Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Taman Bunga


Keesokan harinya


Milan menyambut pagi dengan penuh semangat. Ia kembali memikirkan tempat yang akan ia kunjungi. Seolah masalah yang menimpa nya beberapa bulan lalu tertutupi dengan sedikit kebebasan yang ia dapatkan.


Membuka tirai jendela hal pertama Milan lakukan untuk menyaksikan mentari pagi hari yang begitu cerah yang sangat mendukung perasaannya. Senyuman selalu terukir di bibirnya, kala melihat burung-burung bertengger riang di ranting pohon disertai suara kicauan nya yang ikut senang menyambut pagi hari. Para pekerja mulai tampak lalu lalang mengerjakan aktivitasnya mulai dari tukang kebun yang sedang memotong rumput, pelayan wanita yang mulai membersihkan kolam renang, para penjaga yang sudah siap siaga di setiap pekarangan rumah dan masih banyak lainnya.


"Aku benar-benar bebas dari lelaki aneh itu, semoga dia menetap di negara A. Senang rasanya tanpa mendengar kata-kata pedas nya" ucap Milan sambil menghirup udara sejuk di pagi hari.


Ia pun lalu melangkahkan kakinya menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Milan mulai berendam di dalam bathtub dengan rileks, sesekali meniup gumpalan busa yang menggunung di dalam bathtub. Cukup lama ia berendam di dalam bathtub, setelah itu, ia pun membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower. Kemudian menyambar jubah mandi untuk menutupi tubuh polosnya, lalu berjalan menuju ruang ganti.


Kini Milan sudah terlihat manis dengan pakaian santainya, berupa gaun berwarna pastel yang tampak melekat di tubuhnya. Penampilan nya di rasa cukup, ia lalu berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk sarapan pagi.


Milan duduk di kursi meja makan. Makanan sudah tersaji dengan rapi di atas meja. Milan memilih sarapan dengan makanan berat berupa nasi goreng dan pasta. Setelah selesai sarapan, Milan memilih berjalan menuju taman belakang untuk melihat aneka tanaman bunga yang berbagai jenis tampak tumbuh dengan subur, mulai dari bunga mawar berbagi warna, bunga matahari, bunga tulip, bunga anggrek yang menggantung indah di pohon dan masih banyak lainnya.


Terdapat tiga tukang kebun yang sedang menyiram bunga, ada juga yang sedang membersihkan dedaunan kering dan yang satunya sedang memberi pupuk organik. Milan lalu berjalan menghampiri mereka.


"Pagi nyonya"ucap tukang kebun ramah yang menyadari keberadaan majikannya.


"Pagi pak" ucap Milan ramah sambil menghirup udara segar dari aroma bunga mawar.


"Taman bunganya begitu luas ya pak dan bunganya berbagai jenis. Apa tuan Fino menyukai semua jenis bunga ini pak"tanya Milan dengan penuh selidik.


"Saya juga kurang tahu nyonya, hanya saja dulu waktu saya baru-baru menjadi tukang kebun di rumah ini, tuan meminta saya untuk menanam tanaman bunga mawar dan bunga matahari. Katanya dulu mendiang almarhumah ibu tuan menyukai bunga mawar dan bunga matahari. Dan setiap kali tuan Fino meminta saya untuk memetik bunga itu untuk di bawa di makam almarhumah ibu tuan" ucap tukang kebun.


"Jadi seperti itu pak" ucap Milan.


Oh jadi dia masih ingat mendiang ibu kandungnya, karena masih sempat berziarah di makam nya, jadi taman bunga ini untuk mendiang ibunya. Memang nyonya Ratu selalu mengatakan bahwa tuan Fino sama sekali tidak mengetahui dengan jelas ibu kandungnya, bahkan sosok nya seperti apa. Ibunya meninggal dunia tepat dia dilahirkan, sehingga ia tidak tahu menahu tentang wajah ibu kandungnya, kasian sekali dia. Batin Milan yang sempat mengetahui sedikit tentang cerita masa lalu suaminya dari ibu mertuanya.


"Kok aku jadi kasian kepada lelaki aneh itu yang sangat menjengkelkan" ucap Milan.


"Nyonya ingin memetik bunga tulip?" ucap tukang kebun yang bernama Joko.


"Emang bisa pak" ucap Milan yang langsung mengalihkan pandangannya ke tanaman bunga tulip.


"Bisa nyonya, mari saya perlihatkan cara memetiknya"ucap pak Joko.


