
Milan tengah asyik berendam di dalam bathub. busa-busa dari sabun menutupi tubuh polosnya. Milan begitu nyaman menikmati ritual berendam nya, sesekali ia mengelus perutnya yang mulai terasa menyembul.
“Malfin begitu senang akan mempunyai dede bayi. Bahkan dia ingin memiliki dede bayi yang banyak. Dasar anak-anak, tak ku sangka dia membuat Adelia jadi ngambek kepada mamanya, karena ingin memiliki dede bayi. Aku sudah tidak sabar melihat mu nak lahir di dunia ini”ucap Milan sambil tersenyum.
“Huff, besok kami akan kembali ke Negara A, tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Seolah-olah seminggu layaknya sehari saja”ucap Milan sambil memejamkan matanya karena begitu rileks nya ia berendam di dalam bathub.
Sementara Fino sedang berada di perusahaan Raksasa milik adiknya Darren yakni Perusahaan Alexander Group. Fino sedang berada di ruang rapat bersama dengan Darren yang tengah memimpin rapat mengenai pembangunan proyek yang akan kembali di luncurkan sekaligus peresmian proyek-proyek yang baru saja usai, mulai dari rumah sakit, hotel bintang lima, apartemen, dan masih banyak lainnya dari cabang perusahaannya. Rapat yang diselenggarakan berjalan dengan lancar, karena pimpinan begitu puas dengan kerja para bawahannya.
Kini Fino tengah berada di ruangan Adiknya, sang penguasa Alexander. Sambil duduk di sofa memperhatikan adiknya yang tengah sibuk menandatangani tumpukan berkas di mejanya.
“Apa kau yakin akan melakukan perjalanan bisnis ke Negara tetangga?”tanya Darren yang tengah memeriksa berkas dan memberikan cap tanda tangan.
“Hemm, aku sudah mempersiapkan segalanya. Istriku hanya mampu mendukungku, namun hatinya berkata tidak untuk berpisah dengan ku beberapa bulan ke depannya. Begitu halnya dengan diriku, aku pun merasa tidak ingin meninggalkan anak dan istriku. Tapi apa boleh buat inilah tanggung jawabku menjadi kepala rumah tangga”ucap Fino sambil menopang dagu.
“Tak ku sangka, kau semakin dewasa sejak menikah dengan Milan. Kau memiliki banyak perubahan secara drastis”ucap Darren sambil melirik Fino.
“Hemm tentu. Ada satu pertanyaan yang ingin ku tujukan kepadamu”ucap Fino yang terlihat serius.
“Apa itu, cepat katakan”ucap Darren yang sudah tidak sabaran.
“Musuh kita akan berdatangan untuk mengusik anggota keluarga kita, apa kau akan setuju jika anak-anak kita mengikuti jejak kita sebagai seorang mafia?”ucap Fino dengan pertanyaan yang selalu mengganggu pikirannya.
Darren yang mendengar ucapan Fino menghentikan pekerjaannya kemudian menatap dingin ke arah Fino.
“Aku tidak ingin menjerumuskan anakku menjadi seorang mafia, namun jika takdir tuhan tidak bisa di ubah dengan menjadikan anak-anakku menjadi mafia, aku hanya mampu pasrah dan menerima semua itu dengan lapang dada”ucap Darren sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Darren selalu memikirkan masa depan anak-anaknya, tapi ia pun merasa percaya dengan pepatah ‘Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya’ begitu pun dengan dirinya mantan ketua mafia yang begitu ditakuti di dunia hitam.
“Aku sepemikiran denganmu, bahkan aku mendukung anakku jika ingin menggantikan posisiku sebagai ketua mafia kelak”ucap Fino sambil tersenyum.
Darren hanya mampu geleng-geleng kepala, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Fino memilih memeriksa email masuk lewat Ipad-nya dari para rekan bisnisnya.
Sore harinya…..
Terlihat Milan dan Malfin tengah duduk di balkon kamarnya sambil menatap lurus ke depan ke area Savana.
