Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Tuan Alberto Cari Masalah


Kemana pun lelaki misterius itu menyembunyikan Suci, walau ke ujung dunia sekalipun, Milan akan tetap mencari dan membawa pulang Suci di kediaman suaminya.


Sasa yang baru saja mendengar pembicaraan Milan dengan si penjual langsung terisak mendengar sahabatnya di culik oleh lelaki misterius.


"Sasa kamu pulang pakai taksi saja ya, aku akan mencari keberadaan suci, sebentar lagi petang, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Suci. Aku janji akan menemukan Suci dan membawanya dengan selamat" ucap Milan yang sedang meyakinkan Sasa.


"Iya nyonya, tolong selamatkan Suci, hiks hiks hiks" ucap Sasa yang masih terisak.


"Iya, aku janji" ucap Milan yang mengelus punggung Sasa.


Pak Hardi menghampiri mereka untuk membawa barang belanjaan majikannya.


Mereka lalu berjalan beriringan menuju area parkir. Sebuah taksi melintas ke arah mereka dengan cepat Milan memberhentikan taksi tersebut.


"Kamu pulang pakai taksi saja ya, pak Hardi tolong barang belanjaan di masukkan saja ke dalam mobil taksi"ucap Milan.


Pak Hardi sempat bengong, mengapa pelayan wanita malah pulang menggunakan taksi.


"Baik nyonya" ucap pak Hardi, lalu mengerjakan apa yang di perintahkan oleh majikannya.


Milan memberikan beberapa lembar uang tunai kepada Sasa, sebagai bayaran untuk ongkos taksinya.


"Terima kasih nyonya"ucap Sasa sambil menghapus air matanya.


"Hemm, jangan lupa kabari aku, jika kamu sudah sampai di rumah" ucap Milan.


"Baik nyonya" ucap Sasa, kemudian masuk ke dalam mobil.


Mobil taksi melaju membelah jalanan pusat kota menuju kediaman tuan Fino. Sementara Milan masuk ke dalam mobil dan kembali memerintahkan pak Hardi menuju jalan gajah yang disebutkan oleh lelaki misterius yang menelponnya tadi.


"Maaf nyonya, saya hanya ingin tentang permasalahan yang terjadi sampai-sampai Sasa nangis" ucap pak Hardi yang sama sekali tidak tahu menahu tentang tindak masalah yang sedang terjadi.


"Suci di culik pak, dan penculiknya menyuruh saya ke jalan gajah untuk menyelamatkan Suci" ucap Milan yang terlihat tenang.


"Astaga nyonya, Suci di culik. Semoga penculiknya tidak ngapa-ngapain suci" ucap Pak Hardi yang sedikit kaget mendengar ucapan majikannya.


"Iya pak, aku tidak akan mengampuni mereka jika sampai terjadi sesuatu kepada Suci" ucap Milan dengan tatapan tajam.


Kini mereka sudah berada di kawasan jalan gajah, Milan bersama pak Hardi mulai mengamati setiap rumah mewah yang tampak kokoh dari dalam mobil.


Tiba-tiba saja ponsel Milan kembali berbunyi, sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak di kenal.


'Jalan gajah blok 11, jangan coba-coba membawa perlindungan'.


Itulah pesan singkat dari nomor yang tidak di kenal, yang Milan yakini lelaki misterius yang menculik Suci. Milan mengepalkan tangannya, karena beberapa menit lagi waktu menunjukkan pukul tujuh malam.


Milan bersama Pak Hardi menelisik setiap rumah, mencari blok 11. Hingga mata Milan membulat melihat sebuah rumah yang tampak megah yang berada paling ujung yang memiliki gerbang yang menjulang tinggi dan digerbang tersebut tertulis blok 11.


"Pak di sana rumahnya" ucap Milan sambil menunjuk rumah paling ujung dan paling megah di antara rumah lainnya.


Pak Hardi lalu melaju dengan cepat menuju rumah tersebut dan berhenti tepat di gerbang masuk rumah megah tersebut. Milan dengan cepat turun dari mobil. Ia mampu melihat suasana rumah tersebut yang sangat ketat penjagaan yang sama persis dengan kediaman suaminya.


"Pak tunggu saya di sini, biar saya yang masuk menemui mereka" ucap Milan.


"Tapi nyonya...."


