
Hari persalinannya semakin dekat, Novi selalu saja di selimuti rasa takut dan deg-degan. Bu Ani yang selalu mendampingi putrinya di siang hari selalu memberikan semangat kepada putrinya, bahwa semuanya akan baik-baik saja dan bisa di lalui nya.
"Bu perutku terasa mules, sudah tiga kali aku masuk ke toilet. Apa mungkin aku mau lahiran Bu?"rengek Novi yang terlihat ngos-ngosan.
"Sabar nak, ini gejala jika mau lahiran nak"ucap Bu Ani sambil mengelus punggung putrinya.
"Aku takut Bu"rengek Novi dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tidak boleh takut nak, kamu harus kuat, apa kamu tidak ingin melihat anak-anak mu terlahir di dunia ini. Jangan cengeng seperti ini, karena akan mempengaruhi kondisi janin mu nak"ucap Bu Ani yang menenangkan putrinya, sambil menghapus air mata Novi yang masih menggenang di pelupuk matanya.
"Kamu duduk dulu"ucap Bu Ani lalu menuntun putrinya duduk di sofa.
"Apa perutmu begitu sakit hingga di pinggang mu nak?" tanya Bu Ani.
Novi hanya mampu menggeleng pelan.
"Ya sudah kamu minum dulu, takutnya kamu dehidrasi"ucap Bu Ani lalu menyerahkan segelas air putih untuk putrinya.
Novi langsung meneguk air putih hingga tandas. Lalu menyerahkan kembali gelas tersebut kepada ibunya.
"Bu lihat, ada bercak darah di pakaian ku"ucap Novi yang terlonjat kaget.
Bu Ani langsung menatap pakaian putrinya dan beralih melihat darah segar yang mulai mengalir hingga di betis putrinya.
"Tenang sayang, ibu hubungi dulu suamimu untuk menjemput Chaca agar memeriksa mu terlebih dahulu"ucap Bu Ani yang terlihat tenang.
"Baik bu"ucap Novi sambil mengatur nafasnya.
"Aku harus kuat demi anak-anak ku"ucap Novi yang mencoba tersenyum sambil mengelus perutnya.
Tak berselang lama kemudian, Chiko bersama Chaca adiknya terlihat khawatir memasuki apartemen. Chiko langsung bergegas menemui istrinya.
Chiko sedikit bernafas lega melihat istrinya sedang menikmati cake dan cookies yang tengah duduk di sofa.
"Sayang"ucap Chiko, kemudian duduk di samping istrinya.
"Mas Cok, eh Chaca"ucap Novi sambil tersenyum.
"Aku ingin memeriksa kondisi mbak Novi"ucap Chaca tersenyum.
"Hemm, perut ku tadi mules, aku pikir akan lahiran. Dan sekarang perutku kembali kram"ucap Novi sambil cengengesan.
Chaca mulai mengeluarkan stetoskopnya dan mulai memeriksa kakak iparnya. Chaca begitu telaten memeriksa kondisi kakak iparnya, hingga matanya kembali menangkap bercak darah di pakaian Novi.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit, mbak butuh perawatan, yang tenang mbak dan rileks ya"ucap Novi sambil tersenyum yang mencoba terlihat tenang di hadapan kakak iparnya.
"Kak ayo siap-siap"ucap Chaca kepada kakak nya.
"Hemm baiklah"ucap Chiko.
Novi kemudian bersiap-siap di bantu ibunya.
"Kak Chiko, mbak Novi mau lahiran, kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Namun kak Chiko jangan terlihat panik di hadapan mbak Novi"bisik Novi.
"Apa!, istri ku mau lahiran. Aku tidak sabar untuk melihat anak-anak ku, semoga persalinan istri ku berjalan dengan lancar"ucap Chiko dengan perasaan campur aduk.
"Iya kak, amin"ucap Chaca.
Mereka kemudian cepat membawa Novi ke rumah sakit, walaupun Novi belum sepenuhnya mengalami kontraksi. Namun dari tanda-tanda nya Novi akan melahirkan buah hatinya.