“Mama, Malfin ingin berkuda seperti paman itu”ucap Malfin sambil menunjuk ke arah para pelatih kuda balap yang sedang melatih kuda-kuda balap milik keluarga Alexander.
Hah kok Malfin berpikiran sama dengan ku, aku pun ingin mencoba berkuda. Sudah lama aku tidak berkuda. Batin Milan sambil tersenyum melihat pemandangan langka di depannya.
“Nanti kita coba nak, sekarang papah belum pulang. Kita tunggu sebentar lagi ya”ucap Milan sambil membujuk putranya.
“Benarkah”ucap Malfin dengan mata berbinar.
“Iya nak, mama juga ingin berkuda, mungkin pengaruh dede bayi”ucap Milan sambil tersenyum.
Malfin langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang, dia seperti mendapatkan mainan baru dari mamanya.
“Loh kalian di sini rupanya”ucap Fino yang terlihat segar dengan pakaian santainya.
“Kapan mas pulang, mengapa tidak mengabari ku”ucap Milan sambil membelai manja lengan kekar suaminya.
“Dari tadi, hanya saja kalian begitu sibuk menikmati pemandangan senja”ucap Fino lalu duduk di samping istrinya.
“Mas aku ingin berkuda, Malfin juga ingin mencobanya. Dia bahkan begitu penasaran untuk berkuda mas”ucap Milan sambil tersenyum manis.
Fino langsung melirik istri dan anaknya yang begitu menggemaskan menatap manik mata mereka yang sepertinya sedang memohon.
“Pah…”.
“Baiklah, papah akan mengajak kalian bertiga”ucap Fino sambil mengelus perut istrinya.
Kini Fino sudah berada di Savana bersama keluarga kecilnya.
“Hati-hati sayang, kau sedang hamil”ucap Fino yang menuntun naik istrinya ke kereta kuda.
“Aku ingin berkuda mas, bukan naik kereta kuda”ucap Milan cemberut yang tengah duduk di kursi kereta kuda seorang diri.
“Ini sama saja sayang”ucap Fino yang menjadi kusir kuda bersama anaknya.
Malfin begitu semangat berkuda bersama papahnya, tidak-tidak menjadi kusir kuda untuk mamanya.
“Pah bagaimana kalau salah satu kuda balap paman kita bawa pulang ke rumah. Sepertinya Malfin ingin ganti hobi dengan berkuda, pasti seru”ucap Malfin sambil tersenyum senang.
"Baiklah jagoan papah, nanti papah bicarakan sama paman mu"ucap Fino sambil menghentakkan tali kereta kuda.
“Mas, aku ingin kau yang memotong rambut kuda itu”ucap Milan sambil merengek.
“Hah, aku sama sekali tidak berpengalaman memotong rambut kuda”ucap Fino yang terlonjat kaget.
“Mas ayolah, aku ingin kau melakukannya ini juga karena kemauan dede bayi”ucap Milan sambil membujuk.
“Setelah itu, tolong ambilkan buah mangga yang di dekat tebing sana. Rasanya sangat manis kata Ziva”ucap Milan lagi-lagi merengek. Karena ia pun pernah memetik buah mangga saat Ziva sedang ngidam.
Haduh, bumil mulai bertingkah aneh-aneh. Tapi aku akan melakukan apapun untuk istri tercinta ku. Batin Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Baiklah sayang, apa sih yang tidak untuk mu”ucap Fino tersenyum kecut.
“Yang banyak ya pah, soalnya Malfin ingin bagikan kepada Lio dan Lia”ucap Malfin sambil memegang lengan ayahnya.
“Siap anakku”ucap Fino.
Sementara para pekerja dan pelatih kuda balap hanya mampu menunduk hormat melihat kedatangan majikannya di tempat tersebut.
Sementara di tempat lain….
“Iya Bu”ucap Chiko.
