
"Mana Milan nak" ucap nyonya Ratu sambil memegang tangan putranya.
Fino lagi-lagi hanya mampu diam, ia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa.
"Fino...."ucap Nyonya Ratu yang kembali mengagetkan nya, karena melihat putranya hanya diam seribu bahasa.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan kepada mama, sampai-sampai tidak menjawab pertanyaan mama"ucap nyonya Ratu dengan tegas, sambil melepaskan tangannya.
"Aku sudah mengusirnya ma"ucap Fino sambil menunduk.
Nyonya Ratu hanya mampu menutup mulutnya mendengar ucapan putranya.
"Kami sudah bercerai, dan kami tidak ditakdirkan untuk bersama. Ditambah Milan sangat membenci ku" ucap Fino dengan rasa sesak di dadanya.
Plakkk
"Mama tidak tahu permasalahan rumah tangga kalian, tapi keputusan mu, membuat mama sangat kecewa kepada mu"ucap nyonya Ratu marah besar atas keputusan putranya.
"Perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Bagaimana mungkin kamu menceraikan Milan, apakah keputusan mu ini membuat mu lepas tangan dengan urusan rumah tangga mu. Bagaimana jika Milan tengah hamil, pernahkah kamu memikirkan semua itu. Mama sangat kecewa kepada mu" ucap nyonya Ratu dengan geram.
"Maafkan Fino ma, Fino benar-benar menyesal telah menceraikan Milan" ucap Fino memohon kepada ibunya sambil bersimpuh di kaki nya.
"Jangan pernah temui mama, sebelum kamu menyesali semua perbuatan mu"ucap nyonya Ratu dingin dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba kepala nyonya Ratu terasa pusing, ia pun hanya mampu berpegangan di sofa. Fino yang sedang bersimpuh dengan cepat berdiri, lalu mendekati ibunya.
"Mama kenapa"ucap Fino panik yang langsung memegangi lengan ibunya.
"Mama hanya sedikit pusing"ucap nyonya Ratu sambil mengatur nafasnya.
"Ya sudah kita duduk dulu ma"ucap Fino, kemudian memapah ibunya untuk duduk di sofa.
Sementara bi Sri yang baru saja dari dapur, dengan cepat menghampiri majikannya sambil membawa nampan berisi cemilan dan minuman segar. Kemudian menatapnya di atas meja.
"Silahkan di minum nyonya" ucap Bi Sri ramah.
Sementara Fino dengan penuh kasih sayang, memijit kepala ibunya. Kemudian dua Pelayan wanita yang selalu setia menemani nyonya Ratu kemana pun perginya. Mereka mulai melayani nyonya Ratu dengan baik, ada yang mengambilkan minuman untuk nyonya Ratu, ada pula yang sedang mengipasi nyonya Ratu.
"Besok mama ingin pulang ke negara A, mama benar-benar kecewa kepada mu" ucap nyonya Ratu yang terlihat murung.
Fino hanya mampu diam, toh dirinya lah patut mendapatkan kemarahan ibunya seperti ini. Mengapa disaat seperti ini, ia baru menyesali perbuatannya. Seolah melupakan seluruh anggota keluarga nya dengan keputusan yang diambil nya. Mungkin jika mereka tahu masalah Fino, pastinya mereka tidak segan untuk menghakiminya, salah satunya adalah ibunya dan tidak tahu lagi dengan Darren adiknya yang sudah bagaikan sahabat terbaik Milan sampai saat ini, walaupun hanya sebatas atasan dan bawahan, namun solidaritas pertemanan mereka cukup diajukan jempol.
Sementara di kediaman Bu Ani....
Milan sedang mondar-mandir diikuti bocah kembar yang selalu saja mengekor di belakang. Disini Milan layaknya induk ayam dengan anak-anaknya yang terus mengikutinya. Milan menghentikan langkahnya, tiba-tiba Dafi menubruk pinggangnya diikuti oleh Dafa yang juga menubruk tubuh saudara kembarnya.
