Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Berpisah sementara


Fino dan Milan ikut terkejut mendengar ucapan Malfin yang ingin tidur bersama dengan pasangan pengantin baru.


“Bibi dan paman banyak kerjaan kalau malam, nanti Malfin mengganggunya. Sebaiknya tidur sama papah dan mama saja ya nak. Kalau Malfin mau minum susu atau pipis pasti Malfin merepotkan bibi dan paman kan”ucap Milan yang mencoba membujuk putranya.


“Iya ma, he he he Malfin lupa, karena Malfin belum sepenuhnya menjadi orang dewasa. Malfin juga tidak bisa tidur kalau tidap dipeluk mama sama dede bayi”ucap Malfin yang tersipu malu.


Novi dan Chiko hanya mampu bernafas lega. Sedangkan Fino terlihat santai duduk bersama mereka.


“Apakah persiapan untuk melakukan perjalan bisnis sudah rampung semua?”ucap Fino dingin yang menggenggam tangan istrinya.


”Sudah tuan, saya sudah menyelesaikan semuanya dan semoga perjalan bisnis kali ini bisa berjalan dengan lancar”ucap Chiko.


“Hemm, bagus. Ya sudah, sebaiknya bawa istrimu beristirahat. Karena besok pagi-pagi kita akan berangkat bersama ke bandara dan langsung terbang ke Negara tujuan”ucap Fino.


“Baik tuan”ucap Chiko yang begitu canggung sambil bangkit dari duduknya diikuti oleh Novi yang membantu Malfin turun dari pangkuannya.


“Ayo mas, dan anak tampan mama, kita ke kamar yukk. Aku tidak akan melepas mu malam ini mas. Karena kau akan meninggalkan kami”ucap Milan yang memeluk lengan suaminya.


Sedangkan Malfin mulai memegangi tangan kiri papahnya untuk meminta di gendong. Sehingga Fino pun kembali menggendong putranya dengan penuh kasih sayang. Dan mereka mulai meninggalkan Novi dan Chiko yang masih bengong berdiri di samping sofa yang begitu canggung.


“Ayo kita ke kamar”ucap Chiko yang menarik tangan Novi, sehingga mau tidak mau Novi mengikuti langkah kaki suaminya.


Pasangan pengantin baru itu akan menempati kamar tamu. Saat di depan pintu kamar tamu, tiba-tiba saja ponsel Chiko berbunyi sebuah tanda pesan masuk. Chiko dengan cepat mengeluarkan ponselnya lalu melihat pesan masuk tersebut yang merupakan pesan dari atasannya.


‘Kau bisa kembali ke kediaman mu, aku hanya tidak ingin momen bersama kalian terganggu akibat ulah istriku. Datanglah pagi-pagi ke kediaman ku, lalu berangkat bersama ke bandara’


Begitulah kira-kira pesan dari atasannya. Chiko lalu membalas pesan atasannya.


‘Baik tuan, terima kasih atas pengertiannya’.


Chiko tersenyum tipis kemudian, kembali menarik tangan Novi menuju pintu utama. Novi selalu ingin bertanya, namun Chiko memintanya untuk diam dan menyuruhnya untuk mengikutinya.


Milan sudah berada di tempat tidur dan tengah berbaring bersama keluarga kecilnya. Malfin sudah terlelap di sampingnya yang sedang memeluknya.


Posisi tidur mereka begitu menyejukkan mata untuk keluarga kecilnya dan sangat harmonis. Malfin berada di bagian sisi kiri tempat tidur yang mentok di dinding. Milan berada ditengah-tengah diantara putra dan suaminya, Fino yang berada di sisi kanan sedang memeluk istrinya dari belakang. Fino kembali merubah posisi tempat tidurnya semenjak kehadiran putranya. Ia hanya tidak ingin kenyamanan dirinya dan putranya terganggu di malam hari.


“Mas”.


“Hemm”.


“Bagaimana, kalau kita mengecek mereka. Aku jadi penasaran apa yang mereka lakukan”ucap Milan sambil mengelus manja lengan suaminya.


“Jangan urusin urusan orang, sebaiknya kita bercinta saja. Bukankah malam ini kau tidak akan melepaskan ku”ucap Fino yang membalikkan tubuhnya menghadap kepadanya, kemudian mencium kening istrinya.


“Iya mas, tapi kita…..”.


Fino sudah membungkam mulutnya dan mulai menciumnya dengan penuh cinta.


“Mas, aku…”Fino kembali menciumnya. Milan hanya mampu tersengal-sengal. Fino kemudianm melepaskan ciumannya dan kembali menatap manik mata istrinya dengan penuh cinta.