“Jangan lupa besok, kau harus membawa calon istrimu ke rumah. Hanya itu yang ingin ibu sampaikan kepadamu. Sekedar mengingatkan mu saja, karena jangan sampai kau lupa. Sudah dulu, ibu sedang membuatkan kue untuk ayahmu”ucap ibunya dan langsung menutup panggilan telponnya secara sepihak.
Chiko terdiam mendengar ucapan ibunya. Ya memang dia lupa dengan ucapannya seminggu yang lalu. Karena disibukkan dengan pekerjaan membuat dirinya menjadi melupakan tujuannya untuk mencari wanita yang akan menjadi calon istrinya.
“Huff, aku kembali terjebak dengan ucapan ku sendiri. Besok merupakan waktu final untuk membawa wanita yang akan menjadi calon istriku. Kemana aku harus menemukan wanita itu, membuatku pusing saja”ucap Chiko sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekiknya.
“Apa aku harus ke tempat biro jodoh untuk menemukan wanita yang cocok untukku. Tidak-tidak itu memalukan sekali”ucap Chiko yang berargumen sendiri.
“Sepertinya club malam lebih cocok untuk mendapatkan wanita bayaran”ucap Chiko dengan seringai licik diwajahnya yang sudah mendapatkan ide cemerlang.
Chiko kemudian membereskan semua pekerjaannya dan kembali mengirimkan melalui email seluruh hasil kerjanya kepada atasannya. Setelah itu, Chiko memilih keluar dari ruangannya. Di sepanjang jalan wajahnya selalu saja memasang wajah datar. Para karyawan tidak ada lagi yang terlihat, sepertinya mereka semua sudah kembali ke kediamannya masing-masing.
Chiko masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Beberapa menit kemudian lift tersebut kembali terbuka yang menampilkan sosok Novi yang sedang berdiri sambil menunduk, kemudian langsung menyelonong masuk ke dalam lift. Chiko memilih mundur beberapa langkah melihat wanita di hadapannya.
Si tomboy, belum pulang rupanya. Batin Chiko.
Novi sama sekali tidak menyadari lelaki yang begitu dihindarinya satu lift dengannya.
“Aku harus memberi pelajaran si sekretaris coki-coki, dia terus saja menyuruhku seenak jidat, tidak lihat apa aku cuman anak magang yang sama sekali masih awam. Apa mungkin karena kejadian tempo hari, dia semakin membenciku dan mengerjai ku habis-habisan. Awas saja, jika kesabaran ku sudah habis, aku pastikan aset berharganya akan aku patahkan tanpa ampun”ucap Novi sambil menggertakkan giginya dengan kedua kepalan tangannya yang siap menghancurkan mangsanya.
Chiko yang mendengar ucapan Novi mengerutkan keningnya dengan telinga yang mulai panas dengan ucapan wanita di hadapannya.
“Siapa yang ingin kau beri pelajaran?”tanya Choki dengan suara baritonnya.
Deg
Seketika nyali Novi menciut mendengar suara lelaki yang sangat dikenalinya. Hawa dingin langsung mencekam di dalam lift tersebut.
“Anu…an,.utu-tuan”ucap Novi tergagap dan langsung menunduk sambil meremas ujung kemejanya.
“Siapa lelaki itu hah!”ucap Choki dan langung menarik tangan Novi dengan kencang hingga menghadap ke arahnya sekaligus menubruk dada bidangnya.
Mata mereka langsung bersitatap. Tatapan Chiko begitu tajam menatap Novi hingga menusuk jantung si pemilik mata yang begitu ketakutan. Novi tidak ku asa, dia pun memilih mundur dari tatapan menakutkan Chiko, Novi menundukkan pandangannya dengan kaki yang mulai lemes.
“Berani sekali kau bicara kasar di belakangku, ingat kau punya utang kepadaku!”ucap Chiko yang langsung mencengkram kuat dagu Novi.
