Park Jimin Suamiku

Park Jimin Suamiku
Episode. 54


Sejak hari mereka bertengkar hebat semuanya semakin terasa berbeda. Meskipun masih mengajak yuli berbicara, Jimin tidak tidur di kamar ini bersamanya. Dia hanya kesini untuk mengambil pakaian atau memperbaiki pintu yang rusak.


Bukan berarti Yuli mengharapkan jimin untuk tidur bersamanya. Hanya saja, ini membuat yuli berpikir macam-macam karena Jimin selalu menghindari setiap yuli mencoba berbicara serius dengannya. ini harus di selesaikan yang paling penting Yuli sangat ingin keluar dari belenggunya. Yuli bosan, kesal, dan marah!


Yuli menghabiskan waktu untuk makan, tidur, dan membaca buku. Bahkan semua jadwal yuli seakan sudah diatur oleh Seungbi Ahjumman, kalau saja tidak ingat bahwa di dalam perut yuli ada janin yang punya nyawa, Yuli pasti sudah enggan untuk makan. Yuli lebih baik kelaparan dan mati.


Yuli bahkan tidak semangat untuk melakukan apa pun seperti sekarang, saat yuli berdiri sambil menatap keluar jendela. Yuli menatap pada pemandangan yang membuat hatinya teriris, yuli melihat aktivitas sebuah keluarga yang rumahnya terletak di depan rumah ini. Melihat kesibukan mereka yang memasukkan tas dan koper ke mobil sambil tersenyum semeriah, tampaknya keluarga yang beranggota sepasang suami-isteri dan anak perempuan berusia delapan tahun berencana untuk liburan.


Itu membuat Yuli seketika merindukan kedua orang tuanya. Yuli suka berlibur saat yuli masih kecil, jika tak kemana-mana biasanya saat hari libur ayah dan ibu sering menyulap halaman belakang rumah menjadi area piknik yang menyenangkan.


Yuli benar-benar anak kesayangan mereka. Meskipun Yuli tak punya saudara dan orang tuanya sama-sama punya perkerjaan, mereka tidak pernah membuat Yuli benar-benar kesepian dan kurang perhatian.


"Ini untukmu."


Yuli tersentak kembali ke dunia nyata. Seketika menoleh ke kanan dan sedikit terkejut melihat Jimin sudah berdiri di sampingnya sambil menyodorkan sebuah tas karton kecil. Yuli melihat benda itu adalah sebuah ponsel yang di beli dari salah satu toko ponsel terpopuler di Korea.


Jimin masih berdiri dengan satu tangannya masuk kedalam kantong menunggu yuli menyambut pemberiannya.


Sejak kapan dia berdiri disana? kenapa yuli tidak menyadarinya?


"Aku bisa membeli benda itu sendiri. Tidak perlu dirimu. Saat aku keluar nanti, aku akan membeli semua kebutuhanku sendiri." Yuli mengalihkan pandangannya kearah lain.


Yuli mendengar Jimin menghembuskan nafasnya. "Aku letakan di sini, aku juga sudah memasang nomor baru untukmu. Nomor telepon penting, seperti teman-teman dekat dan keluargamu juga sudah aku salin di sana."Jimin meletakan tas karton itu di meja yang ada dekat jendela. Dia malah tidak menanggapi kalimat Yuli barusan.


Dan entah mengapa itu membuat Yuli kesal, sangat kesal. Jika ingin meledek, meledek saja bersama. Biar Jimin emosi, buat yuli juga meradang. jadi keputusan akhirnya Yuli tetap bisa menjauh darinya, tapi jika dia sok bersikap tenang dan dewasa seperti ini dan menggantung semua masalah tanpa penjelasan, Yuli jadi sangat muak.


Jimin memutar badannya santai, hendak pergi lagi untuk menghindari perdebatan.


Jimin mengurungkan niatnya untuk melangkah, dia menatap yuli sambil memiringkan kepala. Yuli memberanikan diri maju selangkah, lalu menatapnya dengan lebih tegas.


"Aku ingin kita bercerai."


Jimin terdiam. Dari pupil matanya, yuli bisa merasakan bahwa dia tidak menyangka yuli akan mengatakan kalimat itu. Yuli tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan dirinya, mungkin dia terkejut atau mungkin marah. Mungkin juga dia terkejut sebentar, lalu biasa aja. Menyebalkan, kenapa Jimin jadi begitu sulit untuk di baca?


Jimin menghela napas santai.


"Tidak tertarik." ucap Jimin singkat, lalu melanjutkan langkah. Yuli sedikit menganga, merasa seperti di permainkan. Yuli melangkah untuk berdiri di depannya, menghalangi langkahnya yang akan membuka pintu kamar.


"Aku serius." tegas Yuli.


"Aku juga." balas Jimin.


Aku menatap Jimin kesal. "Kenapa?"


"Karena aku telah mencintaimu."


Entah mengapa kalian yang dulunya mendebarkan hati itu justru menjadi terasa begitu menyayat sekarang.


"Omong kosong. Jika kau mencintaiku, seharusnya kau membuatku bahagia. Dan aku bahagia jika berada jauh darimu. Jadi bisakah kau melepaskanku?!"


Yuli mulai emosi. Seperti kalimatnya barusan mulai berhasil membuat emosi Jimin juga ikut terpancing. Bagus, itu yang Yuli inginkan.