
Fino dengan cepat mengangkat tubuh Milan dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Fino terus berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit. Fino berteriak minta tolong kepada perawat, perawat dengan cepat menyiapkan brankar untuk Milan. Fino mulai mendorong brankar bersama perawat menuju ruang UGD.
Fino begitu tak kuasa menahan air matanya melihat Milan di bawah masuk ke ruangan UGD. Dokter dan perawat mulai menangani Milan di ruang UGD. Mereka semua mulai melakukan pertolongan pertama untuk pasien yang terkena luka tembakan.
"Kita harus melakukan operasi secepatnya. Siapkan tujuh kantung darah AB untuk pasien"ucap Dokter yang menangani Milan.
"Baik dok"ucap perawat yang sedang membantu dokter menangani pasiennya.
Rumah sakit terbaik negara B tidak pernah mengalami kekurangan darah, dikarenakan setiap minggu, selalu melakukan bakti sosial lewat donor darah di rumah sakit tersebut.
Dokter dan perawat kemudian kembali memindahkan Milan ke ruangan operasi untuk melakukan tindakan lanjut terhadap pasiennya. Para dokter bedah dengan cepat menuju ruang operasi, guna menjalankan kewajibannya menyelamatkan pasiennya. Para dokter bedah harus mengangkat peluru yang bersarang di perut Milan beserta janinnya. Tidak butuh kemungkinan, nyawa keduanya bisa saja menjadi taruhannya. Ya jelas para dokter bedah berdoa kepada sang pencipta sebelum memulai operasinya agar tetap berjalan lancar.
Sementara Fino, hanya mampu meninju dinding tembok untuk menenangkan dirinya. Bagaimana tidak, sosok yang sangat ia rindukan harus mengalami kecelakaan tragis, yakni menjadi korban penembakan dari seseorang yang tidak ia kenal yang pastinya bagian dari musuhnya sendiri.
"Ini begitu kejam, bagaimana mungkin kami harus dipertemukan dengan cara seperti ini"ucap Fino sambil terus meninju dinding tembok.
Fino terlihat frustasi, ia benar-benar tidak menyangka kejadian tersebut menimpa orang terkasihnya.
"Aku tidak akan pernah mengampuni, orang yang sudah membuat istriku terluka"ucap Fino dengan rahang tegasnya yang pertanda siap untuk menghancurkan apapun itu termasuk orang yang sudah mengusik orang terkasihnya.
"Tolong selamatkan istri dan anakku Tuhan, hanya engkau yang maha kuasa atas segalanya. Jangan buat istri dan anakku yang menanggung semua beban yang sudah ku perbuat. Aku memang tidak pernah mengingat mu, tapi kali ini tolong dengarkanlah rintihan ku"gumam Fino sambil memejamkan matanya.
Bi Ros terus saja menangis di depan ruangan UGD, ia benar-benar merasa lalai menjaga majikannya. Bi Ros begitu menghawatirkan kondisi Milan, ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Karena tidak berada di sisi majikannya, saat kejadian itu berlangsung.
"Tuhan, selamatkan nona Melati dan anaknya. Aku tidak akan memaafkan diriku jika sampai nona Melati dan anaknya kenapa-kenapa, hiks hiks hiks"ucap Bi Ros yang terus saja menangis tersedu-sedu.
Chiko dan Novi bersamaan tiba di rumah sakit. Novi terkejut melihat sosok lelaki yang selalu saja mengancam keluarganya. Begitu pula dengan Chiko yang tak kalah terkejutnya melihat Novi berjalan beriringan dengannya. Keduanya hanya diam, hingga menghampiri Fino di depan pintu ruang UGD. Chiko terlebih dahulu menghampiri tuannya, sedangkan Novi memilih duduk di samping Bi Ros. Karena ia kembali terkejut melihat Fino yang pernah menodongkan pistol kepadanya.
"Tuan" ucap Chiko yang sudah berdiri di belakang tuannya.
Fino hanya berbalik badan, kemudian menatapnya dengan tatapan kosong.
"Saya sudah membereskan orang-orang yang melakukan masalah di lokasi kejadian tadi. Mereka semua sudah berada di markas besar. Zero sudah memberikan mereka pelajaran dan kembali memenjarakannya di penjara bawah tanah. Untuk pelaku penembakan, saya sendiri yang melenyapkannya tuan. Pelakunya tidak ingin buka suara, tentang siapa dalang yang menyuruhnya untuk melukai nona Milan. Saya masih curiga, semua ini masih ada hubungannya dengan anggota mafia XX.
