
Seluruh keluarga Alexander tengah berkumpul di area taman belakang. Taman belakang dengan indahnya di sulap sedemikiam rupa, background balon dan lampion tampak menghiasi area taman belakang. Rupanya keluarga Alexander tengah melakukan acara makan-makan sekedar hanya berkumpul bersama.
Tak berselang lama kemudian, Tuan Alvin dan Nyonya Ira hadir di tengah-tengah mereka karena diundang langsung oleh besannya. Adelio dan Adelia langsung berlari menghambur kepada kakeknya. Tuan Alvin dan nyonya Ira begitu bahagia melihat tumbuh kembang cucunya yang semakin pintar saja. Bahkan Adelio terus saja menempel di kakeknya yang sedang menikmati jamuan makan malam keluarga Alexander.
Ziva dan Darren begitu senang atas kehadiran orang tua Ziva. Milan dan Fino ikut menyambut mereka dan saling bersalaman bersama. Kini semua keluarga Alexander maupun keluarga Ziva tampak bahagia menikmati acara makan malam tersebut.
Setelah selesai makan malam bersama di area taman belakang, mereka kembali di berikan kejutan oleh Tuhan dengan turunnya gerimis secara tiba-tiba. Seluruh keluaga dengan cepat masuk ke dalam rumah dan memilih kembali berkumpul di ruang keluarga. Tingkah Adelio semakin menggemaskan di gendongan kakeknya, walaupun selalu saja menampilkan wajah dinginnya, tapi saat bersama kakeknya ia menjadi anak kecil yang imut dan manis. Tidak hanya itu, kemana pun tuan Alvin melangkah pasti Adelio akan mengekor di belakangnya.
Sementara Malfin merasa iri dengan kedekatan Adelio dengan kakeknya, Malfin pun ingin menempel pada tuan Alvin, namun anak kecil itu merasa takut dan canggung. Pasalnya tuan Alvin bukan kakeknya, sehingga ia hanya mampu cemberut di dekat papah dan mamanya.
Milan yang melihat tingkah anaknya langsung memberikan kode kepada nyonya Ratu bahwa cucunya sedang cemberut. Kemudian ia pun membisikkan sesuatu kepada Malfin. Malfin dengan cepatnya tersenyum senang mendengar ucapan mamanya.
“Adelia, bolehkah aku bergabung dengan mu?”ucap Malfin sambil tersenyum.
“Ayo sini, kakek kita ajak Malfin bermain ya”ucap Adelia.
Tuan Alvin tersenyum menatap Malfin kemudian menyuruh Malfin mendekat ke arahnya. Tanpa takut ataupun canggung Malfin ikut mendekat ke arah tuan Alvin dan langsung memeluk kaki lelaki tua itu.
Semua orang tergelak tawa melihat tingkah lucu Malfin yang seolah memijit kaki tuan Alvin.
“Kakek, aunty exa mana?, mengapa tidak ikut kalian, Lio rindu sama aunty exa”ucap Adelio yang mulai angkat bicara, pasalnya setiap kali kakeknya mengunjunginya, Lexa selalu hadir bersama mereka.
“Aunty mu sedang banyak kerjaan nak, jadi tidak kesini menemui mu”ucap tuan Alvin sambil mengelus rambut cucunya.
Hanya kata o yang terucap di bibir Adelio. Malfin, Adelia dan Adelio tengah bermain bersama sambil menyusun susunan gambar di meja bundar. Sementara para orang tua hanya saling mengobrol dan bercandau gurau.
Semua keluarga Alexander memilih masuk ke kamar mereka masing-masing setelah kepergian tuan Alvin dan nyonya Ratu. Tak terkecuali Fino yang langsung membawa keluarga kecilnya ke kamarnya. Senyuman manis selalu saja menghiasi bibir Milan, karena ia begitu bahagia berkumpul bersama keluarganya. Fino tampak setia menggengam tangannya, sambil menggendong Malfin yang sudah tertidur di gendongannya.
“Pelan-pelan mas”ucap Milan saat berada di dalam kamarnya yang melihat suaminya meletakkan tubuh putranya di atas tempat tidur. Milan kemudian memilih mengganti pakaian putranya dengan hati-hati, takutnya Malfin terbangun.
Setelah itu Milan dan Fino memilih ke toilet untuk bersih-bersih.
Kini Milan dan Fino sudah berada di atas tempat tidur dengan mengenakan piyama tidur couple. Milan kembali bersandar di dada bidang suaminya yang selalu saja memberikan kehangatan untuknya.
