
“Milan, sebaiknya kita mengadakan pesta, atas kepulangan baby boy dan sekaligus mengumumkan nama untuk baby boy”ucap Fino yang ikut duduk di samping istrinya sambil memperhatikan istrinya sedang membuka pakaian baby boy.
“Terserah tuan saja, aku turut senang mendengar kata pesta. Namun pada akhirnya baby boy belum bisa menghadiri pesta itu, karena baby boy masih kecil dan belum bisa berkeliaran jauh dalam rumah ini. Hanya kamar ini, yang menjadi tempat terhangat nya”ucap Milan sambil membuka pakaian baby boy satu persatu, menggantinya dengan pakaian yang baru.
Baby boy masih saja tertidur pulas, bahkan minyak baby yang tersapu dengan lembut di kulit mulusnya, sama sekali tidak membangunkannya. Milan kembali tergelak tawa saat kembali memasangkan popok bayi kepada baby boy. Setelah itu, barulah Milan kembali memakaikan pakaian hangat untuk baby boy, lanjut memakaikan selimut bayi agar tubuh baby boy tetap hangat.
Sementara Fino, hanya mampu tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu cekatan merawat baby boy. Milan kembali menggendong bayinya, lalu meletakkan baby boy pada boks bayi, layaknya tempat tidur kecil khusus untuk bayi, dengan hati-hati. Baru beberapa menit, baby boy mulai terbangun dan kembali merengek dengan tangisan yang begitu merdu.
“Sepertinya baby boy sudah lapar”gumam Milan dan kembali menggendong bayinya.
Sedangkan Fino tampak panik mendengar tangisan bayinya.
“Milan, baby boy kenapa?”tanya Fino yang terlihat panik.
Huuuh…...huuuh
Suara nada, entah nada apa sedang di lantunkan oleh Milan untuk menenangkan bayinya.
“Sabar sayang, mama akan memberi mu ASI”ucap Milan yang sudah duduk di pinggir tempat tidur.
Milan dengan segera menyusui baby boy, sedangkan tangis baby boy sudah tidak terdengar. Ternyata baby boy sedang menikmati ASI ibunya.
Fino yang terlihat panik, mulai bernafas lega. Ia pun dengan cepat duduk di samping istrinya sambil memperhatikan baby boy yang sedang menyusui.
“Lihatlah tuan, sedari kecil seorang ibu merawat anaknya dengan baik. Setetes air susu ibu, tidak bisa digantikan dengan apapun. Jadi kita sebagai anak, sudah sepatutnya untuk berbakti kepada kedua orang tua. Karena kerja keras orang tua merawat anak-anaknya sedari kecil hingga dewasa tidak akan pernah bisa di balaskan dengan apapun, termasuk harta benda”ucap Milan sambil menatap baby boy dengan penuh kasih sayang.
“Aku tidak salah memilih mu, sebagai ibu dari anak-anakku”ucap Fino sambil membelai wajah istrinya.
“Terima kasih tuan, karena sudah memilihku. Semua wanita, pasti akan mengalami perasaan sama sepertiku, jika sudah memiliki buah hati. Mereka pasti akan merawat dan menjaga buah hatinya dengan baik dan penuh kasih sayang”ucap Milan sambil tersenyum.
“Tumbuhlah yang sehat nak, kelak kau yang akan menjadi penerus papah mu”ucap Fino sambil mengelus rambut putranya yang begitu lebat.
Baby boy hanya mampu menikmati ASI ibunya dengan lahap. Fino lagi-lagi tersenyum melihat tingkah putranya yang begitu menggemaskan menikmati ASI ibunya.
“Cepat katakan tuan, siapa nama asli untuk baby boy kita. Lihatlah, bahkan baby boy juga ingin mendengar nama aslinya ”ucap Milan sambil tersenyum. Sementara mata bening baby boy ikut berbinar mendengar ucapan ibunya.
