
Setelah kepergian Fino, sepasang mata telah mengintainya sedari tadi saat Fino mencoba menyelamatkan Milan. Hingga orang tersebut terkejut melihat Fino keluar dari hotel menggendong seorang wanita dan parahnya lagi ia mampu menyaksikan dari kaca spion mobil nya Fino berciuman dengan seorang wanita di dalam mobilnya.
Siapa wanita itu, bisa-bisanya dia bermesraan dengan Fino Alexander. Batin seseorang yang wajahnya tertutupi topeng, dengan kepalan tangannya.
"Aku harus menghancurkan mereka berdua"ucap si pengintai sambil melepaskan topengnya.
Ternyata sosok pengintai tersebut adalah seorang wanita cantik nan seksi, siapa lagi kalau bukan Gabriela dengan tambahan nama belakang Alberto sebagai nama samaran nya.
Gabriela lalu menghubungi seseorang untuk melapor hasil intaian nya.
"Si tua bangka telah tiada ketua. Fino Alexander berhasil melenyapkannya" ucap Gabriela dengan tatapan tajam yang terus menatap bangunan hotel yang sudah dilalap si jago merah.
"Itulah akibatnya, karena dia selalu berpoya-poya dan menghamburkan harta kekayaan ku, tapi bagiku tak masalah. Cepat jalankan rencanamu untuk menghabisi Fino Alexander. Aku tidak mau tahu dan singkirkan semua penghalang yang menghambat setiap pergerakan mu”ucap Seseorang di ujung telepon
“Baik ketua, saya pastikan akan menghabisi Fino Alexander secepatnya dan saya berjanji tidak akan pernah mengecewakan anda”ucap Gabriela dengan keyakinan penuh untuk menghabisi ketua The Tiger.
Lalu sambungan telepon mereka berakhir, kemudian Gabriela juga meninggalkan lokasi tersebut yang sudah di penuhi beberapa unit mobil pemadam kebakaran dan mobil pihak kepolisian yang sedang mengamankan lokasi tersebut.
Sementara Fino dan Milan sudah memasuki pintu gerbang kediamannya dan disambut dengan hormat oleh para penjaga keamanan dikediamannya, dengan laju mobil pelan hingga memasuki garasi mobil. Fino lalu turun terlebih dahulu kemudian berlari kecil untuk membukakan pintu mobil untuk Milan. Sedikit tersirat senyuman dibibir manis Milan mana kala dengan sopan Fino menggendongnya kembali memasuki kediamannya.
Bi Sri bersama beberapa pelayan wanita menyambut kedatangan sepasang suami istri itu dengan perasaan lega, karena nyonya mereka kembali dengan selamat. Milan melihat seluruh pelayan wanita di dalam gendongan Fino.
“Tunggu tuan, aku hampir lupa dengan Suci. Apa dia baik-baik saja”ucap Milan yang baru mengingat dengan pelayan wanitanya.
“Dia baik-baik saja, kau tidak perlu cemas kepadanya”ucap Fino dingin yang tidak suka Milan menyebut nama pelayannya. Lalu kembali berjalan sambil menggendongnya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Saat tiba di kamarnya, dengan hati-hati Fino mendudukkan tubuh Milan di sofa, kemudian iapun berlalu menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya, Milan hanya mampu menatap kedua pergelangan tangannya yang tampak lecet dan memar, begitupun dengan leher dan kakinya yang juga memar dan terdapat goresan-goresan kecil layaknya luka bakar dari rantai besi. Milan hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar, pastinya ia akan merasakan perih jika permukaan kulitnya terkena air.
“Aku paling benci jika kulitku lecet seperti ini, mana lagi leherku yang sudah perih, pasti akan membuatku susah tidur”gumam Milan sambil menyentuh lehernya yang tampak lebam melingkar mengikuti lingaran rantai besi.
Milan memilih menyandarkan punggungnya di sofa, sambil menunggu Fino keluar dari toilet, karena dirinya pun ingin membersihkan tubuhnya. Tak berselang lama kemudian, Fino keluar dari toilet hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya dengan rambut basahnya yang semakin memancarkan aura ketampanan yang luar biasa. Milan tak sengaja melirik kearah Fino, namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah lain, karena tidak ingin melihat Fino bertelanjang dada di depan matanya.
