
"Ingin makan apa nanti?" tanya Yuli sambil tersenyum, sebelum meninggalkan ranjang.
Yuli sebenernya senang karena sudah bisa berdiri lagi dengan baik. Jimin menenggelamkan tubuhnya lagi di bawah selimut tebal, tampak masih sangat mengantuk. Yuli tahu, dia tidak akan sarapan makannya yuli menawarkannya makan siang sekaligus.
"Masak saja apa yang ada di dapur, tidak usah keluar ke mana-mana," perintah Jimin, masih dengan suara serak bercampur kantuk.
Yuli menghela napas. Dia masih terlalu khawatir Yuli benar-benar kabur. Tapi, kalau seperti ini menggemaskan juga. Sekarang? Siapa yang usiannya lebih tua? Yuli atau dia?
"Ya sudah, tidur yang cukup." Yuli membantunya memperbaikinya letak selimut, lalu tersenyum sebelum akhirnya meninggal Jimin yang mungkin sudah tidur lagi.
★★★★
Yuli sedang membalas percakapan di grup chat yang berisi yuli dan dua sahabatnya. Mereka sedang mengeluh memikirkan pakaian dan hadiah apa yang akan dibeli untuk perayaan hari kelulusan nanti. Mereka memang berjanji akan saling memberi kado.
"Ah aku bahkan belum sempat mencari."
Yuli tertawa sesekali ketika Myura mengirim swafoto dari wajah frustrasinya karena belum sempat ke luar rumah. Keponakannya datang dan membuat kamarnya berantakan, tapi lama setelahnya yuli juga mengirim foto dirinya hanya untuk mengabarkan keadaannya sekarang. Lalu beberapa menit Gojung juga menyusul untuk mengirimkan fotonya, satu hal yang membuat yuli terkejut saat melihat foto Gojung yang berlatarkan seperti sebuah kafe. Di belakangnya banyak anak-anak yang sedang memegang kamera, Gojung memang sedang bersama klub fotografi. Yuli sontak memperbesar foto kiriman Gojung dan melihat satu sosok di belakang Gojung yang tampak serius sedang menatap mengecek kamarnya.
Jungkook.
"Itu siapa?" Suara tak suka itu terdengar di belakang yuli, membuatnya nyaris melempar ponsel.
Yuli langsung menoleh dan melihat Jimin yang aneh sejak kapan selesai makan siang. Jimin sudah bangun, tapi Yuli tidak menemaninya makan siang karena dia sudah terlalu lapar. Jadi, Jimin hanya makan sendirian di teras depan rumah.
"Hah? Hmm, ini teman sekampusku. Hanya ingin memastikan itu dia," jawaban Yuli cepat.
Jimin mengerutkan kening. "Kalau begitu, dia adalah lelaki yang sama yang kutemui saat aku menjemputmu di kampus?Si fotografer yang diam-diam memotret-mu?"
Yuli baru ingat, Jimin punya daya ingat yang luar biasa. Padahal dia baru bertemu sekali dengan Jungkook. Sadar akan nada bicara Jimin yang semakin dingin. Yuli langsung berdiri, memutar kursi, lalu memegang kedua pipi Jimin. Tangan dingin yuli menyentuh pipi jimin, Yuli harap bisa meredakan panas di hatinya. Mungkin ini baru terlihat, tapi Jimin rupanya lumayan pencemburu.
"Oppa, sudah selesai makan? Apa kita jadi berjalan-jalan?" Yuli mengalihkan pembicaraan dengan cara menagih janji Jimin. Jimin mengambil satu telapak tangan yuli dan menciumnya, lalu tersenyum. "Tentu saja, bersiaplah. Cuaca sedang bagus." Cepat terbakar, cepat juga di rendahkan. Itulah park Jimin.
...hallo semuanya para pembaca *Dia suamiku, maaf akhir-akhir ini saya sering telat meng-up tidak seperti dulu....
Tapi saya harap kalian bisa sabar menunggu up cerita Dia suamiku, terus beri saja like, komentar, dan favorit kan novel ini biar saya tambah semangat membuat cerita lebih seru dan menari lagi dari Episode sebelumnya*.