Milan tampak memperhatikan cara pak Joko memetik bunga tulip. Kemudian ia pun di persilahkan untuk memetik bunga tulip tersebut. Milan begitu senang bisa memetik bunga tulip secara langsung, biasanya ia hanya menyaksikan tukang kebun tuan Darren yang melakukan pekerjaan tersebut. Sekarang ia bisa melakukan hal itu.


"Aku ingin memanjang nya di pas bunga" ucap Milan sambil tersenyum.


Sasa dan Suci menghampiri nya dan ikut membantunya memetik bunga tulip.


"Ci bawa bunga tulip ini masuk ke dalam rumah ya, karena saya ingin memanjang nya" ucap Milan sambil menghirup aroma bunga tulip.


"Baik nyonya" ucap Suci yang sudah menaruh bunga tulip di keranjang bunga.


Milan begitu senangnya memetik bunga tulip dan meminta Sasa pelayannya untuk mengabadikan momen nya yang sedang memetik bunga tulip.


Cekrekk


Cekrekk


Berbagai gaya centil dilakukan oleh Milan, bahkan meminjam topi lebar tukang kebun lalu berpose dengan riang di tengah-tengah tanaman bunga.


Bi Sri diam-diam ikut mengambil gambarnya, lalu mengirimkan ke tuan Fino.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di sebuah rumah sakit terbaik di negara B.


Tampak wanita cantik bersama ketiga orang tuanya di tuntun masuk ke dalam rumah sakit. Dokter dan suster yang sudah menunggu kedatangan nya dengan cepat di arahkan ke sebuah ruangan khusus yang memang di siapkan untuk pasiennya itu.


Seorang wanita paruh baya yang masih saja cantik selalu memberikan semangat untuk putrinya.


Suster bersama wanita paruh baya membaringkan tubuh wanita cantik tersebut yang tidak lain adalah Lexa.


"Pihak pendonornya sedang menjalani pemeriksaan oleh dokter, setelah semuanya selesai, kemungkinan besar dokter akan melakukan operasi nyonya" ucap suster.


"Terima kasih sus" ucap wanita paruh baya yang tidak lain adalah nyonya Ira.


"Semoga operasi mu berjalan dengan lancar nak, bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk mu" ucap nyonya Ratu sambil menggenggam erat tangan putrinya.


"Makasih bunda" ucap Lexa sambil tersenyum.


Tuan Alvin, Riko beserta dokter yang menangani Lexa sedang berbincang-bincang bersama di ruangan dokter spesialis mata. Mereka berbincang-bincang dengan serius perihal operasi yang akan dijalani oleh putrinya.


"Kita doakan saja, semoga operasi mata putri tuan berjalan dengan lancar" ucap dokter tersebut yang mengakhiri pembicaraan mereka.


"Iya dok, saya percayakan kepada dokter, berapa pun biayanya saya akan tanggung dok, tolong berikan yang terbaik" ucap tuan Alvin.


"Ini sudah tugas saya sebagai seorang dokter tuan, untuk memberikan yang terbaik kepada pasien saya" ucap dokter tersebut.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di negara A.....


Fino tampak sibuk memimpin rapat bersama para rekan bisnisnya di sebuah hotel miliknya. Setelah itu, ia akan kembali meninjau pembangunan hotel yang sebentar lagi akan rampung di perbatasan antara negara A dan B. Tidak hanya itu, ia akan lanjut meresmikan pembangunan apartemen yang dibangun oleh adiknya Darren, hanya saja Darren begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia melimpahkan sebagian pekerjaannya kepada Fino.


Fino bersandar sejenak di kursi ruang rapat, para rekan bisnisnya mulai keluar dari ruang rapat. Fino memilih membuka ponselnya untuk melihat informasi yang masuk di ponsel nya.


Lagi-lagi Fino tersenyum tipis melihat sebuah foto seorang wanita berpose centil yang dikelilingi bunga-bunga indah.


"Hei bro melamun saja" ucap seorang lelaki sambil menepuk pundaknya.


Fino hanya menatap sekilas, kemudian kembali melihat ponselnya yang menampilkan pemandangan indah di depan mata.


"Sibuk banget si loh" ucap lagi teman satunya dan ikut melihat ke arah ponsel Fino.


Lelaki itu dengan santainya langsung duduk di samping Fino dan ingin merebut ponsel Fino. Kening lelaki itu mendapat jitakan keras dari sang bos besar mafia yang sudah lancang ingin melihat pemandangan indah di ponselnya.


"Mau mati ditangan ku Excel" ucap Fino dingin.


"Santai bro, aku cuman penasaran lihat isi ponselmu sampai kau tidak berkedip" ucap Excel.


