Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Titik Terang


Enam bulan kemudian......


Terlihat wanita hamil sedang memetik buah stroberi, perutnya yang semakin buncit tidak mematahkan semangatnya untuk tidak melakukan aktivitas nya. Keringatnya mulai bercucuran di wajahnya. Lelah atau pun letih sama sekali tidak ia rasakan dengan perut buncitnya. Sesekali wanita itu tersenyum manis sambil mengelus perutnya dengan manja.


"Sebentar lagi malaikat kecil ku akan lahir di dunia ini"ucap wanita hamil itu sambil tersenyum. Lalu memetik kembali buah stroberi segar, kemudian ia pun letakkan di keranjang buah yang ia selempangi.


Topi lebar yang ia gunakan agat terhindar dari terik matahari. Rambut panjangnya sebatas pinggang yang diikat asal mulai melambai-lambai diterpa angin.


"Mataharinya sudah meninggi, sebaiknya aku pulang ke rumah"ucap wanita hamil itu, sambil melihat keranjangnya yang sudah terisi penuh dengan buah stroberi. Wanita itu tidak lain adalah Milan atau Melati.


"Nona melati, sebaiknya kita pulang ke rumah"teriak wanita paruh baya yang juga habis memetik buah stroberi.


"Iya Bi Ros, aku juga sudah bersiap untuk pulang"teriak Milan.


Maklum berada di dataran tinggi, jadi suara mereka ikut meninggi jika berada di perkebunan.


Milan terlihat terengah-engah berjalan dengan perut buncitnya bersama bi Ros. Sesekali Milan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Banyaknya penduduk yang sering menyapanya dengan ramah di sepanjang jalan. Milan begitu dihormati dan dihargai oleh para penduduk desa Sabang.


Ternyata hari demi hari Milan jalani kehidupan barunya dengan penuh semangat. Setiap pagi ia akan mengatur waktunya, untuk menjalankan aktivitas barunya. Pagi hari Milan akan pergi ke perkebunan stoberi dan perkebunan bunga untuk memetik buah stroberi dan bunga yang siap panen bersama penduduk setempat, sore harinya ia pun kembali bersama-sama penduduk setempat untuk memilih kembali bunga hasil petikannya, lanjut memilih bunga yang berkualitas untuk dirangkai.


Milan pun ikut berkebun dengan penduduk desa Sabang. Lahan perkebunan stoberi dan perkebunan bunga aneka macam yang berhektar-hektar luasnya yang merupakan milik Oma Ina sudah menjadi milik calon bayinya. Sejak Oma Ina meninggal dunia tiga bulan yang lalu, semua harta warisan yang ditinggalkannya di serahkan kepada calon bayi Milan.


Perkebunan stoberi dan bunga yang dijalankan oleh Milan memiliki banyak pekerja kebun. Sekitar 30 pekerja yang bekerja di perkebunan tersebut. Dan 40 pekerja yang bekerja di pabrik pengolahan stroberi yang diolah menjadi selai. Hingga di distribusikan ke kota besar. Milan hanya mengisi hari-harinya dengan melakukan aktivitas memetik buah stroberi, ia pun menjadi hobi melakukan aktivitas tersebut.


Milan merasa kehilangan ditinggal oleh Oma Ina, wanita lansia yang selalu saja tersenyum kepadanya yang sudah menganggap nya sebagai cucunya kini sudah tiada. Sungguh ajal seseorang tidak terduga, seperti halnya jodoh, rejeki dan ajal sudah diatur oleh kehendak Tuhan.


Milan hanya mampu memikirkan masa depan calon bayinya kedepannya. Ia tidak ingin terlalu lama larut dalam masa lalunya. Namun mau bagaimana pun ia patut untuk sesekali melihat kebelakang. Tanpa masa lalu ia mungkin tidak bisa sampai di titik ini, dengan calon bayinya.