Fino sama sekali tidak memperdulikan ucapan Chiko, ia hanya diam seribu bahasa. Pikirannya masih saja terus tertuju kepada Milan dan calon bayinya.
"Tuan jangan seperti ini, kita hanya perlu berdoa kepada Tuhan. Supaya nona Milan dan bayinya baik-baik saja"ucap Chiko yang ikut bersedih dengan musibah yang menimpa tuannya.
Lagi-lagi Fino hanya menatapnya dengan tatapan kosongnya.
"Tuan, saya menemukan ini, di lokasi kejadian"ucap Chiko dengan hati-hati. Kemudian memperlihatkan amplop coklat yang sempat ia sembunyikan..
Fino kembali beralih menatap amplop coklat tersebut, lalu ia pun dengan cepat mengambil amplop coklat tersebut dari tangan Chiko. Fino tanpa sabaran, langsung membuka amplop coklat tersebut. Mata Fino kembali berkaca-kaca, saat melihat isi dari amplop coklat yang menampakkan calon buah hatinya yang merupakan hasil USG janin Milan.
"Anakku!"ucap Fino sambil mengusap lembaran hasil USG yang menampakkan calon buah hatinya.
Bi Ros dan Novi beralih menatap ke arah Fino. Pikiran keduanya sama-sama dipenuhi tanda tanya, Bi Ros sedari tadi mendengar ocehan Fino yang menyebutkan Milan atau Melati dengan sebutan istri.
Istri, anak, apa jangan-jangan lelaki ini suami nona Melati. Batin Bi Ros yang melihat ke arah Fino.
"Saya tidak sengaja melihat Mbak Milan di bopong oleh tuan itu Bu, hiks hiks hiks"ucap Novi diselingi dengan tangisnya yang mulai pecah.
"Saat saya sedang mengantar paket di dekat rumah sakit ini Bu, dan tak sengaja saya melihat Mbak Milan sudah berlumuran darah, di bopong oleh tuan itu. Terlihat di luar rumah sakit tampak begitu ramai dengan kejadian tadi. Saya kemudian buru-buru masuk ke rumah sakit ini, untuk mengetahui kondisi mbak Milan, kasihan sekali mbak Milan, dia sedang hamil besar. Saya tidak ingin mbak Milan dan bayinya kenapa-kenapa, hiks hiks hiks"ucap Novi dengan tangisnya yang semakin pecah.
"Milan!"ucap Bi Ros yang merasa asing dengan nama tersebut.
"Iya Bu, dia kakak saya"ucap Novi yang terus saja terisak
"Tapi, nama nona muda saya adalah nona Melati, bukan Milan. Saya sering memanggilnya dengan sebutan nona Melati"ucap Bi Ros yang menghentikan tangisnya.
Bi Ros kembali menangis, kemudian memeluk Novi dengan erat. Mereka berdua mulai menumpahkan kesedihannya dengan cara menangis. Setelah puas menangis bersama, Bi Ros memilih meminta izin kepada Novi untuk menuju ke sebuah mushola yang berada di rumah sakit, guna mendoakan keselamatan Milan dan calon bayinya. Novi hanya mampu mempersilahkan Bi Ros.
Novi memilih menghentikan tangisnya, ia pun melihat ke arah Chiko dan Fino yang mendekat ke arahnya. Novi dengan cepat menundukkan kepalanya.
Chiko menuntun Fino untuk duduk di kursi tunggu di samping Novi. keduanya hanya mampu saling diam dengan kesedihan mendalam. Dan yang terpenting selalu mendoakan keselamatan Milan bersama bayinya.
"Tuan, kita serahkan saja kepada Tuhan, semoga nona Milan dan bayinya tetap dalam lindungan Tuhan. Ingat tuan, kekuatan doa akan mengalahkan segalanya termasuk seluruh isi dunia. Saya mendengar kata-kata ini dari orang bijak, saat saya menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama"ucap Chiko sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Fino hanya diam dengan kesedihan mendalam, ia hanya mampu memikirkan Milan dan buah hatinya. Seandainya waktu bisa berputar, lebih baik dirinyalah yang terluka di bandingkan dengan Milan yang sedang bersama dengan buah hatinya.
Aku tidak pernah meminta kepada mu Tuhan, tapi kali ini tolong selamatkan mbak Milan ku dan bayinya. Jangan biarkan mereka berdua harus menanggung kesakitan nya. Batin Novi.
Fino tak henti-hentinya mendoakan keselamatan Milan dan buah hatinya. Ia selalu saja mondar-mandir di depan ruang operasi, karena beberapa jam yang lalu perawat memberikan informasi kepadanya, bahwa istrinya berada di ruang operasi dan sedang menjalani operasi. Sedangkan Chiko, Bi Ros dan Novi hanya duduk tenang di kursi ruang tunggu dengan perasaan was-was, tentang apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut.