“Lima hari lagi, kita akan pulang ke rumah. Soalnya pekerjaan ku semakin menumpuk dan berbagai jadwal pertemuan dengan para rekan bisnisku sengaja aku alihkan diakhir bulan mendatang, ini semua aku lakukan demi bisa berkumpul dengan keluargaku. Mungkin kedepannya kita jarang bertemu, karena aku akan melakukan perjalan bisnis ke berbagai Negara demi kemajuan perusahaan ku”ucap Fino sambil mengelus perut istinya.
“Maafkan aku, jika kedepannya meninggalkanmu karena urusan bisnis”ucap Fino sambil mencium kening istrinya.
“Tak perlu minta maaf mas, soalnya kau bekerja demi kami bukan”ucap Milan sambil mengelus lengan suaminya.
“Iya sayang, karena aku ingin selalu membahagiakan kalian dengan pencapaian yang aku miliki saat ini”ucap Fino sambil tersenyum.
“Ayo tidur mas”ucap Milan yang mulai menggeser tubuhnya, namun secepat kilat Fino kembali mendekapnya.
“Eits, kau belum melakukan tugasmu”ucap Fino dengan seringai licik di wajahnya.
“Malfin sedang tidur di samping kita, takutnya dia terbangun mendengar aktivitas kita”ucap Milan dengan rona wajah memerah jika diajak melakukan sunah rasul.
Fino langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar sebelah. Dengan hati-hati, Fino meletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Dan tanpa basa-basi Fino langsung menyerang istrinya dengan ciuman yang menggila. Milan hanya mampu menerima setiap sentuhan dari suaminya. Hingga pada akhirnya, sepasang suami istri itu mulai melakukan aktivitas sunah rasul bagi pasangan halal seperti mereka.
Sementara di tempat lain…..
Chiko baru saja meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku seharian bekerja dan menghendel semua pekerjaan tuannya. Chiko lalu melihat ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Chiko kemudian membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya. Setelah itu, ia pun keluar dari ruangannya. Chiko kemudian berjalan menuju lift. Tampak beberapa lampu penerangan di perusahaan sudah padam.
Chiko hanya mampu memainkan ponselnya di dalam lift, hingga lift berhenti di lantai dasar. Tampak salah satu karyawan bagian divisi perencanaan sedang mondar-mandir di area lobi perusahaan.
“Tuan Chiko, maafkan saya, karena saya lupa memberikan hard copy tentang biodata anak magang dari university XF”ucap Tio yang merupakan karyawan divisi perencanaan.
“Hemm, lalu?”ucap Chiko dingin.
“Ini tuan, jumlahnya lima orang”ucap Tio sambil menyodorkan berkas biodata para anak magang.
Chiko langsung mengambil berkas tersebut, nanti ia kembali memeriksanya.
“Hemm, pulanglah”ucap Chiko lalu berjalan menuju mobilnya.
Tio langsung bernafas lega, kemudian ia pun berlari kecil menuju mobilnya.
Chiko begitu fokus mengemudikan mobilnya menuju apartemennya, jalanan tampak lenggang, namun ia pun dengan kesal membanting setirnya, saat pengendara motor menabraknya dari belakang. Dengan cepat Chiko menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Cieeetttt.
Brakk
Chiko turun dari mobil sambil membanting pintu mobilnya dan lebih kesalnya lagi ia melihat bagian belakang mobil sportnya tampak lecet. Chiko langsung mengedarkan pandangannya kea rah si pelaku yang sudah membuat mobilnya lecet. Terlihat pengendara motor sedang di timpah oleh motornya sendiri. Chiko yang melihatnya hanya mampu menatapnya dengan tatapan dingin.
“Awww”hanya kata tersebut yang terucap di bibir si pengendara.
“Sial, beti kau buat masalah lagi”ucap si pengendara yang tidak lain adalah Novi yang melihat plat mobil yang ditabraknya sudah bergeser dari tempatnya.
“Hei, kau yang sudah menyebabkan mobilku lecet”ucap Chiko dengan kemarahan yang terpancar di wajahnya yang sedang melabrak si pengendara motor ugal-ugalan.
“Aku minta maaf, aku sedikit oleng mengendarai motor ku”ucap Novi sambil menunduk memegangi lengannya yang begitu sakit dan sama sekali tidak melepas helm dan maskernya.
Suaranya begitu tidak asing. Batin Chiko yang mampu mengenali suara lawan bicaranya.
Suaranya begitu aku kenal, siapa kira-kira lelaki ini. Batin Novi yang hanya mampu melihat remang-remang wajah lelaki di hadapannya.
