Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 27


Yuli terkejut saat Jimin menggendongnya dan yuli spontan melingkarkan tangannya di leher jimin, beruntung karena jarak kamar tidak begitu jauh. Yuli sedikit lega saat Jimin membaringkan yuli di ranjang. Saat wajah mereka bertemu yuli jadi malu, pasti wajahnya sangat jelek karena habis menangis.


Jimin sempat memberi yuli senyuman tipis, tapi yuli langsung menghindari, memalingkan wajah kemudian bergegas ke sisi lain ranjang. Bisa dia dengar Jimin menghela napas, kakinya melangkah menjauh untuk menutup pintu kamar dan kembali lagi ke ranjang. lalu memunggunginya, yuli masih belum ingin bertatapan dengan jimin.


Namun, bukan Jimin namanya jika dia menyerah sebelum mendapat perhatian yuli. Setelah dia menarik selimut untuk menutup tubuh mereka. Yuli bisa merasakan tangan-jimin menelusup di antara pinggang dan bahunya untuk menarik tubuh yuli hingga punggung menyentuh dadanya.


"Sudah tenang?" Bisik Jimin saat meletakan dagu lancipnya di sela-sela leher dan bahu yuli..


Yuli ingin sekali mengelak dari Kungkungan ini, tapi tenaganya seakan terserap habis karena sudah menangis. Jadi, yuli diam saja. Jimin mendaratkan wajahnya di perbatasan antara bahu dan leher yuli. Bahkan lelaki itu seperti sengaja menempelkan ujung hidungnya di sana untuk mengendus bau tubuh yuli.


"Aku rindu istriku," ucap Jimin lirih yang justru membuat yuli merinding.


Bisa yuli rasakan jimin tersenyum tipis karena bibinya masih sedikit menempel di sana, jadi yuli bisa merasakan ketika sudut bibir jimin ditarik membentuk senyuman. "Hari ini aku banyak tertawa karena senang menghabiskan waktu bersamamu. Maaf jika itu membuatmu merasa aneh, Lain kali aku akan mengendalikan perasaan aku agar tidak berlebihan."


Pangkuan Jimin barusan malah membuat yuli merasa bersalah. Yuli kembali terisak, kenapa dia jadi merasa sangat jagat? "Sshhh... Sudah jangan menangis lagi. Aku hanya bercanda."


Yuli menggeleng samar. dia sendiri tidak tahu. Jimin meraih satu tangan yuli yang ada di perut, lalu menggenggamnya erat. "Aku akan menceritakan semuanya padamu." Jimin menarik napas. "Tapi, besok. Dan, tidak di sini. kita akan pergi ke suatu tempat."


Yuli terdiam, spontan bertanya. "Kenapa harus ke tempat lain?"


Jimin mencium leher yuli lagi, lalu menarik yuli semakin merapat seolah dia adalah harta yang paling tidak ingin jimin lepaskan. Perlahan jimin mendekatkan bibir ke telinga yuli, lalu berbisik lirih."Agar setelah kau tahu semuanya, kau tidak bisa kabur dariku."


...****************...


Jimin membawa yuli ke Jeongseon. Sebuah tempat yang identik dengan pegunungan yang tinggi di atas seribu meter rata-rata, ini pertama kalinya yuli ke tempat terpencil seperti jeongseon. Yuli dulu pernah mendengar bahwa tempat ini memiliki sebuah stereotip bahwa ke banyakan orang yang datang ke sini akan menangis, bahkan saat mereka meninggalkan nya.


"Setiap kali seorang bupati ditugaskan di daerah ini, mereka akan menangis karena tempat ini sangat terpencil. Tetapi setelah lama bertugas, mereka jadi mencintainya. Saat masa jabatan berakhir dan harus meninggalkan tempat ini, mereka justru menangis tak ingin pergi." Jimin menjelaskan itu pada yuli tepat saat mereka sampai di tempat penginapan yang langsung mengharapkan ke deretan bukit-bukit tinggi di luar sana.


Yuli melihat nya masih berdiri menghadap ke jendela. mereka tidak masuk sampai sore hari saat kabut sedang cukup lebat, tapi justru terlihat indah dari jendela besar yang ada di dalam kamar ini.