“Kau ingin membersihkan tubuhmu gadis tua”ucap Fino yang sudah berdiri di hadapan Milan dengan gaya coolnya yang hanya mengenakan handuk sambil mengibaskan rambutnya.
Milan hanya mengangguk dan tidak berani menatap Fino dengan keadaan seperti itu.
Fino dengan sigap kembali mengangkat tubuh Milan dan membawanya masuk ke dalam toilet. Entah mengapa debaran jantung keduanya tiba-tiba bereaksi, ditambah permukaan kulit mereka kembali bersentuhan langsung. Milan merasa tidak nyaman dengan kulit mereka yang bersentuhan. Milan berusaha bergerak lusu di dalam gendongan Fino hingga handuk Fino melorot turun ke lantai. Fino membulatkan matanya, ia ingin mempertahankan handuknya namun keburu melorot, Milan terkejut bukan main hingga terus memberontak di gendongan Fino sampai ia terjatuh di lantai.
“Auuww”ringis Milan sambil memegangi bokongnya dengan rasa kesal karena terjatuh dari gendongan Fino, akibat ulahnya sendiri.
Ia pun mendongak menatap Fino yang sedang berjongok memungut handuknya.
“Akkhhh, nenek moyangmu”teriak Milan histeris melihat aset berharga suaminya terpampang dengan nyata di depannya. Sedangkan Fino dengan santai kembali melilitkan handuknya di pinggangnya.
“Kenapa dengan nenek moyangku”ucap Fino dingin sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Milan berdiri.
“Saya takut”ucap Milan pelan dengan lagak gelagapan karena tidak tahu harus menjawab apa, hingga meraih uluran tangan suaminya.
“Hah! kau takut, padahal kau sudah bertemu dengannya”ucap Fino sambil tersenyum sinis.
Wajah Milan berubah menjadi memerah dengan perasaan malu, ia pun menundukkan pandangannya dan tidak ingin menatap lelaki dibencinya.
“Bersihkan tubuhmu, aku tidak ingin aroma tubuh si tua bangka masih menempel di tubuhmu”ucap Fino dingin lalu keluar dari toilet.
Milan hanya diam, setelah mendengar pintu toilet tertutup, ia pun lalu melepaskan seluruh pakainnya kemudian berendam air hangat di dalam bathub yang sudah disiapkan oleh Fino. Sesekali Milan meringis kesakitan dengan kulitnya yang memar. Setelah dirasa cukup, iapun membilas tubuhnya dan menyambar handuk di kotak handuk yang tersedia di toilet tersebut lalu ia lilitkan ditubuhnya.
Kemudian Milan keluar dari toilet dan melangkahkan kakinya ke ruang ganti. Milan memilih mengenakan piyama tidur yang nyaman untuknya, walaupun terlihat agak seksi namun ia tidak ambil pusing yang jelas tidak melukai permukaan kulit dilehernya yang tampak melingkar layaknya donat panas.
Milan keluar dari ruang ganti dan memilih mendekat ke tempat tidur, tampak Fino sudah berada di atas tempat tidur yang sedang menyandarkan punggungnya di badboard tempat tidur yang juga mengenakan piyama tidur dengan warna yang senada dengannya yaitu biru dongker.
Lah kok warna piyama tidurnya mirip dengan ku, layaknya janjian. Batin Milan.
Milan lalu mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur dekat Fino berada. Fino lalu ikut merubah posisinya dan memilih duduk di samping Milan yang cukup jauh dengannya.
"Minum susu hangat dan madu ini agar memulihkan kondisi tubuh mu"ucap Fino sambil menunjuk di atas nakas disampingnya yang terdapat segelas susu hangat, madu dan air hangat.
Milan lalu mengangguk dan meminum segelas susu hangat dan madu untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Setelah itu, tak lupa ia meminum segelas air hangat untuk melegakan tenggorokannya dari manisnya madu.
