
Pasca operasi yang di lakukan oleh dokter bedah di rumah sakit terbaik Negara B yang memakan waktu hingga tiga jam lamanya, sekitar seminggu yang lalu berjalan dengan lancar. Milan beserta bayinya dapat tertolong berkat kuasa Tuhan dan kerja keras para dokter bedah rumah sakit terbaik Negara B. Namun kondisi Milan belum juga siuman sampai detik ini. Dari ruang ICU, kini Milan sudah menempati ruang VIP rumah sakit.
Fino sudah bisa menemui istrinya beberapa hari ini, bahkan menjaganya dengan baik, tidak hanya itu, Fino bahkan menginap di ruangan tersebut dan terus terjaga demi kesembuhan istrinya. Namun kondisi Milan yang belum juga siuman, membuatnya merasa khawatir. Terkadang ia harus bekerja di ruangan tersebut, jika kondisinya begitu darurat dan tidak boleh di lalaikan, karena peranan utama yang ia pegang sebagai penguasa perusahaan Alexander Group.
Ruangan VIP yang ditempati istrinya di jaga ketat oleh anggota The Tiger, tidak sembarang orang bisa menjenguk istrinya. Hanya Chiko, Novi dan Bi Ros yang bisa memasuki ruangan tersebut, namun harus satu-satu, tidak boleh berbarengan, itu semua demi kenyamanan pasien.
Tidak hanya itu, Fino tak henti-hentinya mengajak istrinya bercerita tentang dirinya yang selalu saja berusaha keras mencari keberadaannya. Walaupun wanita yang dicintainya hanya terbaring lemah, tetapi Fino terus saja menghibur istrinya, lewat bercerita tentang kenangan yang dilaluinya saat mencari keberadaannya.
“Sayang bangunlah, kau harus melihat bayi kita. Walaupun sampai saat ini, dokter belum juga mengizinkanku untuk melihat bayi kita, tapi kau harus bangun untuk mengomeli dokter itu. Supaya kita sama-sama melihat bayi kita”ucap Fino sambil mencium punggung tangan istrinya. Air matanya kembali menetes dengan sendirinya, namun dengan cepat Fino menghapus air matanya.
“Maafkan aku, karena sudah menyakitimu. Sungguh!, aku benar-benar tidak berperikemanusiaan, aku begitu bodoh sudah menyianyiakan mu. Aku bahkan mengusir mu saat kondisimu sedang hamil, dan kau terluka karena diriku, maaf,maaf, maaf”Ucap Fino sambil terus menatap wajah Milan yang begitu pucat pasih.
“Aku kembali teringat saat pertama kali menolong mu. Dimana dirimu menjadi korban jebakan Zayn dengan anak buahnya. Anak buah Zayn begitu licik, bahkan menjual mu kepada lelaki bandot tua demi menghancurkan mu. Entah mengapa, aku begitu murka mengetahui siasat licik mereka yang ingin menjebak mu. Kedua bandot tua yang hampir saja melecehkan mu, aku hancurkan hingga tak tersisa, lewat kekuasaan yang ku miliki. Aku kemudian mendekat kearah tempat tidur, dan mendapatimu tertidur di atas tempat tidur dengan gaya yang begitu menggoda. Untuk pertama kalinya aku melihat dirimu berbeda dari biasanya, dengan pakaian begitu terbuka, sungguh otak mesum ku juga berfungsi, maklum aku juga lelaki normal. Namun aku dengan cepat buang jauh-jauh semua itu dan kembali berfikir secara logis. Kau tahu, aku kembali dihadapkan antara dua pilihan yaitu dirimu dan pernikahan yang akan aku jalani bersama Sarah wanita pilihan mamaku, dimana dua minggu lagi akan dilaksanakan”ucap Fino yang kembali tersenyum menatap wajah istrinya.