Milan berbalik badan sambil memicingkan matanya melihat bocah kembar tersebut.
"Maaf kakak cantik"ucap Dafi sambil tersenyum.
"Mengapa mengikuti kakak terus" ucap Milan sambil memelototi mereka.
"Kami tidak ingin kakak pergi" ucap Dafa, kemudian langsung memeluk Milan, diikuti oleh Dafi.
Milan hanya mampu membalas pelukan mereka, entah mengapa ia pun sudah terlanjur menyayangi bocah kembar itu.
"Kakak jangan pergi ya, Dafa tidak sengaja mendengar pembicaraan kakak bersama kak Novi, bahwa kakak akan pergi jauh dan itu berarti kakak akan meninggalkan kami" ucap Dafa yang memeluk Milan dengan eratnya.
"Iya, kakak cantik tidak boleh meninggalkan kami, kakak harus tetap tinggal disini bersama kami" ucap Dafi dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah, kalian tidak boleh seperti ini. Kalian berdua adik kakak yang paling pintar dan tidak boleh bersedih, apapun itu, termasuk kepergian kakak. Ini bukan tempat tinggal kakak, jadi kakak harus pergi sejauh mungkin. Kalian harus berjanji untuk tidak seperti ini lagi, jika tidak, kakak tidak menyayangi kalian lagi" ucap Milan dengan sedikit ancaman untuk mereka.
"Baiklah kak, kami berjanji untuk tidak bersedih lagi"ucap mereka kompak.
"Ya sudah lebih baik kalian belajar dulu, supaya kalian tambah pintar, dan menjadi adik kakak paling pintar dan cerdas tak terkalahkan" ucap Milan. Kemudian mencium kening mereka satu persatu.
"Benarkah" ucap Dafi yang sudah tersenyum.
Milan kembali mengangguk membenarkan ucapan nya.
"Ayo Dafa, kita harus belajar giat, supaya kepintaran kita tak terkalahkan" ucap Dafi antusias.
Mereka lalu permisi menuju kamarnya untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Milan.
"Dasar anak-anak, semoga aku juga bisa diberikan anak kembar oleh Tuhan" ucap Milan tersenyum, sambil mengelus perutnya.
"Malaikat kecil ku, sehat-sehat ya di dalam sana" ucap Milan yang kembali tersenyum senang.
"Semoga Novi berhasil mengurus perubahan identitas ku, sehingga besok pagi, aku bisa meninggalkan negara ini "ucap Milan, kemudian memilih duduk di sofa ruang tamu.
Sementara di tempat lain.....
Chiko yang masih saja mencari keberadaan istri tuannya bersama para anggota The Tiger, kembali ke bandara yang sempat mereka datangi.
"Kemana aku harus mencari nona Milan, memang masalah seperti ini membuat siapa saja akan terpukul, termasuk tuan Fino. Tapi ini merupakan pembelajaran buat tuan Fino, agar sadar bahwa dia sebenarnya membutuhkan nona Milan berada di sisinya. Jangan hanya terus-menerus menghina nona Milan jika berada di samping nya, padahal sebenarnya tuan Fino mulai menyukai nona Milan, hanya saja dia tidak ingin mengakuinya. Ini pasti ada hubungannya dengan kejadian beberapa tahun lalu, dimana tuan Fino dipermalukan oleh nona Milan habis-habisan"ucap Chiko yang mengamati lalu lalang para penumpang pesawat.
"Aku pun tidak ingin memberitahukan tuan Fino, bahwa aku sudah membohonginya" ucap Chiko yang merasa bersalah telah membohongi majikannya.
"Tapi biarlah, semoga dengan kejadian ini pasangan suami istri itu bisa berpikiran dewasa"ucap Chiko, kemudian kembali berjalan mencari istri tuannya.
Langkah Chiko terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Chiko memicingkan matanya melihat nomor dari pihak bank yang dikelola oleh tuannya. Chiko langsung menerima panggilan masuk tersebut.