Tak butuh waktu lama, Milan bersama bi Ros sudah tiba di rumah. Milan memilih duduk di sofa sambil menarik nafas dalam-dalam, sungguh kehamilannya yang sudah memasuki tujuh bulan membuatnya sedikit letih jika berjalan jauh. Bahkan ia tidak lagi pergi ke perkebunan jika sore hari.


Para pelayan mulai menyajikan jus stroberi. Milan lalu meminum jus stroberi yang sudah menjadi favoritnya semenjak berada di desa itu.


"Alhamdulillah"ucap Milan yang baru saja menghabiskan minumannya. Milan sering mengucapkan kata-kata penuh syukur yang biasa ia dengarkan dari Oma Ina dan Bi Ros.


"Aku ke kamar dulu bi " ucap Milan, kemudian dengan hati-hati mulai bangkit dari tempat duduknya.


Milan kembali tersenyum, jika ia begitu kesusahan untuk berdiri. Kehamilan pertamanya membuatnya begitu bahagia, walaupun banyak suka dukanya. Milan kemudian berjalan dengan hati-hati menuju kamarnya. Saat tiba di kamarnya, Milan memilih membuka lemari untuk mengambil handuk, kemudian kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya.


Kini Milan sudah terlihat segar dan mengenakan pakaian hamil dibawah lutut. Perut buncitnya terlihat dengan jelas pakaian yang ia gunakan.


Milan memilih duduk di pinggir tempat tidur. Ia pun memilih membuka ponselnya. Tampak lelaki yang berwajah dingin yang menjadi layar berandanya.


"Tuan Fino pasti sudah bahagia dengan kehidupan barunya" ucap Milan sambil mengusap layar ponselnya.


"Aku sebenarnya merindukan mu tuan, kita ternyata sudah berpisah begitu lama" ucap Milan sambil tersenyum yang kembali mengusap wajah Fino yang tertera di layar ponselnya.


Milan kembali menyentuh perutnya, sesekali ia pun kembali tertawa jika tiba-tiba bayi dalam perutnya mulai bergerak.


"Kehamilan ku sudah tujuh bulan, bukankah Oma meminta ku untuk bersalin di rumah sakit terbaik negara B. Sangat beresiko jika aku bersalin di klinik desa ini, maraknya kasus kematian wanita hamil yang melakukan persalinan di desa ini. Karena peralatan medisnya tidak selengkap dengan rumah sakit pada umumnya" ucap Milan yang kembali memikirkan ucapan Oma Ina.


"Sebaiknya aku harus berangkat ke kota esok hari, sekalian aku ingin melakukan USG terhadap calon bayi ku" ucap Milan sambil tergelak tawa, karena tiba-tiba saja bayi dalam perutnya mulai menendang-nendang. Mungkinkah ia juga gembira dengan ucapan ibunya.


"Malaikat kecil ku, sayangku, mama sangat menyayangi mu di dalam perut mama. Biarkan mama beristirahat ya"ucap Milan yang mencoba mengajak berbicara bayi dalam perutnya.


Milan kemudian memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk beristirahat sejenak.


🍁🍁🍁🍁


Sementara di tempat lain.....


Fino masih saja sibuk bekerja di perusahaannya. Ia pun tidak henti-hentinya mencari keberadaan istrinya. Kesalahan yang dibuatnya di masa lalu membuat dirinya menyesali semua perbuatannya terhadap wanita yang dicintainya.


Fino sudah mengarungi tiga negara mencari keberadaan Milan, namun tetap saja tak kunjung menemukan titik terang keberadaan Milan. Setiap malam, Fino selalu saja mengunjungi bandara internasional negara B, berharap ia bisa melihat kedatangan Milan.


"Masuk" ucap Fino dengan suara beratnya yang sama sekali tidak beralih dari layar laptop nya.


Pintu ruangan nya terbuka dan menampilkan sosok Chiko yang membawa amplop coklat.


"Ada berita penting yang ingin saya sampaikan tuan" ucap Chiko dengan hati-hati.