“Aku tidak ingin kau membahas orang lain. Kita hanya berpisah sementara, selama sebulan kita tidak bertemu, layanilah aku malam ini, karena aku benar-benar akan merindukan seluruh tubuhmu"ucap Fino sambil membelai wajah istrinya.


Milan tersenyum kemudian mencium pipi suaminya “Baiklah ayo kita melakukannya”ucap Milan sambil tersenyum yang menyentuh piyama tidur suaminya. Fino lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar sebelah untuk melakukan hubungan suami istri.


Sementara Chiko dan Novi baru saja tiba di bassment apartemen. Chiko kemudian membawa Novi ke unit apartemennya.


“Mengapa tidak pulang ke rumah orang tua?”tanya Novi yang mulai angkat bicara.


“Ini sudah larut malam, aku tidak ingin mengganggu tidur mereka. Dan mulai sekarang kita akan tinggal bersama di apartemen ku. Biasakanlah berpisah dengan orang tuamu, karena kita sudah menjadi sepasang suami istri, dan harus hidup mandiri, satu lagi jangan pernah repotkan ibumu”ucap Chiko dingin yang terus berjalan sambil menggenggam tangan istrinya.


“Terus, bagaimana dengan barang-barang ku yang masih ada di rumah ibu”ucap Novi sambil meliriknya.


“Kau bisa mengambilnya dan membawanya ke sini. Tapi, selama sebulan aku akan meninggalkanmu untuk melakukan perjalanan bisnis bersama tuan Fino. Ada baiknya jika kau menginap di rumah orang tua mu atau orang tua ku”ucap Chiko sambil tersenyum tipis.


“Iya aku tahu, aku akan membawanya ke apartemen mu dan sepertinya aku memilih menginap di rumah ibu”ucap Novi.


Chiko kemudian melepaskan tangannya, lalu memasukkan beberapa digit password untuk membuka pintu apartemennya.


“Ayo masuk, udara di luar semakin dingin”ucap Chiko yang menyuruh masuk istrinya.


Novi lalu masuk dan mulai memperhatikan suasana apartemen suaminya yang begitu mewah dengan desain interior klasik namun tetap berkesan modern dengan banyaknya perabot mahal yang memenuhi apartemen tersebut.


“Aku tidur di mana? Aku perhatikan kau memiliki dua kamar”ucap Novi yang mulai menatap ke arah dua pintu kamar.


“Kita akan tidur bersama”ucap Chiko kemudian berjalan menuju kamarnya.


Novi hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian mengikuti langkah kaki suaminya. Novi kembali menatap takjub seluruh isi kamar suaminya yang begitu mewah dengan desain interior monokrom dengan dua perpaduan warna hitam dan putih. Untuk tempat tidur, furniture, hiasan, kursi, meja hingga cat tembok menggunakan warna hitam dan putih.


Kini mereka tengah berbaring di tempat tidur dengan pikiran masing-masing. Novi terpaksa mengenakan kaos oblong putih suaminya, karena ia sempat terkena air hujan saat berada di halaman rumah tuan Fino.


Chiko melirik ke arah istrinya yang terlihat kedinginan, Chiko pun berinisiatif untuk lebih dekat dengannya. Kemudian Chiko memeluk istrinya dengan erat.


Novi terlonjat kaget, ia pun ingin angkat bicara, namun keduluan oleh suaminya.


“Aku juga kedinginan”ucap Chiko yang mengerti jalan pikiran istrinya sambil mengeratkan pelukannya.


Novi kemudian mendongak menatap wajah suaminya yang sudah memejamkan matanya.


Mengapa dia bersikap baik kepadaku, tidak biasanya. Batin Novi.


Kemudian Novi memilih memejamkan matanya karena ia pun merasa hangat dengan pelukan hangat suaminya. Semoga hari esok akan membuatnya semangat lagi. Chiko mengerjapkan matanya dan langsung menatap wajah teduh istrinya yang tengah tertidur pulas di pelukannya.


Kau sangat lucu dan manis tomboy, aku pasti akan merindukan suara bassmu yang selalu berdebat denganku. Batin Chiko sambil tersenyum tipis.


Chiko kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, lalu menatap bibir ranum istrinya yang sudah meruntuhkan imannya. Chiko pun langsung mengecup sekilas bibir mungil istrinya, kemudian beralih mencium kening istrinya cukup lama.


Semoga kita bisa saling mencintai, aku sudah yakin hidup berumah tangga bersamamu. Walaupun kita belum mengenal satu sama lain, entah mengapa hatiku berpihak kepadamu Novita. Batin Chiko.