“Aku sudah menyiapkan nama yang istimewa untuk baby boy kita. Namanya adalah Malfin Leo Alexander, nama ini merupakan perpaduan dari kedua orang tuanya dan kakek nya. Papah akan memanggil mu baby boy dengan sebutan Malfin yang merupakan perpaduan nama mama dan papah mu. Leo dan Alexander adalah nama kedua ayahku yang begitu ku sayangi. Aku menambahkan nama ayah di tengah-tengah namanya, karena aku begitu menghormati ayahku yang begitu hebat membesarkan ku dan sekaligus menjadi sosok ibu yang penyayang bagiku. Sementara nama Alexander di akhirannya, itu merupakan nama yang wajib untuk digunakan oleh keturunan keluarga Alexander. Sejak aku menjadi anak angkat ayah Alex, ayah memintaku untuk menggunakan nama kebesarannya yaitu Alexander dan selalu memintaku untuk tetap mewariskannya kepada cucu-cucunya kelak. Dan hari ini, aku membuktikannya!, aku memberikan nama untuk putraku yaitu Malfin Leo Alexander. Kelak kau akan menjadi kebanggaan ku nak Malvin”ucap Fino, kemudian mencium kening putranya.
Milan tercengang mendengar penjelasan suaminya tentang nama bayinya. Setelah itu, Milan ikut tersenyum mendengar Fino kembali memanggil bayinya dengan sebutan Malfin. Ia pun menyukai nama panggilan bayinya. Fino kemudian beralih mencium kening istrinya. Tampak keluarga kecil itu begitu bahagia, memang sih, harta yang paling berharga di dunia ini adalah keluarga.
“Jadilah mama yang baik untuk Malvin anak kita”ucap Fino dengan mata berkaca-kaca.
“Pasti tuan”ucap Milan sambil mengelus lengan suaminya.
“Mengapa kau selalu saja memanggilku tuan hah!. Bagaimana nantinya, jika Malvin tahu bahwa papahnya memperlakukan mamanya seperti seorang pelayan. Karena selalu menyebutkan kata tuan kepada suaminya”ucap Fino yang berpura-pura marah kepada Milan.
“Aku lebih suka memanggilmu tuan, lidahku sudah pasih menyebut mu tuan, suamiku”ucap Milan sambil tersenyum.
“Tidak, aku tidak suka kau memanggilku tuan. Mulai sekarang kau harus memanggilku mas Fino atau sayang, titik!”ucap Fino tegas yang tidak ingin di bantah.
“Aku tidak mau”ucap Milan tegas. Kemudian kembali menggendong Malfin dengan hati-hati yang kembali tertidur pulas dengan perut kenyang nya.
Milan kemudian meletakkan Malfin dengan hati-hati di boks bayi, takutnya Malfin kembali terbangun, kemudian Milan kembali menarik selimut untuk menghangatkan tubuh Malfin.
“Cepat panggil aku mas Fino”bisik Fino di telinga istrinya yang sudah berdiri di belakangnya.
“Tidak mau”ucap Milan acuh.
Fino tanpa basa-basi menggendong tubuh istrinya, kemudian meletakkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur di kamar itu. Milan sudah berada di bawah kungkungan suaminya. Mereka kembali saling tatap-tatapan dengan pemikiran mereka masing-masing. Ditambah debaran jantung keduanya kembali berdemo.
Aku menginginkan mu Milan. Tidak, apa-apaan aku ini. Milan masih belum sembuh dan belum bisa diajak berduet. Bahkan aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Milan dengan dokter bahwa Milan bisa kembali hamil setelah dua tahun masa operasinya. Itu berarti, aku harus berpuasa selama itu. Aduh sepertinya aku harus lebih banyak bersabar, jika bersama dengan Milan. Tapi itu sangat mustahil, bagaimana mungkin tubuh montok Milan harus di anggurin selama itu. Batin Fino dengan pemikirannya yang ngeyel.
Aduh, aku jadi gugup jika di hadapkan dengan situasi seperti ini. Mana lagi tuan Fino semakin tampan saja. Tidak mungkin aku menolak jika dia menginginkan ku. Batin Milan dengan jantung yang kembali berdebar-debar.