"Kami dari pihak bank FA, ingin menyampaikan kepada tuan Chiko bahwa saat ini, ada seorang wanita ingin mencairkan cek dari tuan Fino Alexander dengan jumlah lumayan banyak. Saya hanya ingin konfirmasikan kepada tuan Chiko, bahwa cek tersebut bisa saya cairkan saat ini?"ucap pihak bank tersebut.
"Jangan cairkan dulu, tunggu kedatangan ku. Lakukan alasan yang cukup masuk akal untuk membuat orang itu berlama-lama. Aku hanya ingin memastikan orangnya" ucap Chiko cepat.
"Baiklah tuan Chiko" ucap pihak bank.
Chiko dengan cepat memberi kode terhadap beberapa anggota The Tiger untuk mengikutinya. Chiko kemudian dengan cepat berlari menuju mobilnya.
"Ini merupakan angin segar untuk segera menemukan nona Milan" ucap Chiko, lalu masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan beberapa anggota The Tiger ikut masuk ke dalam mobil yang mereka bawa.
Sementara Novi sedang ditahan oleh pihak bank, karena ingin melakukan pencairan cek yang diberikan oleh Milan kepadanya. Alih-alih berhasil, ia malah di masukkan ke sebuah ruangan khusus di bank tersebut.
"Aduh mengapa mereka mengurung ku di ruangan ini" ucap Novi kesal.
"Untungnya masalah perubahan identitas kak Milo sudah berhasil, tidak ada yang tidak beres, jika uang tidak berjalan. Syukurlah kak Milo mengirimkan uang di no rekeningku dengan jumlah banyak. Jika aku mengandalkan cek tadi, pasti urusan kak Milo tidak bakalan berjalan lancar. Lihatlah sekarang aku sedang terkurung di ruangan ini, padahal sebentar lagi malam, jangan sampai aku menginap di ruangan ini"ucap Novi sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Brukk
Seseorang baru saja menendang pintu ruangan itu, Novi terlonjat kaget dengan cepat bangkit dari duduknya. Segerombolan lelaki berjas hitam masuk ke ruangan itu.
Novi menjadi ketakutan, berkali-kali ia menelan ludahnya dengan susah payah melihat mereka. Chiko yang berada di kanca depan, lalu berjalan mendekati Novi yang terlihat ketakutan. Jiwa tomboinya menciut melihat mereka semua.
Chiko memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang diduduki oleh Novi.
"Duduk dulu mbak bro"ucap Chiko yang tidak tahu harus menyebut seperti apa orang dihadapannya.
Karena dilihat dari penampilannya seperti seorang lelaki tulen dengan gaya rambut yang dimilikinya, namun dilihat dari sisi wajahnya terlihat cukup cantik, sehingga Chiko mampu menarik kesimpulan bahwa orang dihadapannya cantik dan tampan dan apalah, yang jelas tidak penting baginya memperhatikan orang yang akan ia interogasi.
Chiko mulai memberikan pertanyaan demi pertanyaan kepada Novi. Sedangkan Novi dengan wajah pucat dan kaki gemetaran menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Chiko dengan baik dan jelas tanpa terlihat mencurigakan.
"Baiklah, kamu bisa keluar dari ruangan ini" ucap Chiko sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Baik tuan" ucap Novi yang sudah tidak ingin berlama-lama di ruangan itu.
"Ikuti gadis tomboi itu" ucap Chiko dingin, sambil meregangkan otot-otot nya.
Chiko begitu pandai mengelabui orang-orang yang sedang diincarnya dengan melakukan interogasi mendadak. Hanya dengan memberikan beberapa pertanyaan, ia mampu membaca pikiran orang yang diincarnya.
Pihak bank sudah menunggu kedatangan Novi di kursi tunggu, saat melihat kedatangan Novi, pihak bank lalu menghampirinya sambil menarik koper yang sangat diyakini sejumlah uang tunai yang berhasil dicairkan dari cek tersebut.