Kini mobil yang membawa mereka tiba di rumah sakit. Novi tampak kesulitan turun dari mobil padahal Chiko tetap membantunya.
"Mas Cok, perutku terasa sakit mas, akkhh"ucap Novi merintih kesakitan.
Chaca dengan cepat meminta perawat membawa brankar. Chiko kemudian menggendong istrinya, lalu meletakkan tubuhnya dengan hati-hati di atas brankar. Novi tampak kesakitan sambil terus mencengkeram erat lengan suaminya. Mereka lalu membawa Novi ke ruangan persalinan.
Kini Novi sudah menempati ruangan persalinan, Chiko terlihat khawatir mendampinginya. Sedari tadi Novi terus saja histeris kesakitan. Dokter mulai mulai berusaha keras untuk menangani pasiennya. Novi sudah memasuki pembukaan kedua Dokter pun memintanya untuk mengejan, karena persalinan Novi dilakukan secara normal.
"Tarik nafas dalam-dalam, buang perlahan dan dorong"ucap Dokter kandungan yang memandu persalinan pasiennya.
Novi mulai mengikuti instruksi dokter, dengan sekuat tenaga ia pun kembali mengejan. Novi terus mengejan sesuai instruksi dokter. Chiko selalu saja memanjatkan doa supaya persalinan istrinya berjalan lancar. Tak lupa Chiko terus memberikan semangat kepada istrinya dan selalu membisikkan kata cinta, agar istrinya tetap semangat.
"Tarik nafas dalam-dalam, buang perlahan dan dorong"ucap Dokter kandungan yang kembali memandu persalinan pasiennya.
Novi kembali mengejan sesuai instruksi dokter. Dan Satu dua tiga, Novi berhasil melahirkan anak pertamanya. Dokter dengan cepat mengambil tindakan terhadap si bayi. Lalu perawat mulai membersihkan si bayi.
Chiko tak kuasa menahan air matanya melihat buah hatinya terlahir di dunia. Tampak Novi terkulai lemas yang baru saja melahirkan anaknya, namun ia pun kembali semangat untuk melahirkan buah hatinya. Kemudian dokter kembali memberikan aba-aba kepada pasiennya untuk kembali mengejan.
Novi pun kembali melakukan hal yang sama hingga buah hati keduanya kembali terlahir dengan selamat. Senyuman langsung terbit di sudut bibir Chiko mana kala buah hatinya terlahir kembali. Sementara Novi terkulai lemas dengan wajah pucat nya yang baru saja menjalani persalinan normal yang dikarunia anak kembar.
"Terima kasih sayang, kau sudah berjuang untuk anak-anak kita"ucap Chiko, lalu mencium kening istrinya. Novi hanya mampu tersenyum dengan wajah pucat nya.
Tampak keluarga Chiko dan keluarga Novi begitu bahagia atas kelahiran cucu pertama mereka yang kembar pula. Chiko tersenyum menghampiri mereka dan mengatakan persalinan istrinya berjalan lancar. Semuanya begitu bersyukur kepada Tuhan karena persalinan Novi berjalan dengan lancar. Mereka hanya menunggu beberapa menit untuk melihat cucunya.
Kini Novi sudah mendekap hangat kedua bayi kembarnya. Chiko hanya mampu tersenyum dengan mata berkaca-kaca yang diselimuti perasaan haru melihat bayi kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki.
Keluarganya mulai masuk satu persatu untuk melihat kondisi Novi dan bayinya. Novi terus saja menatap bayi kembarnya, seolah pandangannya tidak bisa berpaling ke yang lain.
Bu Ani dengan hati-hati mulai menggendong cucunya, kemudian dengan cepat kembali memberikannya kepada ibunya. Semua orang tampak bahagia atas kelahiran anak pertama Novi dan Chiko. Tak terkecuali keluarga Fino turut memberikan selamat dan hadiah kepada Novi dan Chiko atas kelahiran anak pertama yang sekaligus kembar.