Waktu terus berjalan begitu cepatnya, hingga pintu ruang operasi terbuka dan menampilkan sosok dokter bedah yang baru saja menangani Milan.
“Bagaimana kondisi istri dan anak saya dokter”ucap Fino yang langsung menghampiri dokter bedah tersebut.
Dokter bedah hanya mampu diam, dengan wajah yang terlihat lelah habis melakukan operasi terhadap pasiennya.
“Tolong jawab dok”ucap Fino sambil menarik kerah pakaian dokter bedah.
Dokter bedah lalu menatap manik mata Fino yang begitu tajam, setelah itu, ia pun meminta Fino untuk melepaskan tangannya di kerah pakaiannya. Emosi Fino belum bisa stabil, pikirannya masih kemana-mana.
Dokter bedah kemudian kembali melirik Fino lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Operasinya berjalan dengan lancar, kemungkinan besar istri tuan akan siuman beberapa hari ke depan. Dan saat ini pasien belum bisa dikunjungi, untuk bayinya….”ucap dokter bedah yang tidak melanjutkan ucapannya.
Fino sedikit merasakan perasaan yang begitu luar biasa yang kini ia rasakan yang tidak ingin kehilangan sosok yang begitu dicintainya.
Fino bahkan melakukan sujud syukur kepada Tuhan karena sudah memberikan kelancaran proses operasi orang terkasihnya. Begitu halnya dengan Chiko, Novi dan Bi Ros yang ikut senang mendengar kabar yang melegakan bagi mereka. Fino begitu bersyukur kepada Tuhan saat mendengar ucapan dokter bedah yang menangani Milan, bahwa operasinya berjalan dengan lancar.
“Kenapa dengan bayi mbak Milan dok”ucap Novi yang juga begitu antusias mendengar operasi Milan yang berjalan lancar.
“Bayinya bisa kami selamatkan dan terlahir prematur, tapi kondisi bayinya tidak begitu sehat dan butuh penanganan khusus di rumah sakit ini, demi tumbuh kembang bayinya. Karena beresiko tinggi bagi bayi yang terlahir prematur, mungkin tumbuh kembang dan asupannya yang perlu diperhatikan dan di kontrol dengan baik. Saat ini, bayi nona Milan sudah berada di ruang NICU untuk menjalani perawatan. Ruangan tersebut begitu di sterilkan untuk bayi yang terlahir prematur dan hanya orang tua si bayi yang bisa masuk ke ruangan tersebut, dan pastinya ada arahan dari pihak dokter yang menangani ruangan tersebut”ucap Dokter bedah panjang lebar.
Fino hanya diam mendengar tutur kata dokter tersebut, ia pun merasa sedikit lega mendengar kondisi orang terkasihnya. Chiko mulai membantunya untuk duduk kembali di kursi tunggu.
“Terima kasih dok”ucap Bi Ros dengan mata berkaca-kaca.
Dokter bedah hanya mampu mengangguk. “Kita tidak boleh putus asa, semua akan ada jalan keluarnya, saya pastikan bayi nona Milan akan tumbuh kembang seperti bayi pada umumnya. Kalau begitu saya permisi dulu” ucap Dokter bedah tersebut, lalu undur diri dari hadapan mereka.
“Syukurlah operasi mbak Milan berjalan lancar bu”ucap Novi kemudian memeluk Bi Ros.
Chiko ikut merasa lega, mendengar ucapan dokter barusan. Chiko kembali mengingatkan tuannya untuk tenang dan bersabar dengan musibah yang menimpanya.
Dokter yang menangani Milan belum mengizinkan kerabat terdekat Milan untuk mengunjungi Milan dan bayinya pasca menjalani operasi beberapa jam yang lalu. Fino hanya mampu siap menunggu waktu yang tepat untuk melihat kondisi istri dan bayinya. Ia pun sedikit bernafas lega mendengar tutur kata dokter yang baru saja menangani istri dan bayinya.
“Chiko, siapkan perlengkapan istri dan anakku. Aku tidak sabar untuk melihat mereka berdua, oh jangan lupa juga siapkan pakaianku. Kau tahu sendiri, aku akan menemani istri dan
anakku di rumah sakit ini. Cepat pergilah!”ucap Fino dengan raut wajahnya yang mulai berubah sedikit tenang.
”Baik tuan”ucap Chiko, lalu undur diri dari hadapan tuannya.
Bersambung......