“Minta maaf!, saya tidak menerima permintaan maaf mu. Saya ingin kau ganti rugi sebanyak 100 juta sekarang juga”ucap Chiko dengan rahang mengeras dan siluet mata tajam yang sudah akan menerkam mangsanya.
“Apa? Seratus juta, mahal banget!” ucap Novi yang membelalakkan matanya mendengar angka tersebut. “ Lagian itu hanya lecet sedikit, tak semahal itu juga kali”ucap Novi ngegas.
“Kau! Sudah berani menentang ku”ucap Chiko yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Novi.
Deg
Novi langsung terbelalak kaget melihat secara dekat lelaki yang beberapa centi meter darinya.
Sial, lelaki ini adalah coki-coki, gawat aku kembali berurusan dengannya. Batin Novi sambil menundukkan pandangannya.
Bagaimana ini, aku harus kabur, tapi si beti sedang ngambek. Aduh tidak mungkin aku berlari marathon di larut malam seperti ini. Batin Novi.
Chiko sudah berdiri di hadapan Novi dengan tatapan membunuhnya ia pun langsung mengeluarkan pistolnya dari balik saku jasnya.
“Aku tidak punya uang sebanyak itu, utang keluargaku saja belum lunas. Aku bahkan bekerja banting tulang, pergi pagi pulang malam. Nanti aku ganti rugi setelah aku kaya”ucap Novi ketus. Kemudian berbalik badan menuju motornya.
Chiko mengepalkan tangannya mendengar ucapan wanita dihadapannya yang sudah membangunkan taringnya. Chiko dengan kesal+marah langsung menarik pinggang wanita cerewet itu. Satu tangannya kembali membuka paksa helm dan masker wanita di hadapannya.
Chiko membulatkan matanya melihat wanita cerewet dihadapanya yang begitu dikenalinya.
“Kau!”.
“Iya tuan Chiko, lepaskan aku!”teriak Novi sambil memberontak.
Chiko langsung melepaskan tangannya dan menjauh dari tubuh Novi si wanita cerewet.
“Pergilah, sebelum aku menghabisi mu”ucap Chiko dingin yang membuka pintu mobilnya.
Enak saja, main menghabisi nyawa orang. Emangnya kamu tuhan. Batin Novi sambil mengepalkan tangannya.
“Terus ganti ruginya?”ucap Novi yang kembali berteriak ke arah Chiko yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Chiko malah menancap gas meninggalkan Novi dari tempat tersebut.
“Pasti coki-coki akan menemuiku untuk ganti rugi”gumam Novi.
Novi kemudian mengambil motornya yang juga rusak parah. Lalu memilih meninggalkan tempat tersebut menuju kediamannya. Karena ia butuh istirahat seharian aktivitasnya begitu full. Gara-gara menghindari kucing garong yang terus mengikutinya, ia malah bertemu dengan beruang kutub yang super dingin.
Keesokan harinya…..
Di kediaman Alexander…
“Kemarin Novi menelpon ku, katanya dia sedang mengajukan magang di perusahaanmu mas dan hari ini dia akan mengawali magangnya mas. Aku sangat senang mas, akhirnya novi bisa memasuki dunia kerja, apalagi Novi Magang di perusahaan mu, ternyata dia tidak main-main dalam melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Aku ingin dia menjadi wanita sukses dan membanggakan ibunya”ucap Milan yang tengah mengaduk susu formula untuk Malfin.
“Oh, masalah anak magang, Chiko yang akan mengurusnya. Aku tidak sembarang menerima anak magang di perusahaan ku, hanya orang-orang yang berprestasi dan kompeten di bidangnya mampu memasuki perusahaan ku”ucap Fino yang tengah merapikan rambutnya.
“Aku percaya dengan Novi mas, dia anak yang cerdas, semoga dia bisa bergabung di perusahaan mu mas”ucap Milan sambil tersenyum menatap suaminya.
“Jika dia kompeten dan mampu memecahkan segala permasalahan perusahaan dengan baik, aku yakin dia pasti akan diprioritaskan untuk bekerja di perusahaan ku”ucap Fino lalu duduk di sofa untuk menikmati kopi buatan istrinya.
"Aku kembali mengirimkan pesan kepada nya untuk menyemangatinya"ucap Milan sambil tersenyum.
"Hemm".
Di perusahaan Alexander Group…..
Hari ini merupakan hari pertama magang di perusahaan Alexander. Terlihat para anak magang sedang di asingkan dari karyawan lainnya. Kelima anak magang sudah mendapatkan tempat dari para divisi dari berbagai bidang. Dari kelima anak magang, hanya Novi yang terlihat berpenampilan sedikit aneh. Semua teman magangnya mengenakan kemeja putih pas dibadan dan rok hitam sebatas lutut dengan penampilan layaknya karyawan sungguhan.