“Cepat panggil aku mas”ucap Fino yang memasang wajah datar. Dan kembali berpikiran positif.
“Baiklah, mas Fino, mas Fino, mas Fino”ucap Milan pasrah dengan perasaan campur aduk. Ia pun tidak ingin merusak momen bahagianya bersama keluarga kecilnya, hanya karena masalah sepeleh itu.
Cup
Fino berhasil mencium bibirnya, diiringi gelak tawa yang terpancar jelas bahwa ia begitu bahagia. Milan ikut tersenyum, wajahnya pun menjadi merona dengan perlakuan suaminya. Fino kembali mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, guna untuk melakukan hal yang lebih. Namun tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dengan heboh. Sehingga dengan terpaksa, Fino mulai menjauh dari tubuh istrinya. Milan memilih duduk di tempat tidur sambil memperbaiki penampilannya yang sedikit berantakan karena ulah suaminya.
“Ada apa”ucap Fino dingin.
“Begini tuan, saya mendapat kabar dari salah satu penjaga di kediaman tuan Darren, bahwa saat ini, nona Ziva sedang di larikan ke rumah sakit. Sepertinya nona Ziva akan melahirkan anak pertamanya”ucap Chiko menjelaskan.
“Bagaiman dengan kondisi Ziva dan keluargaku di sana”ucap Fino tegas.
“Semuanya baik-baik saja tuan, nona Ziva sudah mendapatkan perawatan dan saat ini sudah berada di ruangan persalinan. Sedangkan nyonya Ratu beserta besannya begitu bahagia akan menyambut cucu pertama mereka”ucap Chiko dengan hati-hati yang sempat mendapatkan kabar tersebut dari pak penjaga.
“Oh, Syukurlah, semoga persalinannya tetap berjalan lancar”ucap Fino, kemudian mematikan ponselnya secara sepihak.
“Ada apa tuan, eeh maksudku ada apa mas Fino”ucap Milan gugup yang belum terbiasa menyebutkan kata mas kepada suaminya.
“Ziva akan melahirkan dan saat ini mama begitu bahagia akan kelahiran cucu pertamanya. Padahal sesuai fakta, Malfin adalah cucu pertamanya. Namun saat ini mereka sama sekali tidak tahu dengan keberadaan Malfin dan kehidupan baru kita”ucap Fino sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Alhamdulillah, semoga persalinan Ziva berjalan dengan lancar"ucap Milan yang ikut senang dengan kabar tersebut, sambil memeluk suaminya dari belakang untuk menenangkannya.
“Maafkan aku, karena ulahku, keluargaku mulai menjauhi kita”ucap Fino sambil mengelus tangan istrinya.
“Ini semua tidak benar mas, kita pasti akan kembali bersatu dan berkumpul dengan keluarga mas Fino”ucap Milan sambil tersenyum.
Aku berjanji akan membuat mas Fino bersatu kembali dengan keluarganya. Batin Milan.
Beberapa hari telah berlalu. Fino berhasil membuat garden party untuk kepulangan putranya. Walaupun hanya di hadiri oleh kerabat terdekatnya dan beberapa rekan bisnisnya, pesta tersebut berjalan dengan lancar dan penuh khidmat. Sementara Milan beserta baby Malfin tidak menghadiri pesta tersebut. Berhubung karena kondisi baby Malfin yang belum sepenuhnya bisa berada di luar ruangan, terutama ruangan terbuka. Baby Malfin hanya mampu tidur dan mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Milan merawat baby Malfin dengan penuh kasih sayang, bersama dua babysister professional yang di sewa oleh Fino untuk membantunya. Milan menjadi ibu yang baik untuk Malfin dan istri yang pengertian untuk suaminya. Hampir setiap malam, Milan begadang demi menjaga Malfin yang rewel di malam hari. Sedangkan Fino terkadang ikut membantunya jika sempat terjaga dari tidurnya. Milan sudah pandai menenangkan baby Malfin lewat nyanyian salawat yang tidak sengaja ia dengarkan saat berada di desa Sabang. Baby Malfin dengan cepat tenang, jika mendengarkan nyanyian ibunya, apalagi sambil menikmati ASI ibunya. Baby Malfin mulai tumbuh kembang, bahkan pipinya semakin gembul dan sangat menggemaskan untuk dicium.