Kemudian Chiko melepaskan ciumannya dan memilih memejamkan matanya dan mulai terbuai mimpi indah bersama istrinya.


Keesokan harinya……


Milan terus saja menempel bersama suaminya, begitu halnya Malfin yang tidak ingin jauh kepada papahnya. Fino sudah rapi dengan setelan jasnya yang sudah siap berangkat ke bandara, namun kedua kesayangannya seolah tidak ingin melepaskannya.


Novi dan Chiko ikut sedih melihat keluarga kecil atasannya yang sedang melakukan drama.


“Aku tidak ingin papah pergi”ucap Malfin dengan mata berkaca-kaca.


Milan berusaha tersenyum kemudian mengambil alih putranya.


“Malfin, sebaiknya kita berkuda bersama”ucap Milan yang mencoba mengalihkan putranya.


Malfin hanya menggeleng, yang menandakan ia tidak mau.


”Oh iya sayang, aku hampir lupa. Putra hebat ku akan menjaga mama dan dede bayinya setelah papahnya pergi bekerja. Mana ya janjinya, mengapa sekarang tidak ditepati”ucap Fino sambil melirik istrinya.


Malfin langsung terdiam sambil berpikir dalam-dalam.


“Malfin berjanji akan menjaga mama dan dede bayi setelah papah pergi bekerja. Malfin sudah menjadi anak besar dan tidak boleh cengeng, harus kuat, mandiri dan tidak boleh berbohong”ucap Malfin sambil menunduk.


“Pintarnya jagoan papah, papah akan memberi mu hadiah setelah pulang bekerja. Jaga mama dan dedek bayi dengan baik. Jika Malfin rindu, cepat hubungi papah lewat sambungan video call”ucap Fino sambil tersenyum.


“Baik Pah”ucap Malfin dan ikut tersenyum. Fino langsung memeluk putranya dan tak lupa mencium kedua pipi gembul putranya.


“Aku pergi dulu sayang”ucap Fino kemudian mencium kening istrinya.


“Hati-hati mas, kalau sudah sampai di Negara orang cepat hubungi aku”ucap Milan tersenyum sambil memegang lengan suaminya.


“Pasti sayang”ucap Fino.


Fino kemudian masuk kedalam mobil, lalu di susul oleh Chiko. Mobil pun melaju meninggalkan kediamannya. Milan, Malfin dan Novi hanya mampu menatap kepergiannya.


Beberapa hari telah berlalu, Fino begitu bersungguh-sungguh melakukan perjalanan bisnis kali ini. Sudah enam kali ia melakukan pertemuan dengan para rekan bisnisnya dan ikut melakukan rapat bersama demi sebuah ikatan kerja sama dan membahas seluruh proyek yang sedang ia rencanakan bersama. Chiko selalu mendampinginya dengan penuh suka cita dan selalu menyiapkan keperluannya dengan baik.


Sehabis pulang bekerja, Fino akan langsung menghubungi istrinya dan menanyakan kondisinya bersama putranya. Dari jauh Fino tetap memantau istri dan anaknya lewat rekaman cctv di kediamannya yang langsung terhubung di ponselnya. Sedangkan Chiko sama sekali tidak pernah menghubungi atau mengabari keluarganya apalagi istrinya.


Kini Fino tengah menikmati makan siangnya di hotel tempat ia menginap.


“Malam ini, tuan akan mengadakan pertemuan dengan Nona Tailor Wiliam dari perusahan GC di hotel SS”ucap Chiko dengan penuh hormat.


“Hemm, aku akan menghadirinya. Tapi tetap waspada, dia cukup berbahaya di kalangan bisnis”ucap Fino dingin kemudian menyeruput jus Alpukat.


“Baik tuan, mata-mata akan tetap memantau”ucap Chiko.


Sementara di sebuah gedung pencakar langit, tampak wanita paruh baya dan masih terlihat awet muda sedang memeriksa seluruh laporan bawahannya.


“Lenyap kan dia malam ini, aku sudah bosan di tekan oleh perusahan itu. Aku ingin mengalahkannya dan tak ingin menjadi ekornya lagi”ucap wanita paruh baya yang terlihat cantik dan elegan dengan pakaian kantornya yang sedang menelepon anak buahnya.


"Baik nyonya"ucap seseorang diujung telepon.


Bersambung....


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai harapan teman-teman semua 🙏🙏🙏.


Jika teman-teman ingin tahu tentang kisah Lexa dan David, siap-siap ya. Aku akan buat karya baru untuk mereka. Yang kepo silahkan komen ya 🤗