"Cepat katakan, saya tidak memiliki banyak waktu, seminggu lagi aku akan kembali melakukan perjalanan bisnis" ucap Fino yang sama sekali tidak beralih dari layar laptopnya dan sesekali mengecek berkas penting di tangannya.


"Ini tuan" ucap Chiko sambil menyodorkan amplop coklat.


"Apa ini" ucap Fino dingin yang hanya melihat amplop coklat tersebut.


"Silahkan di buka tuan" ucap Chiko dengan wajah datarnya.


"Jangan coba-coba main rahasia kepada ku Chiko, awas saja aku pasti akan memberi mu pelajaran. Karena sudah mengganggu waktu penting ku" ucap Fino sambil membuka amplop coklat tersebut.


Fino lalu mengeluarkan isinya tanpa melihatnya, ia pun hanya sibuk menatap tajam Chiko.


"Waktu ku begitu penting, jadi kalau datang ke ruangan ku hanya membawa hal......" Fino membulatkan matanya saat melihat foto seseorang yang dirindukannya.


Jantung Fino seolah berhenti memompa, matanya melotot keluar. Ia pun tidak mampu berkata-kata melihat sosok wanita yang dirindukannya. Tak terasa tatapannya menjadi sendu, matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Milan" ucap Fino yang berhasil menyebut nama istrinya.


Terlihat foto tersebut memperlihatkan Milan yang sedang memetik buah stroberi dengan perutnya yang mulai membesar. Fino terus melihat seluruh foto Milan dari amplop coklat tersebut.


"Milan aku merindukan mu. Perutmu sudah membesar, maafkan aku yang tidak berada di samping mu" ucap Fino sambil mencium foto tersebut.


Fino kemudian beralih menatap Chiko di hadapannya.


"Dari mana kau dapatkan foto ini" ucap Fino dengan antusias. Sambil menatap tajam Chiko.


"Saya dapatkan dari pemilik toko bunga yang terletak di dekat restoran favorit tuan" ucap Chiko.


"Ayo!, Kita harus ketempat nya sekarang juga, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Milan" ucap Fino yang langsung bangkit dari duduknya.


"Tenang dulu tuan, saya mencoba mengirimkan mata-mataku ke setiap desa terpencil untuk mencari keberadaan nona Milan"ucap Chiko menjelaskan.


"Aku sudah tidak sabar, pokoknya aku harus menemui Milan. Ini adalah titik terang bagi ku untuk menemukan keberadaan Milan" ucap Fino dan langsung berjalan menuju pintu ruangan nya.


"Berhenti tuan, bagaimana jika nona Milan tidak ingin menemui tuan. Langkah apa yang akan tuan ambil" ucap Chiko kembali dengan pemikirannya.


"Aku tetap akan menemuinya dan meminta maaf kepadanya, lalu membawanya tinggal bersama ku" ucap Fino dingin.


"Baiklah tuan, tapi belum saatnya. Karena beberapa hari yang lalu, saya sempat bertemu dengan seorang wanita yang berwajah mirip dengan nona Milan" ucap Chiko yang memilih duduk di sofa.


"Bagaimanapun rupa wanita yang mirip dengan Milan, tapi aku tetap bisa mengenali istri ku" ucap Fino yang menghampiri Chiko dengan mata berkaca-kaca.


"Saya mengerti tuan" ucap Chiko dan memilih menunduk.


"Terima kasih Chiko, kau sudah berbuat yang tidak pernah aku duga di masa lalu. Baiklah aku akan menunggu informasi anak buah mu. Semoga ini titik terang bagi ku untuk menemukan Milan. Sungguh aku benar-benar merindukannya" ucap Fino sambil memukul pundak Chiko.


Lalu duduk di samping Chiko yang hanya menunduk. Fino kembali tersenyum membayangkan wajah Milan. Karena cepat atau lambat ia akan bertemu dengan Milan.


Bersambung.....