"Jangan khawatirkan saya pak" ucap Milan dengan penuh keyakinan.


Milan lalu berjalan menuju gerbang utama. Tampak 6 penjaga berbadan kekar menghadang Milan. Salah satu penjaga berlari menghampiri temannya yang sedang menghadang Milan. Penjaga itu lalu berbisik kepada temannya. Setelah mendapat kesepakatan dari temannya, mereka lalu membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Milan masuk.


Dua penjaga berbadan kekar mengarahkan Milan masuk ke dalam rumah yang begitu megah yang sebelas duabelas dengan rumah suaminya. Para pelayan wanita dan pria menyambut kedatangan Milan dengan hormat di pintu masuk.


Milan sedikit tercengang melihat mereka semua, ia merasa tidak beres dengan semua sambutan tersebut yang dianggap terlalu berlebihan. Padahal kedatangan Milan ke rumah tersebut, semata untuk membebaskan pelayannya.


"Akhirnya gadis manis ku datang juga" ucap seorang lelaki yang tampak rapi menghampiri Milan.


"Apa anda ingin cari mati, harusnya manfaatkan waktu anda sebaik-baiknya dan jangan berani cari masalah dengan ku" ucap Milan sambil tersenyum mengejek.


Sudah kuduga, ternyata ABG Tua ini cari mati. Batin Milan.


"Seorang Alberto tidak takut mati sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya" ucap tuan Alberto dengan seringai licik diwajahnya.


"Oh ya, besar juga nyali anda. Jangan berbasa-basi, cepat katakan.....dimana pelayan ku berada dan apa motif anda menculik pelayan ku"ucap Milan dengan tatapan membunuhnya.


"Ha ha ha, hanya satu alasan ku, yaitu menginginkan mu gadis manis" ucap tuan Alberto sambil tersenyum mesumnya.


Milan mengepalkan tangannya dengan tatapan membunuhnya.


Mengikuti permainan tuan Alberto tidak ada salahnya bagi Milan, yang jelas Suci tetap aman.


"Ayolah jangan sungkan, aku sangat senang kedatangan mu di kediaman ku. Hingga aku menyiapkan makan malam spesial untuk kita berdua" ucap tuan Alberto sambil tersenyum.


Tuan Alberto berjalan menuju ruang makan. Milan mengepalkan tangannya mengikuti langkah kaki tuan Alberto. Lagi-lagi mata Milan membulat saat mendapati Suci sedang bersama pelayan menata makanan di atas meja.


"Nyonya" ucap Suci memelas melihat kedatangan majikannya, dan sorot matanya meminta perlindungan kepada majikannya.


Milan begitu mengerti sorot mata Suci, Milan merasa semua ini gara-gara ulahnya.


"Lihatlah betapa hebatnya diriku mempertemukan kalian berdua di kediaman ku" ucap tuan Alberto yang tengah duduk di kursi meja makan.


"Silahkan duduk nyonya" ucap Suci yang menarik kursi dan mempersilahkan duduk majikannya.


Milan lalu duduk di kursi sambil mengontrol emosi nya.


Berbagai aneka Makanan tersaji dengan indah di atas meja dengan beberapa lilin yang menghiasi meja makan tersebut. Para pelayan mulai melayani tuan Alberto dengan Milan.


"Makanlah gadis manis, ini makan malam pertama bagi kita. Semoga kamu menyukainya" ucap tuan Alberto yang selalu saja tersenyum dan tampak bugar menatap wajah cantik Milan.


Sementara Suci dan beberapa pelayan wanita di kediaman tuan Alberto memilih berbaris di ruang dapur yang tidak ingin menganggu tuannya.


Tuan Alberto mulai menikmati makanan nya, sementara Milan sedang menatap tajam tuan Alberto yang sama sekali tidak ingin menyentuh makanan tersebut. Tiba-tiba saja ponsel Milan kembali berbunyi. Dengan cepat Milan menjawab panggilan masuk tersebut.


"Halo".


"Kau dimana gadis tua" ucap Fino kesal karena sedari tadi ia tidak menyaksikan Milan di rekaman cctv di dalam kamarnya.


"Itu bukan urusanmu tuan" ucap Milan ketus.


"Aku ulangi lagi ucapan ku, kau dimana hah dan sedang apa" ucap Fino kesal.


