
"Dia sedang mengangkat telepon sebentar." Jawab yuli jujur.
Yuli dan Jimin memang sudah akan pulang awalnya, tapi ponsel Jimin berdering. Sepertinya itu penting, jadi Jimin menyuruh yuli menunggu di sini dulu.
Seungwu hanya tersenyum, mengangguk lalu menatap Yuli lagi. "Yuli-ya?"
"Hmm."
"Apa kau bahagia bersama kakakku?" tanyanya dengan kening mengerut.
Yuli tentu tak menyatakan pertanyaan sejenis itu akan keluar dari mulutnya. "Kenapa kau menanyakan hal semacam itu?"
Dia menarik napas, menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan tak ada yang melihat mereka. "Karena bagiku, kau terlalu sempurna untuk Hyung."
Yuli menelan ludahnya sebentar. Yuli tak tahu harus menjawab apa. "Yuli, jika kau tidak kuat dan ingin berhenti, tidak apa-apa. Aku sangat memahami posisimu." Seungwu seperti memberi nasehat untuk yuli atau mungkin lebih mirip seperti peringatan.
Yuli masih berusaha mencerna kalimat itu, tapi ponsel di genggaman Yuli berbunyi berkati-kali tanpa jeda. Yuli mengecek ponsel, Khawatir ada yang rusak. Mata Yuli melebar ketika banyak pesan gambar yang masuk bertubi-tubi hingga Yuli tak bisa membuka isinya, ini adalah bomb messages, sampai akhirnya tak sengaja jari Yuli menekan satu tombol buka dan satu dari ribuan pesan itu pun terbuka.
Spontan, Yuli menjerit ketika melihat isinya. Tubuhnya seketika gemetar, apalagi jantung Yuli hingga dia menjatuhkan ponsel itu dan hampir jatuh ke atas rumput jika saja seseorang tidak menahan punggungnya. untungnya seungwu menahan tubuh Yuli.
"Yuli, ada apa?" tanya sambil memegang dua bahu yuli, membantunya tetap berdiri tegak.
Yuli merasakan seluruh tubuhnya panas, Yuli tak bisa berbicara, seluruh tubuh yuli terasa membeku dan tak lama kemudian yuli menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya.
"Yuli?!"
"Apa yang kau lakukan pada istriku?!" Jimin membentak Seungwu setelah menarik ke dalam pelukannya, membawa tubuh yuli bersandar dan menangis di dadanya.
"Hyung, aku tak melakukan apa pun...aku..."
Lalu, suara ponsel Yuli terdengar lagi. Seketika semuanya hening, Seungwu berjalan mendekati ponsel Yuli dan melihatnya.
"Dia menerima gambar ini barusan." Seungwu menyerahkan ponsel Yuli pada Jimin.
Saat Jimin melihatnya, Yuli spontan meremas bajunya dan menyembunyikan wajah Yuli lagi di dada Jimin. Takut jika mata Yuli melihat gambar itu lagi.
Yuli rasa tubuh Jimin menengang. Tak lama setelahnya, Jimin membuang ponsel Yuli ke dalam kolam ikan di dekat mereka. Yuli bisa mendengar suara benda memasuki kolam bersamaan, juga dengan bunyi ponselnya yang sudah mati karena korslet.
Yuli kembali menangis sambil memeluk Jimin erat, Jimin membalas pelukannya. Mereka tidak berbicara apa pun. Dia hanya mengusap punggung Yuli, membiarkannya menangis sembari menenangkan.
"Tenanglah, aku di sini." Jimin membisikan kalimat itu di telinga Yuli berkali-kali.
Begitu seterusnya, selama lima menit hingga akhirnya Yuli mulai mendapatkan ketenangan kembali. Tangisan Yuli mulai reda, hanya ada isakan. Dan, pada kesempatan kali itu, Jimin memosisikan diri Yuli agar mereka saling menatap, ibu jarinya mengusap sisa-sisa air mata Yuli di bawah mata.
Jimin menatapnya dengan lembut, tapi tegas.
"Yuli-ya, mulai sekarang. Kamu dalam pengawasan ketatku."
Yuli memeluk tubuh sendiri dalam keadaan duduk di ranjang. Lutut Yuli menekuk dengan lengannya yang memeluknya semakin erat setiap detiknya. Padhal, saat ini tubuh Yuli sudah dibungkus selimut tebal yang seharusnya bisa mengalirkan rasa hangat.