"Rindu kali sama istri tercintanya, maklum pengantin baru bro lagi anget-angetnya sama pasangan, malah di tinggal, kan ujung-ujungnya rindu tuh. Apa si Milan sudah di bobol bro" ucap Kevin sambil menaikkan salah satu alisnya.


Fino langsung menyumpal mulut Kevin dengan tissue.


"Apa bisnis mu ingin hancur hah" ucap Fino dengan ancamannya.


"Tidak bro, cuman bercanda, aku pun juga rindu dengan istri ku di rumah dan hampir setiap hari aku bobol terus"ucap Kevin sambil tersenyum yang tidak ingin candaannya menjadi mala petaka bagi keluarganya.


"Sudah-sudah, lebih baik kita keluar saja"ucap Excel sambil menarik tangan Kevin.


"Sepertinya ada nih yang sedang rindu berat, bahkan sembunyi-sembunyi melihat foto seseorang" teriak Kevin yang menggoda Fino lalu berjalan keluar.


"Hei kau benar-benar ingin...."


Kevin malah mengatupkan kedua tangannya sebagai wujud bercandaannya.


Fino geleng-geleng kepala, ia pun tak habis pikir dengan candaan temannya yang begitu lugas. Fino kembali menatap foto centil Milan yang tampak manis dan menggoda.


"Cantik" gumam Fino yang sempat mengagumi kecantikan istrinya, foto Milan bagaikan obat penghilang lelahnya.


"Aku ingin cepat pulang menemui mu gadis tua. Sungguh aku merindukanmu" ucap Fino sambil membayangkan wajah Milan yang selalu saja menari-nari di pikirannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sore harinya


Sementara Milan kembali mengajak Suci dan Sasa untuk berbelanja bahan pokok. Rupanya Milan ingin mengadakan acara makan-makan bersama para pekerjanya di kediaman tuan Fino.


Pak Hardi supir pribadi Fino, kembali mengantar Milan bersama kedua pelayan menuju pusat perbelanjaan terbesar. Hanya 30 menit mereka tiba di pusat perbelanjaan bahan pokok.


Sasa dan Suci turun dari mobil dan berjalan ke samping untuk membukakan pintu mobil untuk majikannya. Milan turun dari mobil dan mengajak mereka masuk ke dalam pusat perbelanjaan bahan pokok.


Mereka mulai sibuk berbelanja, Sasa mengambil daging sapi, ayam, ikan di lemari pendingin yang masih segar. Milan memilih sayur-sayuran dan buah-buahan. Sementara Suci berbelanja bahan rempah-rempah makanan, bahkan mereka tidak tahu sedari tadi dua orang sedang mengintai nya. Suci yang sedang memilih rempah-rempah tiba-tiba saja dibekuk dari belakang dan langsung tak sadarkan diri. Para penjual rempah-rempah tampak syok karena mereka di todong pistol. Orang misterius itu langsung membawa suci melalui pintu belakang pusat perbelanjaan.


Milan dan Sasa yang selesai mengumpulkan barang belanjaan. Mereka mulai mencari keberadaan Suci yang sama sekali tidak terlihat batang hidung nya. Milan lalu menghampiri para penjual rempah-rempah dan menanyakan keberadaan Suci.


"Apa mbak tidak melihat gadis dengan tinggi semampai, berbadan berisi, rambut sebahu dengan tahi lalat di pangkal hidung nya"ucap Sasa yang menyebutkan ciri-ciri Suci.


"Saya tadi melihat ciri-ciri gadis yang di maksud nona, tapi dia dibawa oleh seorang penjahat" ucap penjual itu yang masih ketakutan.


"Astaga siapa yang sudah menculik Suci" ucap Sasa sambil menangis.


"Tenang, kita pasti akan menemukan Suci" ucap Milan yang menenangkan Sasa.


Siapa yang berani menculik Suci. Aku yakin orang itu cari masalah dengan ku. Batin Milan.


Terdengar ponsel Milan berbunyi. Milan lalu membuka ponselnya dan melihat panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Milan memilih mengangkat panggilan masuk tersebut, siapa tahu penting.


"Jika kau ingin gadis kecil ini selamat maka datanglah di jalan gajah tepat pukul tujuh malam"ucap seseorang misterius.


"Beraninya kau cari masalah dengan ku hah... halo... halo" ucap Milan yang terus saja berbicara, padahal orang misterius itu sudah mematikan ponselnya.


"Aku tidak akan mengampuni kalian yang sudah cari masalah dengan ku" gumam Milan sambil mengepalkan tangannya.


Bersambung.......


Jangan lupa tinggalkan jejak 😉