Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Terus Bersama


Fino tampak segar berada di ruang ganti yang sudah mengenakan pakaian santainya. Tak berapa lama kemudian, Milan keluar dari toilet hanya mengenakan jubah mandi, sambil melilitkan handuk di kepalanya yang juga memasuki ruang ganti.


“Masih disini”ucap Milan sambil berjalan menuju lemari pakaiannya.


“Aku ingin menunggumu mengenakan pakaian mu”ucap Fino yang menatap gerak gerik istrinya.


“Sebaiknya tuan keluar, karena aku ingin memakai pakaian ku”ucap Milan sambil membuka lemari pakaiannya.


“Aku akan terus bersamamu dan tetap disini, untuk memastikan istriku tetap berada di sampingku”ucap Fino yang sudah berada di belakang istrinya, kemudian dengan hati-hati mengulurkan tangannya memeluk istrinya dari belakang.


Fino tak lupa menyandarkan dagunya di pundak istrinya, sambil menghirup aroma tubuh istrinya yang begitu wangi yang membuat jiwa lelakinya kembali muncul, bahkan debaran jantungnya kembali bereaksi hebat. Sementara hasratnya kembali bergejolak, namun dengan terpaksa ia harus pendam bahkan kubur dalam-dalam terlebih dahulu, berhubung karena istrinya belum bisa menjadi teman duetnya, karena masih dalam cuti sementara waktu. Fino hanya mampu bersabar dan menunggu waktu yang cukup lama untuk kembali melakukan perjalanan bersama istrinya menuju surgawi yang dirindukannya.


Milan membulatkan matanya dengan kelakuan suaminya yang mulai aneh menurutnya. Ia pun juga merasakan perasaan yang sulit untuk digambarkan dengan debaran jantung yang begitu hebat. Mungkinkah ini yang dinamakan dengan perasaan jatuh cinta, pikirnya. Maklum, Milan bukanlah tipe wanita yang gampang jatuh cinta.


Sejak Fino masuk ke dalam kehidupannya dengan ikatan sebuah pernikahan, Milan mulai membuka sedikit hatinya kepada suaminya. Namun lambat laun, ia membenci suaminya dengan sikap arogan yang dimilikinya. Tapi, tidak menutup kemungkinan saat ini, ia mulai menyukai suaminya, dimana lelaki yang pernah ia benci dan selalu saja ia maki-maki dalam hati pastinya.


“Sampai kapan tuan memelukku, padahal aku ingin memakai pakaian ku, tolong keluarlah. Aku malu jika tuan masih berada di sini dan memperhatikanku”ucap Milan sambil memegang lengan suaminya, dengan jantung yang sudah memompa secara maraton.


Fino tersenyum dengan seringai licik di wajahnya, ia pun berusaha keras untuk tidak terpengaruh disituasi seperti itu. Namun apa boleh buat, ia harus kuat dan harus memiliki ide untuk menjahili istrinya, agar menghilangkan gejolak yang merasuki tubuhnya.


“Aku akan tetap di sini, untuk membantumu memakai pakaianmu. Bukankah beberapa kali, aku membantumu memakai pakaianmu saat di rumah sakit. Jadi jangan melarangku sayang”ucap Fino sambil tersenyum tipis, yang tidak ingin di bantah. Fino mengalami perasaan yang sama dengan istrinya. Tapi ia tetap berusaha untuk mengontrolnya, jika tidak, ia bisa saja lepas kendali.


Milan membeku di tempatnya. Ia pun berkali-kali menarik nafas dalam-dalam, kemudian di hembuskannya. Fino kemudian melepaskan pelukannya, ia pun juga tidak tahan disituasi seperti itu, jangan sampai ia khilaf beneran.


“Sini pakaian mu, biar aku saja yang memakaikan mu”ucap Fino sambil tersenyum yang mulai menjalankan aksi menjahili istrinya. Fino mengambil pakaian dari tangan istrinya.


Wajah Milan mulai memerah, ia pun hanya mampu menunduk, mau menolak mustahil saja. Karena Fino tidak ingin dibantah ucapannya. Ingin rasanya Fino tertawa terbahak-bahak melihat wajah istrinya yang malu-malu kucing. Fino kemudian dengan hati-hati menarik tali jubah mandi istrinya.


Milan hanya mampu memejamkan matanya, sungguh ia benar-benar malu, jika Fino kembali melakukan hal tersebut.