Semuanya terkesan cantik dan anggun dengan riasan wajah ditambah high hiels yang mereka kenakan. Sedangkan penampilan Novi biasa-biasa saja tanpa adanya riasan dan sedikit menggelitik. Novi mengenakan kemeja putih dengan rok hitam plus celana hitam berbahan kain. Sehingga jika Novi berjalan terkesan aneh dipandang, bahkan Novi sempat mendapatkan teguran dari kepala Divisi bagian pemasaran tempat ia ditempatkan.
“Saya tidak suka jika penampilanmu seperti ini, kamu itu ingin bekerja bukan untuk ngelawak”ucap Mega yang meruapakan kepala divisi pemasaran sambil menarik kesal rok yang dikenakan Novi.
“Tapi bu, saya selalu berpenampilan seperti ini, kalau boleh saya gunakan celana saja ya, takutnya…”ucap Novi sambil menunduk.
Ternyata di kantor ini ada nenek sihir.
“Terserah kamu, yang jelas kamu harus berpenampilan menarik dan sopan, kalau perlu kamu sedikit berdandang biar sedikit ok”ucap Mega cepat yang sewot jika penampilan rekan kerjanya kurang bagus di pandang, Mega melakukan semua itu demi kebaikan orang yang ditegurnya, namun selalu saja terkesan tidak baik pada orang-orang yang ditegurnya. Mega kemudian berlalu meninggalkan Novi.
Novi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia pun memilih duduk di meja kerjanya. Novi tersenyum melihat pesan singkat dari mbaknya. Setelah itu, ia pun memulai melakukan pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, namun Novi masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Ponselnya terus saja bergetar dari para teman magangnya, namun Mega kembali menegurnya.
“Ini jam makan siang, nanti saja di lanjut dan jangan lupa berkas ini bawa ke ruangan tuan sekretaris”ucap Mega yang meletakkan setumpuk berkas di meja Novi.
“Baik bu”ucap Novi yang tidak ingin cari masalah dengan atasannya.
“Haduh, aku paling kesal jika bertemu si coki-coki”ucap Novi yang sudah berdiri di depan pintu ruangan sekretaris. Untungnya dia tidak kesasar berkat petunjuk dari Tio yang begitu jelas menunjukkan arah ruangan dari sekretaris.
Tok
Tok
Tok
“Masuk”ucap suara bariton dari dalam.
Novi memasuki ruangan Chiko dengan langkah hati-hati, tak lupa Novi mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara. Terlihat Chiko hanya mengenakan kemeja kerjanya yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
“Taruh saja disitu”ucap Chiko dingin yang baru saja selesai makan siang di ruangannya. Karena terlihat bungkusan makanan masih menempati mejanya.
“Baik Tuan Chiko”ucap Novi lalu meletakkan berkas tersebut di atas meja kerja Chiko.
Ternyata cuman jasnya di kursi itu. Aku pikir dia yang duduk di kursi…hah hampir saja aku berbicara dengan kursi ini. Batin Novi.
“Saya permisi dulu tuan”ucap Novi undur diri.
“Hei anak magang, tunggu dulu! bereskan meja ini, aku tidak suka jika ruanganku berantakan”ucap Chiko dengan tatapan tajam.
Tanpa menjawab, Novi kemudian membereskan meja tersebut dan membuang bekas bungkusan makanan yang begitu banyak di atas meja.
Sabar…ini ujian, gila…ternyata si coki-coki doyan makan juga.
“Jangan lupa, tutup pintunya”ucap Chiko, kemudian meneguk segelas air putih. Saat melirik Novi yang mulai berjalan keluar.
Kini Novi tengah menikmati makan siangnya di area roftop perusahaan. Novi selalu membawa bekal setiap hari, masakan ibunya menjadi primadona selera lidahnya dan tidak ada duanya.
Novi lebih suka menyisihkan uangnya ketimbang membeli makanan di luar. Ia benar-benar tumbuh menjadi gadis mandiri. Sejak ayahnya meninggalkannya, Novi menjadi tulang punggung di keluarganya dan hasil jeri payahnya, ia kembali membangun usaha kecil-kecilan untuk ibunya, berupa kedai makanan yang sampai sekarang masih di minati oleh para langganan setianya.
Bersambung…..
Jangan lupa tinggalkan jejak…🙏🙏🙏
Beberapa episode kedepannya, kisah Chiko yang akan di bahas tuntas🤭