"Aku sedang makan malam bersama seorang lelaki, apa kamu sudah puas hah. Bahkan kami akan kembali berkencan malam ini. Sudah dulu, anda menggangu waktuku" ucap Milan dengan penuh kebohongan sambil tersenyum sinis.


Rasain, semua lelaki sama saja.....menjengkelkan. Batin Milan.


"Saya sedang diet tuan Alberto, jadi saya tidak bisa menakan makanan lezat ini, kapan-kapan kita kembali makan malam yang begitu berkesan tuan" ucap Milan yang mencoba memberikan rayuan untuk si tua bangka itu.


"Oh baiklah, kamu memang yang terbaik gadis manis. Aku sangat menunggu waktu yang tepat itu" ucap tuan Alberto sambil tersenyum yang berhasil percaya dengan ucapan Milan.


"Aku sudah menemani tuan makan malam loh, dan sepertinya ini sudah larut malam. Saya sudah lelah dan butuh istirahat. Apa boleh saya kembali bersama Suci" ucap Milan sambil menopang dagunya.


"Tentu boleh, aku tidak ingin melihat gadis manis ku lelah" ucap tuan Alberto yang menghentikan menikmati makanan nya.


Aku harus berbuat baik dihadapan gadis manis ku. Agar ia bisa luluh dengan ku, cara kekerasan tidak menjamin untuk mendapatkannya, senang rasanya bisa mengobrol bersama dengannya. Batin tuan Alberto yang sedang menatap Milan.


Beraninya si tua bangka ini membuat rencana makan malam dadakan, dengan cara menculik suci sebagai umpannya, agar aku bisa makan malam dengannya? sungguh licik. Tunggu saatnya aku menghabisi mu tua bangka, karena kau sudah cari masalah dengan ku. Batin Milan sambil tersenyum sinis.


"Kalau begitu saya yang akan mengantar mu pulang" ucap tuan Alberto.


"Baiklah, tidak masalah" ucap Milan.


Milan memilih mengikuti permainan tuan Alberto, ia pun bersikap manis di hadapan lelaki tua bangka itu. Padahal hatinya ingin sekali membunuh lelaki itu.


Milan bersama Suci duduk di kursi belakang, sedangkan tuan Alberto bersama supir pribadi nya duduk di depan. Mereka satu mobil di mobil tuan Alberto. Sementara pak Hardi hanya mengekor di belakang mengikuti laju mobil di depannya.


Kini Milan sudah tiba di kediaman suaminya. Para penjaga di pintu gerbang masuk sedang bersiaga. Milan turun dari mobil tuan Alberto diikuti oleh Suci. Tak lupa Milan mengucapkan terima kasih kepada tuan Alberto yang sudah mengantarnya pulang. Kemudian mobil Tuan Alberto melaju meninggalkan tempat tersebut.


Padahal Milan hampir saja memporak porandakan kediaman tuan Alberto. Namun permainan tuan Alberto cukup halus sehingga Milan hanya mampu mengikuti rencananya dan tidak melakukan jalur kekerasan.


Sementara lelaki yang berada di sebuah kamar hotel tampak marah besar, ia tidak terima istrinya jalan bersama dengan seorang lelaki apalagi sampai makan malam bersama. Perasaannya di selimuti api cemburu dan tidak terima wanita yang berstatus sebagai istrinya jalan bersama dengan seorang lelaki.


Iapun lalu menghubungi sekretaris nya.


"Chiko selesaikan pekerjaan mu malam ini, aku tidak mau tahu. Pokoknya harus selesai" ucap lelaki tersebut yang tidak lain adalah Fino.


"Baik tuan" ucap Chiko yang baru saja membersihkan tubuhnya. Fino langsung mematikan sambungan telepon nya.


Apa yang terjadi dengan tuan Fino sampai menyuruh ku menyelesaikan pekerjaan ku. Nasib nasib lembur lagi. Batin Chiko.


Baru saja makan malam, Fino kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia benar-benar kejar target untuk menyelesaikan pekerjaan nya, agar cepat kembali ke negara B untuk menemui istrinya. Sungguh ia tidak terima istrinya berbuat sesukanya di luar sana.


"Aku ingin kembali esok hari, tunggu kepulangan ku gadis tua" ucap Fino yang masih kesal yang sedang berkutat dengan laptopnya.


Bersambung......