“Tuan, saya haus sekali, tolong ambilkan saya minum”ucap Milan yang kembali memasang wajah memelas dengan wajah yang masih memerah untuk menghindari suaminya.


Fino dengan terpaksa menghentikan aksinya, matanya menyelidik menatap wajah istrinya. Setelah itu, Fino lalu angkat bicara.


“Baiklah, aku akan melakukan apapun untukmu sayang”ucap Fino sambil memegang dagu istrinya.


Milan mulai bernafas lega, saat Fino mulai meninggalkan ruang ganti. Ia pun dengan cepat memakai pakaiannya. Setelah itu, ia pun mengeringkan rambutnya menggunakan hair driyer di meja rias. Pintu kamarnya kembali terbuka, Milan begitu yakin bahwa itu pasti suaminya. Ia pun dengan cepat menyelesaikan mengeringkan rambutnya. Fino lalu berjalan mendekati istrinya sambil membawa air mineral. Milan lalu bangkit dari duduknya dan memilih berjalan menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Fino hanya mampu tercengang melihat tingkah istrinya.


“Sayang, bukankah kau ingin minum”ucap Fino yang mengekor di belakang istrinya.


“Aku sudah minum, kau terlalu lama ke dapur. Bukankah kamar kita juga tersedia beberapa minuman dingin di lemari pendingin. Dan lihatlah di atas nakas, itu juga tersedia air putih beserta gelas dan wadahnya”ucap Milan yang sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Oh”.


Ada apa dengan diriku, mengapa aku jadi pelupa seperti ini. Memang sih pikiranku terus saja di penuhi Milan dan baby boy ku. Batin Fino.


Fino ikut naik ke tempat tidur dan memilih duduk tepat di samping istrinya.


Loh, mau apa lagi tuan Fino berada di sampingku. Bukankah ini masih siang, mengapa ia juga ikut bermalasan denganku. Aduh, dia terus saja lengket seperti lem…Batin Milan yang tidak mampu ia lanjutkan.


Dikarenakan Fino kembali mengangkat sedikit pakaiannya untuk melihat bekas jahitan hasil operasinya.


“Lukanya mulai kering, besok kita kembali control ke rumah sakit” ucap Fino dengan penuh perhatian. “Terima kasih Milan, kau sudah menjadi ibu yang hebat untuk anakku”ucap Fino, kemudian mencium kening istrinya.


Milan selalu saja tersentuh dengan perlakuan suaminya.


“Beristirahatlah, aku akan menjagamu”ucap Fino lalu membaringkan tubuhnya, tepat di samping istrinya. Kemudian kembali memeluknya.


Tuh kan begitu lengket seperti lem saja. Batin Milan.


"Milan".


"Iya tuan".


"Apa kau sudah memiliki nama yang cocok untuk anak kita?" ucap Fino yang kembali kepikiran dengan nama anaknya.


"Belum, aku juga belum memikirkan nama yang cocok untuk anakku"ucap Milan sambil mendongak menatap suaminya.


"Baiklah, jika seperti itu. Biar aku saja yang memberikan nama untuk anak kita. Nanti malam aku akan mengumumkan nya kepadamu sayang" ucap Fino sambil tersenyum.


Sepasang suami istri itu, kemudian memilih tidur bersama dengan penuh keromantisan di dalam kamarnya.


Sementara para pelayan bersama para chef tampak sibuk memasak makanan special untuk jamuan makan malam sebentar malam yang akan diadakan di area taman belakang, sebagai acara istimewa untuk istri majikannya. Sedangkan tukang kebun dan para pekerja mulai sibuk mempersiapkan area taman belakang untuk acara nanti malam.


Sementara di tempat lain….


Seorang wanita hamil bersama wanita paruh baya baru saja keluar dari rumah sakit. wanita hamil itu tampak murung sambil mengelus perut buncitnya berjalan bersama menuju mobilnya. Kemudian seorang lelaki paruh baya tampak membukakan mereka pintu mobil dengan penuh hormat.


“Ma, perutku sudah tujuh bulan, namun sampai sekarang mas Malik belum juga kembali”ucap wanita hamil itu yang tidak lain adalah Sarah.


“Sabar nak, Malik sudah tenang di alamnya. Kau tidak boleh seperti ini nak”ucap mamanya Nyonya Aisyah dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tidak percaya bahwa mas Malik sudah tiada. Jasadnya saja sudah tidak bisa dikenali. Pokoknya mas Malik masih hidup ma”ucap Sarah sambil meneteskan air matanya.