"Ini uangnya mbak Novi" ucap pihak bank.
"Terima kasih" ucap Novi lalu dengan cepat menarik koper tersebut keluar dari bank.
Novi kemudian meletakkan koper tersebut di bagian depan motornya, lalu ia pun menyalakan mesin motornya, kemudian menancap gas meninggalkan tempat tersebut.
Malam harinya.....
Fino seharian menemani ibunya di kediamannya, tak lupa ia memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa kondisi ibunya yang sedang tidak sehat. Fino hanya percayakan kepada Chiko dan para anak buahnya untuk mencari istrinya.
Kini Fino makan malam bersama dengan ibunya, dengan suasana cukup hening tanpa adanya obrolan diantara mereka berdua. Hingga makan malam itu berakhir, nyonya Ratu yang sudah terlihat lebih baik, memilih kembali ke kamar sedangkan Fino memilih masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Milan aku merindukan mu, kau sekarang berada di mana. Sungguh aku benar-benar tidak bisa kehilangan mu, aku tidak ingin hubungan kita berakhir seperti ini, akkhhh" ucap Fino, lalu menjatuhkan barang-barang diatas meja kerjanya.
"Memang pertemuan pertama kita tidak mengenakkan, dimana kau wanita pertama yang sudah mempermalukan ku dihadapan para anggota The Tiger" ucap Fino yang memilih duduk di kursi kebesarannya, yang kembali teringat masa lalunya bersama Milan.
"Tapi kali ini, aku benar-benar menyesali semua perbuatan ku kepadamu. Sungguh aku tidak bisa hidup tanpa mu" ucap Fino yang merasa hampa tanpa kehadiran Milan disisinya.
Milan bersama kedua bocah kembar sedang menyajikan makan malam di atas meja makan. Sambil menunggu kedatangan Novi yang tak kunjung pulang. Sedangkan Bu Ani baru saja selesai menutup kedainya.
Tak berselang lama kemudian, Novi tiba di kediaman nya. Ia pun lalu memarkirkan terlebih dahulu motornya di depan kedai ibunya.
Novi terlihat panik dengan mimik wajahnya yang tampak ketakutan. Ia pun masuk ke dalam rumahnya dan sama sekali tidak mendengar ocehan adik kembarnya yang terus memanggilnya. Milan yang melihat kedatangan Novi dengan cepat menghampirinya.
"Maafkan Novi kak" ucap Novi dan langsung menghambur memeluk Milan.
"Ada apa, coba ceritakan kepada kakak"ucap Milan sambil menepuk pundaknya.
Novi lalu menceritakan semua kejadian yang baru saja ia alami tanpa menambah ataupun mengurangi.
"Sebaiknya kakak harus pergi malam ini, tadi penjahat yang kakak maksud sedang mengintrogasi Novi. Namun setelah itu, ia melepaskan Novi. Namun alih-alih melepaskan Novi, mereka malah mengikuti Novi dari belakang saat melakukan perjalanan pulang. Untungnya Novi mampu mengelabui mereka dengan memilih jalan kecil yang hanya mampu dilewati oleh kendaraan roda dua.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan" ucap Milan memastikan kondisi Novi.
Novi hanya mampu menggeleng.
"Lebih baik kamu mandi dulu, lalu makan malam bersama kami " ucap Milan sambil tersenyum. Milan tidak ingin membuat Novi cemas atas dirinya.
"Baik kak".
Kini mereka tengah makan malam bersama dengan suguhan makanan buatan Milan bersama kedua bocah kembar. Suasana kebersamaan mereka begitu harmonis dan saling menyayangi satu sama lainnya. Sungguh Milan akan rindu dengan kebersamaan mereka seperti ini.
Milan kemudian bersiap-siap untuk berangkat malam ini ke bandara. Untungnya ia sudah terlebih dahulu memesan tiket pesawat untuk keberangkatan nya ke negara A. Novi dan ibu Ani sedang duduk bersama di ruang tamu, mereka terlihat sedih akan ditinggal oleh Milan. Sedangkan Dafa dan Dafi sudah tidur di kamarnya.