“Lepaskan aku coki-coki, ingat aku akan melaporkanmu kepada mbak Milan karena ingin menganiaya gadis yang tidak berdosa sepertiku”ucap Novi yang mencoba melawan dengan kata-kata, padahal jelas sekali bibirnya bergetar hebat.
“Hah, pintar bicara kamu, tapi sebelum itu terjadi, aku akan merobek mulut mu dengan kasar”ucap Chiko dingin sambil mencengkram pinggang ramping Novi diikuti dengan tatapan tajam.
“Ayo lakukan!, aku sama sekali tidak takut denganmu”tantang Novi, entah kekuatan dari mana ia menentang seorang mafia di hadapannya.
“Kau!”ucap Chiko dengan rahang yang mengeras dan siap menerkam mangsanya.
Pintu lift terbuka, Novi langsung menyelonong keluar dan berlari kencang menuju parkiran.
Sementara Chiko mengusap bibirnya yang sedikit basah sambil melihat kepergian Novi.
“Bibir si tomboy lumayan juga. Aku bahkan tidak menyangka menciumnya”ucap Chiko sambil tersenyum sinis yang masih merasakan ciuman yang baru saja ia lakukan.
Sedangkan Novi yang sudah berada di parkiran memilih bersandar di balik dinding tembok dengan nafas ngos-ngosan. Novi langsung mengusap kesal bibirnya yang tampak bengkak.
Sial, si coki-coki mencium ku, padahal itu ciuman pertamaku, bibirku tidak suci lagi….huaaaa. Batin Novi merana.
Setelah merasa tenang, Novi kemudian mengambil motornya untuk segera pergi dari perusahaan tersebut.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, tepatnya hari ini Fino bersama keluarga kecilnya akan kembali ke kediamannya di Negara B. Terlihat keluarga kecil itu tampak rapi dan sedang berkumpul di ruang tamu untuk berpamitan kepada keluarganya.
“Jaga kesehatan mama, nanti Fino kembali mengunjungi mama”ucap Fino yang memeluk ibunya.
“Mama pasti merindukan kalian, sering-sering kabari mama ya”ucap Nyonya Ratu dengan mata berkaca-kaca yang tidak ingin mereka pergi.
Sedangkan Darren tengah menggendong Malfin, layaknya anak sendiri, bahkan memberikan banyak mainan baru untuk Malfin.
“Mbak yang sehat ya bersama janinnya, kapan-kapan kami akan berkunjung di kediaman mbak Milan”ucap Ziva yang tengah berpelukan dengan Milan.
“Aku tunggu kehadiran kalian bersama si kembar”ucap Milan dengan mata berkaca-kaca yang begitu terharu.
Milan kemudian melepaskan pelukannya, Adelio dan Adelia sedang menatap Milan dengan wajah menggemaskannya. Milan memilih mensejajarkan tubuhnya dengan ponakannya, Adelio dan Adelia langsung berhambur memeluk Milan.
“Mama Milan tinggal di sini saja ya, soalnya lia ingin terus bermain dengan kak Malfin dan lia juga ingin melihat dede bayi”ucap Adelia sambil mengeratkan pelukannya.
Milan hanya mampu tersenyum.
“Jangan pergi mama Milan”ucap Adelio yang juga tidak ingin ditinggalkan oleh bibinya.
“Nanti mama Milan akan kembali mengunjungi kalian nak”ucap Milan sambil mengelus punggung ponakan kembarnya.
Milan beralih memeluk nyonya Ratu yang begitu menyayanginya dan mendapatkan sedikit wejangan dari nyonya Ratu. Setelah selesai berpamitan, Fino kemudian membawa keluarga kecilnya masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke bandara internasional.
“Sampai jumpa”teriak Malfin di dalam mobil sambil melambaikan tangannya ke arah keluarganya yang sedang menatap kepergiannya.
Mobil melaju kencang meninggalkan kediaman Alexander menuju bandara internasional.
Bersambung…...
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏 🙏🙏.
Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai dengan harapan teman-teman semua 🙏🙏🙏.