Perhatian juga tuan Fino.
Fino memperhatikan gerak gerik istrinya. Kemudian Fino mengambil sesuatu dari saku piyama tidurnya.
“Mendekatlah gadis tua”.
Milan kembali menggeser tubuhnya sesuai instruksi suaminya. Namun masih terlampau jauh.
“Lebih dekat bodoh”ucap Fino dingin.
Milan kembali patuh bahkan memepet tubuh Fino yang sama sekali tidak ada jarak di antara mereka berdua. Hingga pandangan mata mereka kembali bertemu, pandangan mata Fino beralih ke leher jenjang istrinya yang terlihat memar.
“Aku akan mengoleskan salep luka ini di lehermu”ucap Fino yang begitu perhatiannya kepada istrinya yang sudah membuka penutup salep luka itu, lalu mengoleskannya di leher Milan.
“Awww”ringis Milan kesakitan saat salep tersebut mengenai permukaan kulit lehernya. Namun kelamaan salep tersebut terasa dingin ia rasakan.
“Luka dilehermu cukup banyak, apa begitu sakit”ucap Fino yang tidak tega melihat luka dileher istrinya layaknya luka bakar, dengan hati-hati ia pun mengoleskan salep di luka istrinya.
Milan hanya diam, ia lebih fokus menatap wajah Fino yang begitu dekat dengannya yang sedang mengoleskan salep dilehernya, terukir kembali senyuman manis di bibirnya.
Aku tidak menyangka, tuan Fino penyelamatku dan sekarang ia berubah menjadi perhatian kepadaku. Jika seperti ini terus, lama-kelamaan aku jatuh dalam pesonanya. Batin Milan yang memperhatikan wajah Fino.
Fino beralih mengoleskan salep luka di tangan dan kaki Milan dengan telaten, layaknya seorang perawat yang sedang merawat pasiennya. Hingga semua luka Milan tertutupi dengan salep luka manjur Fino.
“Terima kasih tuan Fino”ucap Milan diselingi senyuman.
“Hemm, tapi ingat tidak ada yang gratis di dunia ini”ucap Fino dingin dengan seringai licik diwajahnya
“Maksudnya”ucap Milan bingung dengan penuh curiga. Fino memajukan wajahnya lalu berbisik di telinga Milan.
"Nenek moyang ku ingin bertemu dengan mu" ucap Fino sambil tersenyum tipis.
Deg
Jantung Milan langsung berdegup kencang mendengar ucapan suaminya, sambil meremas tangannya. Ia pun tidak tahu harus menjawab apa. Sehingga diam dan pura-pura tidak tahu menjadi jurus jitu baginya.
"Sudahlah lupakan saja, aku hanya bercanda" ucap Fino acuh. Padahal sedari tadi hasratnya sudah diatas ubun-ubun melihat tubuh istrinya yang begitu menggoda imannya.
"Beristirahatlah" ucap Fino lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Milan pun ikut membaringkan tubuhnya di samping suaminya, entah mengapa pikirannya tidak tentu dengan ucapan Fino barusan yang jelas-jelas ingin menyentuhnya, namun dijadikan bahan bercandaan.
Lagi-lagi Milan dibuat stok jantung saat Fino memeluknya dari belakang dengan eratnya. Milan lalu mengubah posisinya dan menghadap ke arah suaminya. Tampak Fino sudah memejamkan matanya. Milan kembali mengulurkan tangannya menyentuh wajah suaminya, entah keberanian dari mana ia begitu lancang menyentuh wajah nya.
"Tidurlah, selagi kesabaranku masih banyak" ucap Fino dingin yang sedang memejamkan matanya yang memberikan ancaman kecil kepada istrinya.
Milan langsung memejamkan matanya yang juga ikut memeluk suaminya. Fino tersenyum tipis sambil memeluk erat istrinya. Ia tidak menyangka Milan juga melakukan hal yang sama dengannya.
Sepasang suami istri itu saling berpelukan dengan erat layaknya sebuah lem yang terus menempel, hingga mereka tertidur dan terbuai dalam mimpi.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