
Sesuatu mengusik tidur nyenyak yuli.
Yuli terbangun karena sentuhan benda kenyal yang sedikit basah di bagian bawah matanya, berkali-kali . Berpindag dari sisi kiri ke kann dan kini mengelilingi seluruh wajah yuli seolah tak ada seinci pun dari wajah yuli yang akan dilewatkannya, semakin lama semakin intens, menghasilkan bunyi kecil yang menggelitik telinga dan mengundang desihdi dalam darah.
Mau tidak mau mata yuli yang sebelumnya masih ingin terpejam ini perlahanterbuka. Sama-sama, menemukan bayangan kabut wajah yang sudah tak asing lagi. Jarak wajahnya begitu dekat, bahkan dia memberi kecupan lagi di bawah mat yuli.
"Ah, akhirnya istriku bangun juga." Senyuman jimin langsuk menyapa yuli.
Yuli lansung menjauhkan wajah, karena malu dengan penampilan baru bangun tidur yuli. Pastikan sangat berantakan. Padahal jimin sepertinya terlihat sudah sangat segar.
"Ini sudahdua minggu setelah kamu keluar dari rumah sakit, sudah lewat masa istirahat total. Itu artinya kita sudah bisa berpergian."
Dahi yuli mengernyit. Jimin tampak sangat antusias. Jimin jadi lebih sering tersenyum semenjak mereka mengakhiri perang ini. Jimin seperti manusia yang terlihat kembli, tidak terbebani lagi dengan sesuatu, terkesan sangat percaya diri. Meski masih tetap sibuk jimin sekarang lebih bisa menempatkan dirinya. Saat ada yuli, jimin akan meletakan ipad atau ponselnya sebentar ntuk memperhatikan yuli.
"MEmangnya kita akan ke mana?" tanya yuli yang kembali memeluk selimut dengan malas. Entahlah, memasuki usia kehamilan yang semakin banyak, yulijadi suka tidur.
"Kamu mungkin akan menyukainya." tTangan jimin bergerak mengusap sisi wajah yuli, mengarahkan sebagian kerambut yuli kebelakang telinga.
'Tapi aku masih mengantuk." yuli sedikit merenggek. Yuli menenggelamkan wajahnya lagi ke bantal
Jimin terkekeh pelan. "Baiklah kalau begitu. Nanti saja. Tidurlah dulu, aku akan membuatkan sarapan," bisik jimin lembut.
Namun perkataan jimin justru membuat yuli terheran. Yuli menatap jimin lagi. "Memangnya Seungbi Ahjumma ke mana?"
"Sedang kurang enak badan. Dia tidak masuk hari ini."
Setelah jimin menjaabnya, jimin hendak pergi, tapi yulimemanggilnya. "Oppa."
Jimin lalu kembali berbarin di samping yuli dengan sikunya yang menyangga tubuh. "Ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu ?"
Jimin menjadi sangat perhatian dan semakin hangat. Semua itu lebih semakin terasa setiap kali yuli menatap mata jimin yang memancarkan kasih sayang yang nyata.
Yuli tidak langsung bicara, tapi malah sibuk memperhatikan jimin. Dia memakai kaus putih polos tipis dankerahnya sdikit turun hingga memerkan sebuah tahi lalat kecil di area tulang lehernya.
"Kamu punya jerawatt ?" tanyayuli masih dengan suara yang parau, jari telunjuk yuli masih mengusapnya.
Ini pertama kalinya yuli melhat jeraat kecil di ajah jimin tidak terlalu kentara namun justru menggemaskan.
Jimin tersenyum lalu meraih tangan yuli di pipinya. "Ini akan memudar sendiri besok ." jimin lalu mengecup jari-jari yuli yang tengah digenggan . "Memangnya aku jadi jelekya kalau punya jeraat?"
Yuli langsung menggeleng samar. "Bukan begitu, hanya saja.... Yuli menarik napas ."...Biasanya orang yang memiliki jerawat sedang banyak pikiran."
"IIya, aku berpikir banyak tentengmu setiap hari dan aku tidak bisa berhenti,"" canda jimin.
Yuli hanya menghelas napas, lantas jimin terkekeh. "Ya sudah sana, roti lapis saja." yuli memperingatkan karena yuli tahu jimin tidak akan bisa membuat makanan dengan serius.
"Baiklah, tapi pagi ini aku belum mendapat morning kiss sama sekali darimu. Beri satu sekali saja." jimin mendekatkan wajahnya pada yuli.
Yuli langsung menggeleng dan menghalangi mulutnya dengan telapak. "Aku belum mandi"
Jiminmeraih tangan yuli , menyingkirkannya dari wahjah yuli. "Aku tidak butuh kamu mandi, aku hanya butuh ini." Ibu jari jimin menyentuh bibir yuli, mengusapnya perlahan seolah bibir yuli adalah benda rapuh yang sangat langka.
Yuli lalu gagal untuk di buat tidak berkutik. Ada hening yang datang setiap kali sepasang mata jimin memperhatikan jimin, memuja dan membuat yuli merasa begitu istimewa. Hanya dengan lewa sorot mata jimin, dia menghuani yuli dengan banyak kehangatan dan juga rasa candu.
Tatapan jimin bagai sebuah hipnotis yang mampu melumpuhkan seluruh sistem gerak tubuh yuli. Yuli bahkan merasa berubah menjadi patung saat jimin menghilangkan jarak di antara mereka dan mendaratkan bibir tebalnya di atas bibir yuli.
Ini bukan pertama kalinya mereka berciuman, tetapi rasanya tetap mendebarkan. Jimin sedikit ******* bibir yuli, mungkin yuli merespons, bahkan satu tangannya. Sebuah usapan yang mampu menyengat diri yuli sendiri untuk membalas ******* itu. Yuli tahu, dia tidak sebaik jimin dalam berciuman dan mungkin takkan pernah sebaik jimin, tapi aku tetap berusaha mengimbanginya sebisnya.
Ciuman ini terasa tenang meski padat akan *******. Namun yuli bisa merasakan kerinduan di antara mereka lewat ciuman ini. Sebuah rasa rindu dengan momen seperti ini atau mungkin rasa takut untuk saling kehilangan.
Jimin sedikit menjauhkan wajahnya, bibir tebalnya yang basah semakin terlihat menawan dari jarak dekat, tepat di depan mata yuli. Selang beberapa detik, dua sudut bibir itu tertarik ke atas, lalu didekatkan kembali menuju kening yuli.
"Aku sangat mencintai mu, yuli.." BIisikan jimin sebelum bibir itu mendarat di kening yuli.