“Kau pasti akan bertanya-tanya, mana yang aku pilih, jelas aku lebih memilihmu, karena aku ingin menolong mu yang terpengaruh obat yang membuatmu menjadi bodoh. Dan disitulah aku memilih menikahi mu secara agama, aku tidak pernah memikirkan rencana hidupku ke depannya, yang terpenting aku ingin menolong mu. Asal kau tahu…kau wanita pertama yang aku sentuh yang sudah sah menjadi istriku. Jika waktu itu, kau tidak dalam pengaruh obat, mungkin saja kau akan menghajar ku habis-habisan karena sudah berani menyentuhmu. Tapi, aku tidak memikirkan semua itu, karena malam itu, kau menjadi milikku seutuhnya. Dan setelah malam panjang yang kita lalui, aku kembali mengingat ucapan mamaku tentang hari pernikahanku. Sehingga dengan terpaksa, aku meninggalkan mu di kamar itu dan menghilangkan semua jejak tentang diriku. Maafkan aku, yang tidak berani jujur kepadamu tentang kejadian itu. Tapi pada akhirnya kita kembali ditakdirkan untuk bersama”ucap Fino dengan mata berkaca-kaca diselingi dengan senyuman tipisnya.
“Jangan tinggalkan aku Milan, kau harus berada di sampingku. Kita harus bersama-sama merawat bayi kita hingga tumbuh dewasa dan menjadi anak yang hebat” ucap Fino lalu mencium kening istrinya.
Tiba-tiba air mata Milan menetes dengan sendirinya, mungkinkah dia juga mendengar ucapan Fino barusan, yang terpenting hanya dialah yang tahu.
Fino begitu sabar menjaga istrinya, ia pun selalu berdoa kepada tuhan demi kesembuhan istri dan anaknya, baginya harta yang paling berharga dan tidak pernah tergantikan adalah keluarga. Sampai kapan pun tombak terbesar kita adalah keluarga, tanpa keluarga kita pastinya merasa sendiri dan tersisihkan.
Sementara untuk kondisi bayinya yang lahir prematur, masih menempati ruang NICU khusus untuk bayi lahir prematur. Namun sampai saat ini, kedua orang tua bayi belum diperbolehkan untuk memasuki ruangan tersebut.
Banyaknya alat-alat medis yang melekat ditubuh bayi yang lahir prematur diantaranya ialah, inkubator yaitu tempat tidur kecil layaknya boks bayi dengan warna transparan yang berfungsi untuk melindungi bayi dari penyebab infeksi dan menjaga tubuh bayi agar tetap hangat. Selanjutnya ventilator (alat bantu pernapasan) alat ini disambungkan dengan selang kecil yang dimasukkan ke hidung bayi. Selain itu, feeding tubes (selang makanan) alat ini dimasukkan ke dalam perut bayi melalui mulut atau hidung untuk menyalurkan air susu ibu (ASI) atau susu formula dan masih banyak lainnya.
Bayi Milan terlihat memerah di dalam tabung inkubator dikarenakan terlahir sebagai bayi prematur yang belum genap bulan untuk dilahirkan. Bobot tubuh bayi mungil itu sekitar 2.5 kg dan berjenis kelamin laki-laki. Para medis yang berada di ruang NICU begitu siaga menjaga tumbuh kembang sang bayi dan selalu mengutamakan kesterilan di dalam ruangan tersebut, salah satunya harus menggunakan pakaian steril yang tersedia di ruangan tersebut.
Bi Ros dan Novi datang menjenguk Milan, keduanya bergantian memasuki ruang perawatan Milan. Fino memilih duduk di sofa ruangan itu, sambil mengecek email masuk yang dikirimkan oleh Chiko untuknya. Fino kembali menghentikan pekerjaannya, saat mendapati panggilan masuk dari dokter yang menangani anaknya. Setelah cukup lama mengobrol dengan dokter, Fino lalu mendekat ke tempat tidur dimana istrinya sedang terbaring lemah.
“Sayang, aku pergi dulu. Baru saja dokter meneleponku, bahwa aku sudah diperbolehkan melihat kondisi bayi kita”ucap Fino lalu mencium kening istrinya.
“Saya titip Milan, jika terjadi sesuatu, cepat hubungi saya Bu Ros”ucap Fino.
“Baik tuan”ucap Bi Ros.
Fino lalu berjalan keluar, ia pun mendapati anak buahnya sedang berjaga-jaga di depan pintu ruang VIP tersebut. Fino memilih menitipkan istrinya kepada Bi Ros untuk menjaganya, karena ia sudah percaya dengan wanita paruh baya tersebut yang sudah bersama istrinya beberapa bulan ini.
Untuk pertama kalinya Fino di izinkan mengunjungi bayinya. Fino tampak mengenakan pakaian steril dalam ruangan tersebut. Dokter dan perawat mengarahkan Fino pada inkubator bayinya.
