
perta kali Mereka melakukannya_yuli tahu_sesuatu terjadi pada Jimin. Dia tidak mungkin menjemputnya ke hanya karena ingin melakukan 'itu'. Dia pasti mengalami sesuatu, itu terlihat jelas dan dia membutuhkan yuli untuk melampiaskan semuanya. Sekarang, yuli yang membutuhkannya untuk melampiaskan emosinya.
"Aku tahu kau masih marah padaku." Suara Jimin membuat yuli sedikit terkejut, Yuli pikir jimin sudah tidur setelah pergulatan. Yuli tidak menjawab, masih menatap ke langit-langit dengan tatapan kosong. Selimut masih menutupi tubuh telanjangnya dan Jimin.
Yuli tidak tahu harus menjawab apa karena tak tahu apakah dia benar-benar marah pada jimin atau hanya taku tentang hal itu. Yuli takut jika itu benar. Mungkin, yuli takut menemukan kenyataan bahwa jimin tidak sungguh mencintainya.
Jimin yang semula juga telanjang berbalik menghadap yuli. satu tangan jimin meraih telapak tangan yuli untuk di arahkan ke pipi Jimin yang lembut.
"Yuli? Lihatlah aku."
Yuli terlalu menyukai suaran jimin_sangat menghipnotis_hingga dia dengan mudah menoleh, meskipun sebenarnya tak ingin. Yuli melihat wajah jimin, tatapan yang begitu dalam. Yuli tidak berani mengartikan apa pun.
"Aku tidak tahu mulai dari mana.Tapi, tolong beri tahu aku, siapa yang membuatmu seperti ini? Seseorang yang telah mengusikmu? Apa yang mereka katakan tentangku kepadamu?" sepertinya Jimin sangat penasaran siapa yang bilang hal buruk tentangnya kepada yuli.
"Aku tidak tahu siapa yang harus kupercaya karena semuanya sangat masuk akal." yuli akhirnya berbicara, masih dengan nada yang tenang. Jimin pikir keadaan ini lebih baik dari pada saat Yuli baru pulang kuliah tadi.
"Kau tahu betapa aku sangat peduli padamu?"
"Aku tahu. Aku juga tahu betapa kau lebih peduli dengan perkerjaan daripada apa pun."
"Bukan seperti itu, aku_"
Yuli menyelanya dengan sedikit tegas. "Aku hanya ingin kau menjelaskan sesuatu yang bisa membuatku tenang, katakan dengan jelas tentang gim 'Wedding season'."
"Aku tidak bisa, yuli."
"Tidak, tidak seperti itu. Aku belum bisa menjelaskannya, Aku_" Jimin meraih tangan yuli lagi, kali ini kedua tangannya. Jimin genggam dengan kedua tangannya, membuat tubuh yuli kini juga berbalik menatapnya.
"Aku janji, aku akan menceritakan semuanya padamu ketika waktunya sudah tepat. Sekarang.....Tolong percaya saja padaku. Aku tidak sejahat itu," Ucap Jimin dengan nada dan tatapan serius.
Yuli tidak tahu harus beraksi seperti apa, keningnya mengerut perlahan. "Kau menyembunyikan sesuatu yang besar dariku?"
"Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi tolong, tetaplah di sisiku."
"Jimin, kau pikir pernikahan ini main-main?" Yuli mengeluarkan nada suara yang sedikit keras.
Jimin menggeleng. "Tentu, tidak. Kita bisa menjalani ini. Kita bisa melewatinya."
Yuli memejam sejenak. "Baiklah." yuli manarik napas dengan menatap lagi mata Jimin. "Selama kau tidak mengatakannya padaku, Aku tidak akan pernah menganggap kita benar-benar menikah."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, kita hanya partner. Aku menikah denganmu agar aku bisa melahirkan dan menyusui, sedangkan kau menikahiku hanya untuk kebutuhan biologis atau mungkin yang lainnya? Begitu, lah?" Yuli menarik kembali tangannya dari genggaman Jimin.
"Kalau begitu, mari menjalin hubungan partner saja."
Yuli lalu berbalik untuk memunggunginya. Yuli bisa mendengar jimin memanggil namanya dengan frustasi, tapi yuli tetap tidak ingin menolak. Yuli lebih suka memunggungi Jimin dan tenggelam dalam perasaannya sendiri.
Yuli berharap Jimin akan memaksa dan membalikan badannya untuk diraih kedalam pelukannya lagi. Namun, entah untuk alasan apa, yuli tak merasakan satu sentuhan seakan bingung harus berbuat apa. Sementara itu, yuli juga tenggelam sendiri, bersama air matanya yang tak bisa dicegah lagi.