Milan kembali melihat penampilannya di dalam cermin. Ia pun menggunakan pakaian yang diberikan oleh nyonya Ratu untuknya. Ya memang hanya itulah satu-satunya pakaian yang tidak sempat ia bakar.
Milan begitu anggun dengan pakaian syar'i yang melekat di tubuhnya. Rambutnya yang tergerai mulai terbang ke sana kemari diterpa kipas angin yang menempel di dinding tembok.
"Apa aku perlu menggunakan penutup kepala" gumam Milan. "Astaga tidak seharusnya aku mengenakan pakaian seperti ini!, Aku hanyalah wanita hina yang penuh dosa" ucap Milan sambil tersenyum sinis. Lalu ia pun ingin membuka kembali pakaiannya. Namun Novi menghentikan aksinya.
"Kakak sangat cantik mengenakan pakaian itu. Sudahlah kak, waktu kita tidak banyak" ucap Novi. Kemudian mengambil tas ransel Milan.
Milan hanya mampu mengikuti langkah kaki Novi hingga tiba di ruang tamu. Terlihat Bu Ani sedang melamun.
"Bu.. maafkan Milan, jika selama ini sudah merepotkan ibu atas kehadiran Milan ditengah-tengah keluarga kecil ibu" ucap Milan dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak nak, justru ibu sangat senang dengan kehadiran mu" ucap Bu Ani lalu memeluk Milan dengan penuh kasih sayang. Novi pun ikut memeluk mereka.
"Novi kejarlah cita-cita mu, selagi masih mudah. Gunakan pemberian kakak untuk kamu kembali melanjutkan kuliah mu, dan sisihkan juga untuk sekolah adik kembar mu" ucap Milan sambil menasihati Novi.
Novi hanya mampu mengangguk dengan mata memerah.
"Hanya ini yang bisa ibu berikan untuk mu nak" ucap Bu Ani, lalu menyerahkan selendang sutra miliknya.
"Tidak usah Bu" tolak Milan.
Namun Bu Ani menatapnya dengan sangat memohon untuk menerimanya, karena bagaimana pun Milan telah memberikan banyak bantuan untuk keluarganya berupa materi demi masa depan anak-anak nya kelak. Dengan terpaksa Milan menerima pemberian Bu Ani. Setelah itu, ia pun kembali berpelukan bersama, kemudian undur diri dari hadapan Bu Ani.
Milan kembali memakai topeng pemberian Dafi, agar penyamarannya tidak diketahui oleh anggota The Tiger. Novi sudah siap mengantarnya ke bandara dengan berjalan kaki.
Milan dan Novi berjalan beriringan menuju bandara. Milan kembali panik dengan banyaknya anggota The Tiger yang berlalu lalang di depan area bandara. Mereka pun kembali menghentikan langkahnya.
"Sebaiknya kamu pulang saja, biar kakak yang menghadapi masalah kakak" ucap Milan.
"Tapi kak".
"Tidak Novi, kakak pasti bisa menyelesaikan masalah kakak dan bisa meninggalkan negara ini. Selamat tinggal Novi" ucap Milan, kemudian mereka kembali berpelukan.
Kini Milan dengan tekat kuat mulai berjalan menuju bandara. Para anggota The Tiger sama sekali tidak menaruh curiga kepadanya.
Milan pun bernapas lega, akhirnya bisa masuk ke dalam bandara.
"Berakhir sudah hubungan kita tuan Fino, selamat tinggal di negara yang membuat ku tersakiti" gumam Milan, kemudian kembali melangkahkan kakinya.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, saat seseorang tengah memanggil namanya dari arah belakang.
"MILAN" teriak seseorang dari arah belakang.
Bersambung......
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏
Mohon maaf bila update nya terlalu lama, banyak kendala dan kondisi kesehatan author yang tidak mumpuni 🤧