
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Walaupun begitu lama penantian panjang keluarga kecil Fino telah lalui dengan baik. Kini Fino bersama keluarga kecilnya mulai berjalan memasuki bandara, terlihat anak buahnya yang dipimpin oleh Chiko sedang melakukan pengawalan terhadapnya.
Tampak Fino menggendong Malfin dan tangan satunya bergandengan tangan dengan tangan istrinya. Bi Ros dan ketiga pelayan membawa koper dan segala perlengkapan majikannya.
Fino kembali menuntun anak dan istrinya menaiki pesawat jet pribadinya, kemudian disusul oleh Bi Ros bersama tiga pelayan wanita. Chiko dan anak buahnya hanya mampu menyaksikan tuannya di bawah tangga.
“Apa kamu sudah siap sayang”ucap Fino kepada istrinya yang tengah menggenggam tangannya.
“Aku sudah siap mas”ucap Milan dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.
“Malfin juga siap pah”ucap Malfin yang duduk di pangkuan papahnya.
“Iya sayang papah tahu”ucap Fino sambil mengelus rambut putranya.
Tak berselang lama kemudian, pesawat jet pribadinya mulai terbang di udara menuju Negara tujuannya yaitu Negara A.
Semoga perjalan kami tetap berjalan lancar dan selamat sampai tujuan. Terima kasih ya Allah, akhirnya aku bisa menemui keluarga suamiku. Batin Milan dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan ke Negara A memakan waktu empat jam lamanya, Fino beserta keluarga kecilnya begitu enjoy melakukan perjalanan jauh. Milan sudah tertidur di pundak suaminya sedangkan Malfin tampak terlelap di pangkuan papahnya.
“Ibu dan anak sama-sama memiliki kebiasaan aneh, harusnya kalian mengatakan kepada papah bahwa mau tidur. Kamar pribadiku tersedia di dalam pesawat ini. Kuharap tubuh kalian tidak pegal setelah ini”ucap Fino sambil mengelus rambut putranya.
Pesawat jet pribadi Fino mendarat dengan mulus di bandara internasional Negara A. Fino kembali membawa istri dan anaknya menuruni pesawat jet pribadinya. Fino selalu saja menggenggam tangan istrinya, sedangkan putranya selalu saja berada di gendongannya. Mereka berjalan keluar bandara di ikuti Bi Ros dan ketiga pelayan wanita.
Terlihat dua buah mobil mewah sudah terparkir rapi dia halaman bandara dan juga terdapat lelaki berbadan kekar mengenakan jas tengah berbaris rapi. Saat melihat kedatangan Fino bersama istri dan anaknya. Semua lelaki berbadan kekar langsung membungkukkan badannya dengan penuh hormat.
Setelah itu, salah satu dari mereka dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Fino beserta istri dan anaknya.
“Silahkan masuk tuan dan nyonya”ucap lelaki tersebut.
“Hemm”.
Milan terlebih dahulu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, kemudian disusul oleh Fino yang masih saja menggendong putranya yang masih saja tertidur pulas. Semuanya lengkap, Mobil melaju membelah jalanan kota Negara A. Sedangkan mobil yang satu di penuhi oleh Bi Ros dan pelayan wanita yang juga melaju mengikuti mobil majikannya.
Lagi-lagi Fino tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang istri. Sedangkan Milan terlihat duduk termenung menatap jalanan Negara kelahirannya.
Sudah lama aku meninggalkan Negara kelahiran ku, aku bahkan sempat berpikir, apakah aku bisa kembali di Negara kelahiran ku atau tidak. Semenjak bersama dengan mas Fino, hidupku seolah berubah drastis. Aku yang dulunya begitu cuek dengan hidupku dan sama sekali tidak membutuhkan sebuah cinta dari seorang lelaki. Walaupun aku pernah tersakiti dan menderita akibat ulah mas Fino, namun kali ini aku menjadi sosok wanita yang paling bahagia di dunia ini karena bersama dengan mas Fino.
Mas Fino begitu mencintaiku dan menjagaku dengan baik. Dan kehadiran buah hatiku menambah keharmonisan rumah tangga kami. Mas Fino menjadi suami yang baik dan sekaligus ayah superhero untuk anakku, dan saat ini kabar bahagia kembali menghampiriku, mas Fino kembali menjagaku dengan baik dan selalu memenuhi keinginanku, namun terkadang mas Fino bersikap posesif kepadaku.
Aku berharap bisa bertemu dengan keluarga mas Fino. Semoga keluarga mas Fino menerima kami dengan tangan terbuka, aku tidak ingin silaturahmi kami terputus dengan hubungan renggang ini, apalagi mereka adalah keluarga dekat mas Fino. Batin Milan.
Fino pun ikut termenung menatap lurus ke depan.
Semoga mama dan adikku Darren memaafkan ku, semua kesalahan yang pernah aku lakukan, ku harap mereka sudah melupakannya. Aku sudah lama ingin menemui mereka, namun tekat ku belum bulat untuk berdiri di hadapan mereka. Padahal aku begitu merindukan mama dan adikku Darren.
Aku pun ingin melihat ponakan kembar ku, mungkin mereka sudah sebesar anakku Malfin. Semoga mama tetap sehat dan bisa melihat cucu pertamanya dari kami. Aku juga berharap seluruh keluargaku tetap sehat dan bahagia seperti keluarga kecilku. Batin Fino.
Lamunan Fino terbuyarkan saat Milan memanggil namanya.
“Mas Fino”ucap Milan sambil membelai wajahnya.
“Hemm”ucap Fino sambil tersenyum tipis.
