pertanyaan itu jelas ditunjukan untuk Jimin.


Jimin memberikan senyum ramah. "Ibuku sangat menyukai kegiatan sosial. Dia bahkan memperpanjang masa pengabdiannya."


"Ibumu memang luar biasa. Aku selalu mendengar pujian setiap kali menyebutkan namanya." Setelah membalas ucapan Jimin, dokter Hwang menatapku. "Ah, aku sangat senang akhirnya bertemu denganmu secara langsung. Kau ternyata jauh lebih cantik dari yang kulihat difoto. Maaf karena tidak datang ke pernikahan kalian, saat itu aku sedang bertugas. Aku harap kau nyaman untuk berkonsultasi denganku dan menjadikanku dokter tetap selama proses kehamilanmu," ucap basa-basi.


Aku membalas senyum. "terima kasih." ucapku singkat.


Dokter Hwang memperhatikanku sekilas sebelum ia beranjak dari mejanya. "Maaf apa kau menggunakan make-up?" tanyanya sopan.


Aku spontan meraba bibiku sendiri. "I-iya, ini hanya agar tidak terlihat pucat saja."


"Ah, sebaiknya tidak usah memaki kosmetik jenis apapun dulu selama masa kehamilan. Meski ada beberapa yang bebas dari merkuri, tetap saja kosmetik itu dari bahan kimia. lebih baik memperkecil resiko, kan?"


Aku mencerna kalimatnya. Aku baru tahu soal itu karena jarang membaca. Ah, seharusnya hal-hal seperti ini sudah aku ketahui sejak awal.


kini dokter Hwang melirik kakiku. Dia lalu menghela napas. "Lalu, saranku jangan memakai sepatu yang punya hak lagi. Meski rendah, itu akan membuatmu lelah dan bisa memperbanyak kemungkinan akan terjatuh. pakai lah sepatu yang nyaman di kaki."


Mendengar hal itu aku merasa gagal menjadi seorang wanita hamil. Namun, ternyata bukan hanya aku yang merasa hal seperti itu. Jimin juga terlihat termenung melihatku dinasehati.


Apa yang dipikirkan? Mungkinkah dia merasa gagal juga menjadi suami siaga? Ah, itu tidak penting.


Dokter Hwang melihat kegelisahanku dan senyumannya langsung mencairkan suasana. "ayo kita periksa dulu."


Dia mengarahkanku untuk berbaring dokter Hwang mengecek dengan sangat berhati-hati. Aku sangat gugup ketika sweaterku di naikan ke atas dan perutku, dioleskan gel yang cukup dingin.


"Ini sudah hampir lima bulan, kan? Kurasa kita bisa mulai tahu jenis kelaminnya."


"Benarkah?" Jimin menarik kursinya untuk semakin mendekat.


Aku tertegun ketika dia tampak sangat antusiasi, matanya bahkan tampak berbinar dan kilat semangat itu muncul dari balik matanya yang seakan tak berkedip, menatap ke monitor di mana sebuah gambar muncul tepat ketika alat pendeteksi itu di tempelkan ke perutku.


"Itu kepalanya, lihat?" Dokter Hwang menunjukan sebuah titik bulat yang membuat hatiku menghangat.


"Sepertinya itu kakinya." Jimin menunjuk ke salah satu monitor.


"Benar." dokter Hwang menarik napas. "Dan, mari kita lihat jenis kelaminnya."


Aku merasa gugup, terutama saat dokter Hwang mulai menajamkan matanya, melihat kearah layar seolah sedang meneliti dengan baik.


"Ah, sudah terlihat." dokter Hwang menatapku, lalu dia menatap Jimin dengan senyum.


Aku gugup, kurasa Jimin juga merasa gugup. kami sama-sama menggigit bibir bawah. Dokter Hwang semakin tersenyum melihat kami berdua lalu tatapan hangatnya berhenti padaku.


"Anak ini pasti akan secantik ibunya."


Detik itu juga aku membuang napas.


Jadi, perempuan? Aku tanpa sadar berkaca-kaca. Alhamdulillah. Aku harus benar-benar menyayangi dan melindunginya, apalagi jika anakku seorang perempuan, aku harus selalu menjaganya. Aku sama sekali tak ingin dia terluka, jangan sampai anakku merasakan apa yang aku rasakan.


Kehilangan dan dikhianati.


membayangkan itu saja, aku sudah sampai meneteskan air mata. Berbeda dengan Jimin yang malah tersenyum lebar, sepertinya di terlihat sangat senang.


"Ingin mendengar detak jantungnya?" tawa dokter Hwang pada Jimin.


"Tentu." Jimin langsung mendekat setelah alat pada kedua telinganya terpasang.


Jimin terdiam. tapi kenapa malah aku yang gugup? Jimin tampak begitu tenggelam dalam suara detak jantung calon anak kami.


Aku semakin gugup saat Jimin menatapku. Aku tak tahu apa arti dari tatapan itu dan tidak ingin mengartikannya. Jimin tidak mengatakan apa pun, dia hanya meraih satu tanganku dan aku pun tak mungkin langsung menariknya di depan dokter Hwang.


Jadi, Jimin dengan leluasa memegang tanganku, bahkan tanpa malu dan kuduga dia mencium punggung tanganku dengan lembut. Dia seolah berterima kasih atau mungkin lebih seperti seorang calon ayah yang sedang mengikrarkan janji untuk menjaga selamanya.


Tiba-tiba air mataku mengalir deras. Ada perasaan haru yang cukup menyesalkan dada, terlebih saat kulihat mata Jimin juga mulai berkaca-kaca. Aku bahkan bisa merasakan basah pada punggung tanganku ketika Jimin menyembunyikan wajahnya di balik tanganku.


Dia menangis? Dan, itu terasa nyata serta menyayat hatiku. Apakah ini wujud dari ketulusannya? Apakah aku sudah salah menilainya? Aku bingung sekali.