
Aku menghela napas, lalu melepas earphine di telinga. Aku menutup laptop dan meletakannya di meja, setelah itu berbaring selama beberapa menit memsinkan ponsel untuk membalas pesan dari bibiku yang ingin aku berkunjung ke rumahnya.
Kalau dipikir-pikir, aku juga sudah lama tidak ke rumah bibi dan pamanku, kurasa aku harus ke sana. Aku ingin mencari suasana baru. Aku sempat membalas pesan ini, lalu berbaring lagi, memikirkan seluruh penjelasan Nam.
Jadi, apa benar sebenarnya itu bukan keinginan Jimin? Apa Jimin terpaksa melakukan itu? Apa Jimin punya alasan lain untuk itu? Aku terus memikirkannya, bahkan sampai aku tertidur.
Jauh di dalam mimipi, aku tenggelam menyelami ruang khayalan dan segala bentuk imajinasi terbentuk.
Aku benci pada sebuah kenyataan bahwa selalu ada kemungkinan orang bermimpi buruk saat dia tidur dalam tekanan atau ketakutan. Kini, aku bermimpi di mana tubuhku terasa begitu sakit, rasanya pusing dan lemah. Aku melihat diriku berdiri di sebuah tempat seperti sebuah penjara, lalu melihat kedua orang tuaku berdiri di depanku dengan wajah pucat dan tampak ingin menggapaiku.
Aku bahkan meliat jelas pakaian mereka adalah pakaian yang sama yang mereka gunakan saat akan pergi dengan pesawat terakhir yang mereka tumpangi. Aku mencoba menggapai tangan mereka, tapi kakiku terasa melekat dengan tanah.
"Keira!"
Ibuku berteriak lantang seolah memperingatkan sesuatu yang ada di bepakangku, detik itu juga aku berbalik dan sebuah batu yang amat besar, entah dari mana, melayang ke arahku.
Tak ada waktu untuk menghindar, batu itu menindi tubuhku. Detik itu juga, aku langsung terbangun dengan posisi terduduk. Aku mengatur napasku, lalu melihat ke bawa, menyadari bahwa posisi tidurku jadi rapi, bahkan selimut di tubuhku.
"Keira? Kau kenapa?"
Suara jimin membuatku menoleh ke kanan. Aku menemukan sosoknya yang masih memakai baju kantor itu terdiam saat mengambil gelas dan piring kosong yang ada di nakasku.
Entah mengapa, aku melihat Jimin. Dadaku menjadi semakin sesak. Mood-ku mendadak kacau. Aku tidak tahu basti apa yang kurasakan. Kepalaku mendadak begitu pusing dan rasanya aku ingin sekali menangis, tapi aku menahannya. Sementara itu, perlahan perutku terasa kencang dan kaku, bersamaan dengan rasa mual hebat yang menghantam.
Ada sesuatu yang memaksa keluar melewati perut menuju ketenggorokanku. Aku spontan menutup mulut dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya menyibakkan selimut. Aku segera berlari ke kamar mandi.
Aku memuntahkan sesuatu yang begitu pahit dari dalam perutku. Aku langsung menyalakan keran dan memuntahkan sisanya lagi. Setelah kurasa sudah habis, aku buru-buru mencuci mulut. Aku ingin menangis saat kusadari Jimin berdiri di belakangku dan ikut memegang rambutku.
"Apa kau masih sering seperti ini?" Jimin mengambil tisu, lalu mengusap area bibirku dengan cekatan.
Perlakuannya ini justru membuatku semakin ingin menangis. Jadi, aku mencoba menjauhkan tanganya.
"Pergilah, aku bisa mengatasinya sendiri," ucapku seperti merengek.
"Ish, kau ini kepana? Kenapa kau menangis saat melihatku?" Wajar jika Jimin heran karena bukan hanya mual, Aku pun menangis saat melihatnya. Itu sangat terbaca.
Aku sendiri tak tahu jawabanya pastinya. Jadi, aku hanya mengusirnya lagi.
"Pergilah."
Pergilah, jimin. Meski aku harus melawan keinginanku untuk memelukmu, ralat, mungkin ini keinginan anak kita.
"Ah, atau mungkin kau sedang ingin sesuatu? Apa anak kita ingin menjambak rambutku lagi?" tanya Jimin menggoda. Dia bahkan menyunggingkan senyum sialannya, lalu menangkup kedua pipiku.
"Kenapa kau tetap di sini?" Aku yang sudah tak tahan lagi memprotes. Aku akhirnya menangis karena memang perasaanku benar-benar sangat kacau.
Di satu sisi, aku memang sangat marah dengan Jimin. Untuk itu, aku tetap bersikap ketus dan menjaga jarak denganya. Namun, di sisi lain, Jimin tetap menjadi sosok yang sangat perhatian seolah dia tidak terusik dengan sikapku. Dia sangat sabar dan dewasa. Aku paling benci kenyataan bahwa dia tetap bisa terlihat tenang dan terdenyum di depanku, padahal punya banyak hal yang dipendam seorang diri.
Sebenarnya, dia yang berrngsek atau memang hanya aku yang terlalu jahat? Jimin mengusap air mataku dengan ibu jarinya, lalu perlahan matanya bergerak kebawah. Jimin membungkuk, lalu menyejajarkan kepalanya di depan perutku.
"Apa dia merinduhkanku?" tanya Jimin dengan tangan yang mulai menyentuh petutku. Jujur aku merasa seperti tersengat perasaan yang aneh saat Jimin menyentuh perutku. Terlebih saat dia memgusapnya lembut disertai senyuman. "Oh, aku memgerti." Dia berbicara sendiri, lalu berdiri lagi dan tanpa permisi menarik tubuhku ke dalam pelukanya. "Masih pusing?"
Aku menggeleng pelan di dalam pelukannya, masih menangis, entah kenapa aroma tubuhnya benar-benar sesuatu yang diinginkan oleh tubuhku. Aku benci ini. Aku benci Jimin, tapi tidak bisa lari darinya. Tidak untuk saat ini.
Mungkin, aku memang harus mencoba sedikit meredakan emosiku tentangnya. Mungkin, aku harus berhenti menyiksa diriku karena diam-diam aki memang masih sering memikirkan Jimin setiap kali aku ingin tidur.
Untuk saat ini aku akan membiarkan diriku tenang meski itu hanya kuyemukan di dalam pelukan Jimin. Membiarkan Jimin mengusap kepalaku yang semakin tenggelam di antara ceruk lehetnya, menghirup aroma tubuhku seolah itu adalah oksigen terakhir di bumi.
Tapi harus kuakui, Jimin selalu punya aura tersendiri untuk menenangkanku. Tubuhnya yang selalu hangat mampu mengalirkan rasa nyaman hingga ke hatiku yanh seirama dengan detakku.
Itu sangat menemangkan.
Jimin mengeratkan sedikit pelukannya seolah sangat merinduhkan momen ini. Jimin mengecup kepalaku sekilas, lalu betbisik liris di dekat telingaku.
"Sepertinya, aku harus sering memelukmu seperti ini."