“Istighfar nak, jangan seperti ini, Tuhan sudah memberikannya garis takdir seperti itu”ucap Nyonya Aisyah, lalu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


“Kamu hanya perlu fokus memikirkan masa depanmu nak, sebentar lagi kau akan lahiran. Dan jangan selalu stress memikirkan almarhum suamimu”ucap Nyonya Aisyah dengan mata berkaca-kaca.


“Astagfirullah, aku memang sangat mencintainya ma, hiks hiks hiks. Bagaimana mungkin anakku lahir tanpa seorang ayah, hiks hiks hiks”ucap Sarah yang kembali terisak, jika memikirkan suaminya.


“Mungkinkah ini balasan Tuhan kepada ku, karena aku selalu saja memimpikan untuk balas dendam kepada keluarga Alexander. Ma, aku benar-benar menyesali perbuatanku kepada keluarga Alexander dan terutama sahabat ku Ziva. Aku tidak ingin ada dendam lagi di keluarga Alexander. Aku hanya ingin hidup tentram bersama calon bayiku dan Raka anak mas Malik, hiks hiks hiks”ucap Sarah sambil dengan air mata yang terus saja membasahi wajahnya.


“Sabar nak, ini adalah ujian dari Tuhan. Tuhan pasti selalu menguji hambanya diluar batas kemampuan hambanya. Bersihkan hatimu, perbaiki ibadahmu dan meminta maaflah kepada orang-orang yang pernah kau sakiti, lewat perbuatan dan lisanmu”ucap Nyonya Aisyah yang menasihati putrinya.


“Iya ma, aku harus meminta maaf kepada keluarga Alexander dan terutama kepada sahabatku Ziva yang sudah membuatnya kecewa kerena sikap ku”ucap Sarah, lalu melepaskan pelukannya.


Nyonya Aisyah hanya mampu tersenyum mendengar ucapan putrinya. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan, akhirnya putrinya mulai sadar dan menyesali perbuatannya.


Sementara di tempat lain…..


Keluarga Bu Ani mulai bersiap-siap untuk menghadiri acara makan malam di kediaman Fino Alexander. Mereka semua bangga di undang menghadiri kediaman pengusaha terhebat itu.


“Mama, bagaimana penampilan Dafa, apa sudah tampan”ucap Dafa yang sudah mengenakan pakaian barunya.


“Lihat Dafi ma, pasti Dafi lebih tampan dari Dafa”ucap Dafi yang ingin pendengar penilaian mamanya.


“Dafa dan Dafi sangat tampan, kalian begitu tampan di mata mama”ucap Bu Ani yang memuji kedua putranya.


Bocah kembar itu, hanya mampu tersenyum mendengar pujian mamanya.


“Kak Novi mana? Kok belum terlihat ma”ucap Dafi yang mencari keberadaan kakaknya.


"Ada apa mencari kakak" ucap Novi di ujung tangga.


Mereka semua menatap ke arah sumber suara yang begitu familiar mereka dengar.


"Aku sangat menantikan kakak tampil berbeda, dan sangat cantik seperti bidadari"ucap Dafi sambil melirik usil kakaknya.


"Iya, kakak pasti cantik jika rambutnya panjang seperti wanita pada umumnya"ucap Dafa sewot.


"Kalian berdua, pintar sekali menceramahi kakak. Penampilan kakak ya seperti ini, sejak kapan kalian julid dengan penampilan kakak"ucap Novi yang langsung memasang wajah garangnya.


"Kami hanya ingin melihat kakak cantik, bukan seperti seorang lelaki"ucap mereka kompak.


Kuping Novi mulai panas mendengar ucapan adik kembar nya.


"Dafa, Dafi"ucap Novi yang sudah berdiri di hadapan mereka sambil mengangkat kedua tangannya untuk menjewer telinga adik kembarnya.


"Jangan sakiti adikmu, ucapan mereka berdua memang benar"ucap Bu Ani yang membela kedua anak kembarnya.


"Kenapa mama juga ikut-ikutan sih"ucap Novi cemberut.


"Sudah, sebaiknya perdebatan kita nanti dilanjutkan. Jangan sampai kita terlambat datang ke acara tuan Fino"ucap Bu Ani yang mengambil jalan tengah untuk anak-anaknya.


Bersambung…..


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