“Sebentar lagi kita sampai di kediaman keluarga mas, apakah mas sudah siap untuk menemui mereka?”ucap Milan yang balik bertanya, dengan tatapan sendunya.
“Aku sudah siap sayang. Aku siap bertemu dengan keluarga ku”ucap Fino lalu mencium punggung tangan istrinya.
Milan tersenyum manis, kemudian memilih bersandar di pundak suaminya.
“Apa kamu lelah sayang”ucap Fino lalu beralih menyentuh perut istrinya.
“Sedikit mas”ucap Milan manja.
“Kalian harus kuat, setelah kita sampai, aku pasti akan memijit mu sayang”ucap Fino sambil mengelus perut istrinya.
Milan tergelak tawa, ia pun ikut menyentuh tangan suaminya yang begitu betah mengelus perutnya.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang membawa mereka mulai memasuki gerbang utama kediaman Alexander, para penjaga begitu ketat berada di area gerbang. Seluruh penjaga membulatkan matanya melihat sosok di dalam mobil, mereka pun dengan cepat membungkuk dengan hormat. Setelah mobil mulai menjauh mereka pun berdiri dengan tegak.
"Tuan Fino kembali”ucap salah satu penjaga.
"Aku senang tuan Fino kembali di kediamannya" timpal teman satunya.
Kini mobil Fino berhenti tepat di halaman kediaman Alexander. Sang supir dengan cepat turun untuk membukakan pintu majikannya. Fino terlebih dahulu turun dari mobil, kemudian disusul oleh Milan yang kembali menggendong Malfin.
“Apa kamu siap bertemu dengan mama dan lainnya”ucap Fino yang selalu saja mengucapkan kata siap.
“Aku sangat siap mas, sudah waktunya kita untuk menemui mama dan lainnya”ucap Milan sambil tersenyum.
Fino kembali memandangi di sekelilingnya yang sama sekali tidak berubah. Tukang kebun tersenyum ramah sambil sedikit membungkuk menatap Fino.
Fino kemudian kembali menggenggam tangan Milan dan berjalan bersama-sama menuju pintu utama yang sedang tertutup rapat.
Saat di depan pintu utama, Fino kemudian memencet bel rumah sebanyak tiga kali. Pintu utama terbuka dengan lebar menampilkan sosok pelayan yang begitu terkejut, kemudian dengan cepat membungkukkan badannya memberi hormat.
“Silahkan masuk tuan”ucap pelayan wanita.
Fino langsung berjalan masuk ke dalam rumah, matanya langsung menelisik sepasang anak kembar sedang bermain bersama di ruang tamu dengan dua pengawasan wanita paruh baya.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki Fino begitu menggema di atas lantai marmer membuat sepasang anak kembar langsung mengalihkan pandangannya melihat ke arahnya.
“Assalamualaikum”ucap Milan yang berada di samping suaminya.
“Waalaikumsalam”ucap anak perempuan yang begitu cantik dan imut dengan suara merdunya.
“Mama...oma ada tamu”teriak anak perempuan yang begitu heboh dengan suara merdunya.
Fino dan Milan langsung tersenyum menatap kedua anak kembar di hadapannya.
"Masya Allah, tabarakallah nak, kalian begitu lucu dan menggemaskan”ucap Milan sambil tersenyum.
“Terima kasih bibi, silahkan duduk”ucap anak perempuan itu.
Dua wanita paruh baya ikut mempersilahkan Milan dan Fino untuk duduk di sofa.
“Siapa sayang”ucap seorang wanita yang mulai mendekat menghampiri mereka.
Fino begitu terkejut mendengar suara yang begitu dirindukannya. Dengan cepat Fino melirik ke arah sumber suara, hingga mata mereka bertemu.
“Fino”ucap wanita paruh baya itu yang tidak lain adalah Nyonya Ratu. Fino langsung melepaskan tangannya dari genggaman istrinya dan dengan cepat menghampiri mamanya untuk memeluknya. Sosok wanita paruh baya yang begitu ia rindukan.
“Mama sangat merindukanmu nak, mama sedari dulu memaafkan mu”ucap Nyonya Ratu dengan perasaan haru.
Sementara Fino hanya mampu diam, sambil memeluk erat mamanya. Sedangkan Milan hanya mampu tersenyum melihat mereka. Cukup lama ibu dan anak itu saling berpelukan untuk menghilangkan kerinduan diantara keduanya.
Mata nyonya Ratu kembali membulat sempurna melihat penampilan Milan yang berubah total. Nyonya Ratu lalu melepaskan pelukannya dan beralih menatap Milan dengan sosok anak kecil yang begitu tenang di dekapan Milan.
"Milan"ucap nyonya Ratu dengan mata berkaca-kaca.
"Mama, Milan sangat merindukan mama"ucap Milan dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa anak kecil ini sayang"ucap nyonya Ratu yang memegang lengan Milan.
"Dia anakku ma, cucu mama"ucap Fino dengan mata berkaca-kaca.
"Masya Allah, mama sama sekali tidak tahu menahu dengan kehidupan kalian. Ternyata aku juga sudah memiliki cucu dari kalian"ucap nyonya Ratu dengan air mata yang sudah tumpah membasahi wajahnya.
Fino kemudian beralih menggendong putranya dari Milan yang masih saja tertidur pulas.
Kini Milan tengah berpelukan erat dengan ibu mertuanya. Sungguh pemandangan indah untuk keluarga Alexander. Sementara sepasang anak kembar hanya mampu mematung melihat keakraban Omanya dengan orang asing menurutnya.
Bersambung......
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