Tiga hari berlalu.....
Novi sudah bisa di perbolehkan untuk pulang bersama bayi kembarnya. Di sepanjang perjalanan pulang tak henti-hentinya Novi tersenyum menatap bayi kembarnya dalam gendongannya, sedangkan Bu Ani juga menggendong cucunya. Chiko hanya mampu tersenyum tipis mengemudikan mobilnya.
"Mas Cok, sepertinya kita salah jalan, ini bukan jalanan yang kita lewati ke apartemen"ucap Novi sambil mengalihkan pandangannya ke depan.
Chiko hanya mampu diam dan tak menggubris ucapan istrinya, hingga mobil yang membawa mereka memasuki kawasan perumahan elit. Bu Ani hanya mampu diam, ia sudah tahu rencana menantunya.
"Mas Cok, kita mau kemana sih"ucap Novi kembali.
Mobil yang membawa mereka tiba di sebuah bangunan dua lantai yang terlihat asri dengan banyaknya tanaman bunga dan pepohonan rindang.
"Ayo turun, sekarang kita tinggal di sini"ucap Chiko.
"Loh ini rumah siapa?" Ucap Novi.
"Ini rumah baru kita sayang"ucap Chiko tersenyum sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Rumah baru"ucap Novi bingung.
"Iya sayang,mulai sekarang, kita tinggal di rumah ini"ucap Chiko tersenyum.
"Ayo masuk, tak baik cucu ibu terus di luar"ucap Bu Ani.
Mereka lalu turun bersama-sama, kemudian memasuki rumah baru mereka yang cukup mewah.
Beberapa hari telah berlalu....
Keluarga Fino mulai menjenguk Novi, sekaligus ingin melihat bayi kembar Novi.
Chiko sangat senang atas kehadiran atasannya di kediamannya.
"Selamat atas kelahiran anak pertama mu"ucap Fino sambil menepuk pundak Chiko.
"Terima kasih tuan atas kehadirannya"ucap Chiko dengan penuh hormat.
Para pelayan di kediaman Fino tampak membawa beberapa bingkisan sebagai hadiah untuk bayi kembar Chiko.
"Ma pah, Malfin ingin lihat bayi kembar"ucap Malfin.
"Aku temuin Novi dulu mas"ucap Milan yang tengah menggendong bayinya.
"Iya sayang"ucap Fino sambil tersenyum.
Novi sangat bahagia atas kehadiran kakak angkat nya.
"Mbak Milan"ucap Novi dengan mata berbinar yang sedang menyusui salah satu bayi kembarnya.
"Selamat ya atas kelahiran baby twins mu, mbak ikut senang"ucap Milan sambil tersenyum menatap bayi kembar Novi.
Bu Ani ikut tersenyum yang juga tengah sibuk memberikan Asi cucu kembarnya yang hanya menggunakan dot bayi.
"Malfin akan banyak teman nantinya, adik Malfin dan si kembar"ucap Malfin bersorak gembira.
"Iya sayang"ucap Novi tersenyum.
"Malfin harus menjadi kakak yang baik ya untuk si kembar"ucap Milan tersenyum.
"Pasti ma, Malfin akan menjaga mereka, bibi Novi jangan khawatir dengan si kembar, Malfin juga akan menjaga si kembar seperti Malfin menjaga adik Malfin"ucap Malfin tersenyum.
"Pintarnya nak Malfin, iya bibi percaya"ucap Novi yang tergelak tawa.
Milan hanya mampu mengelus punggung putranya dengan gemes.
"Si kembar namanya siapa bibi?"ucap Malfin.
"Yang di gendongan bibi namanya Nino Mubarak. Yang di gendongan Omanya Namanya Niko Mubarak"ucap Novi tersenyum.
"Wah namanya bagus, Nino dan Niko"ucap Malfin kemudian memegangi tangan mungil baby Nino
Lagi-lagi Milan hanya mampu tersenyum melihat tingkah laku putranya.