Sementara di tempat lain....
Sarah sudah berada di rumah sakit, tepatnya di ruang persalinan. Ia pun sudah mengalami kontraksi beberapa jam yang lalu. Kini ia sudah memasuki pembukaan kedua. Dokter dan perawat sedang berusaha menanganinya untuk proses persalinannya yang secara normal. Sarah mulai berjuang dengan sekuat tenaga untuk melahirkan buah hatinya secara normal, tanpa adanya sosok suami yang mendampinginya.
Sementara nyonya Aisyah hanya mampu berada di luar ruangan, sambil terus mendoakan keselamatan putri dan cucunya. Nyonya Aisyah tidak hentinya mendoakan kelancaran persalinan putrinya dengan wajah yang terlihat khawatir. Nyonya Aisyah terus saja mondar-mandir di depan pintu ruangan persalinan. Tak berapa lama kemudian, terdengarlah tangisan bayi di dalam sana.
Dokter dan perawat bernafas lega atas kelahiran bayi perempuan yang begitu cantik dan mungil. Perawat kemudian membersihkan tubuh si bayi, kemudian melilitkannya dengan selimut bayi. Terlihat Sarah terkulai lemas, namun wajahnya tetap memancarkan kebahagiaan melihat bayinya.
Nyonya Aisyah langsung tersenyum dan kembali mengucapkan syukur kepada Tuhan.
"Terima kasih ya Allah, engkau telah melimpahkan rahmat yang begitu besar kepada keluarga kami. Akhirnya aku memiliki seorang cucu"ucap nyonya Aisyah dengan penuh syukur.
Tak berselang lama kemudian, Pintu ruang persalinan mulai terbuka. Terlihat dokter wanita mulai menghampiri nyonya Aisyah dan mengatakan bahwa persalinannya berjalan lancar. Dokter pun sudah mengizinkan nyonya Aisyah untuk melihat anak dan cucunya.
Tampak di dalam sana, Sarah sudah mendekap bayinya di atas tempat tidur untuk memberikannya kehangatan. Nyonya Aisyah langsung menghampiri putrinya dan tersenyum bahagia melihat cucunya.
"Alhamdulillah persalinan mu berjalan lancar nak, kau sudah menjadi seorang ibu"ucap nyonya Aisyah dengan mata berkaca-kaca yang diselimuti dengan perasaan haru dan bahagia.
"Iya ma, aku akan merawat bayiku dengan baik"ucap Sarah sambil tersenyum dengan wajah yang masih terlihat pucat.
Dokter kemudian meminta Sarah untuk menyusui bayinya. Sarah pun melakukan instruksi dari dokter. Ia pun begitu bahagia menyusui bayinya. Tampak bayi mungil itu mulai menikmati ASI eksklusif ibunya.
"Masya Allah, Cucuku begitu cantik"ucap nyonya Aisyah yang memuji kecantikan cucunya.
Mas Malik, aku sudah melahirkan buah hati kita. Semoga kamu juga bahagia di alam sana. Batin Sarah, sambil menghapus air mata bahagianya.
Sementara di sebuah ruangan gelap, tampak sosok lelaki sedang duduk di kursi roda, sambil menatap pemandangan langit malam.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ia pun dengan cepat menekan remote control yang di pegang nya untuk dapat membuka pintu ruangan itu.
"Tuan, aku mendapat kabar baik"ucap lelaki yang terlihat kurus kerempeng itu.
Lelaki yang duduk di kursi roda hanya mampu diam dengan seribu bahasa.
"Dia sudah melahirkan tuan"ucap lelaki kurus kerempeng itu.
Lelaki yang duduk di kursi roda hanya mampu diam, raut wajahnya tampak berubah di bawah sinar rembulan.
"Keluarlah"ucapnya.
Bersambung...