Tak terasa air mata Fino menetes dengan sendirinya, saat melihat bayi mungil yang belum cukup bulan sudah dipenuhi alat medis di tubuhnya yang sedang tertidur pulas.
Fino hanya mampu menatap buah hatinya di dalam tabung inkubator sambil mendengar informasi dokter terkait tumbuh kembang buah hatinya yang akan berbulan-bulan menempati inkubator tersebut.
Bertahanlah nak, kau pasti kuat berada di dalam boks bayimu. Ayah sudah tidak sabar untuk menggendong mu dan mengajakmu bermain. Batin Fino dengan mata berkaca-kaca, sambil tersenyum melihat buah hatinya.
Setelah selesai menjenguk bayinya, Fino kembali ke ruangan istrinya. Fino berjalan gontai memasuki ruangan tersebut, matanya pun membulat sempurna saat mendapati sosok yang begitu dicintainya sudah siuman dan tengah ditangani oleh dokter yang menanganinya.
“Milan!”ucap Fino, kemudian dengan cepat menghampiri istrinya.
Milan terlihat linglung dengan ruangan yang ditempatinya, ia pun sedikit merasa lega, saat melihat Bi Ros berada di sampingnya.
“Malaikat kecilku dimana dok”ucap Milan yang meraba perutnya.
“Bayi nona berada di ruangan khusus untuk bayi, jadi nona tidak perlu khawatir”ucap dokter yang menanganinya.
Milan kembali menangis saat mengingat kejadian itu.
“Aku ingin melihatnya”ucap Milan sambil berusaha turun dari tempat tidur.
Dokter dan perawat dengan cepat menghentikannya.
“Belum saatnya nona, anda juga butuh perawatan”ucap dokter.
“Tidak dok, aku harus menemui bayiku”ucap Milan sambil berusaha melepas jarum infus di pergelangan tangannya, perawat kembali menghentikannya namun Milan terus saja memberontak ingin melihat bayinya.
Dengan terpaksa dokter menyuntikkan kembali obat penenang untuk Milan. Agar tidak melukai dirinya sendiri. Kemudian dokter dan perawat memilih meninggalkan ruangan tersebut.
Fino kemudian menghampiri istrinya dengan mata berkaca-kaca.
Milan hanya mampu menatapnya dengan mata sendunya yang sudah terpengaruh obat. Tanpa basa-basi Fino langsung memeluk istrinya.
“Aku merindukanmu”ucap Fino sambil tersenyum bahagia.
Milan hanya diam dan sama sekali tidak mendengarkan ucapan Fino. Fino melepaskan pelukannya dengan hati-hati.
Bi Ros memilih keluar dari ruangan tersebut, ia tidak ingin menggangu kebersamaan majikannya.
“Sayang, maafkan aku, aku sangat menyesal sudah menyakitimu”ucap Fino tulus.
Milan hanya diam dan memilih buang Muka. Fino kembali tersenyum ia harus berusaha keras meminta maaf kepada Milan.
“Maafkan aku, karena sudah menyianyiakan mu, bahkan tidak berada di sampingmu saat kau sedang mengandung anakku”ucap Fino sambil menggenggam tangan istrinya.
Lagi-lagi Milan hanya mampu diam seribu bahasa.
“Aku mencintaimu Milan, aku bahkan sangat mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku”ucap Fino dengan mata berkaca-kaca.
Milan kemudian menatapnya dengan tatapan sendunya. Ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Fino. Milan kembali menangis saat mengingat buah hatinya.
“Aku merindukan malaikat kecilku, hiks hiks hiks”ucap Milan diselingi tangisnya.
“Jangan bersedih sayang, bayi kita tetap sehat”ucap Fino sambil menghapus air mata istrinya. “Aku baru saja melihatnya, wajahnya mirip denganmu”ucap Fino sambil tersenyum.
Raut wajah Milan tiba-tiba berubah mendengar ucapan Fino.
Bersambung…..
Terima kasih atas dukungannya teman-teman🙏🙏🙏
Mohon maaf, aku tidak nongol beberapa hari ini, soalnya aku sakit dan tidak mampu beraktivitas. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. 🙏🙏🙏
Tetap jaga kesehatan, karena kesehatan begitu penting 🤗.
Jika terdapat kesalahan penulisan, harap di maklumi. Secepatnya pasti akan aku revisi ulang🙏🙏