
Fino berlari kesana-kemari menyusuri area bandara. Sedangkan Chiko bersama anggota The Tiger mulai memeriksa jadwal keberangkatan para penumpang pesawat dari berbagai negara.
Fino terus mencari keberadaan Milan, sambil terus dan terus meneriakkan nama Milan. Hingga tenggorokannya kering, bahkan suaranya sudah serak.
"MILAN! kemana pun kau pergi, aku akan menemukan mu. Walau sampai ke ujung dunia sekalipun!"teriak Fino yang menggema di sekitar bandara.
Tidak hanya itu, dapat menggangu orang-orang disekitarnya, karena mampu membangunkan para penumpang pesawat yang sengaja beristirahat di area bandara. Terutama para penumpang pesawat yang, memilih menunggu waktu keberangkatan nya ke negara yang akan mereka tuju.
Fino terus mencari keberadaan Milan, bahkan menyusuri seluruh isi dari bandara tanpa terkecuali, bersama para anak buahnya, hingga waktu berganti menjadi pagi hari. Fino mulai frustasi, ia pun terlihat berantakan dengan wajah kusang, mata memerah, tatanan rambutnya sudah tidak beres, entah mode apa jadinya, namun tetap saja memancarkan pesona ketampanannya. Fino bahkan ngos-ngosan, karena berjam-jam, ia menyusuri area bandara. Ia pun memilih duduk di kursi tunggu yang sempat di duduki oleh Milan.
Fino mulai mengatur nafasnya, pikirannya begitu kacau balau, bahkan belum juga 24 jam ditinggal oleh Milan, ia pun sudah kelimpungan. Chiko yang berada tidak jauh darinya, merasa kasihan melihat tingkah laku tuannya yang begitu frustasi ditinggal oleh istrinya. Chiko kemudian menghampiri tuannya, sambil membawa minuman isotonik.
"Silahkan tuan"ucap Chiko sambil menyodorkan minuman isotonik untuk tuannya.
"Apa kau sudah menemukan Milan"ucap Fino yang menatap tajam Chiko, tanpa mengambil minuman isotonik yang disodorkan oleh Chiko.
"Tenang dulu tuan, kita pasti menemukan nona Milan. Sebaiknya tuan minum ini dulu, agar kondisi tubuh tuan tetap fit"ucap Chiko dengan hati-hati, karena kondisi tuannya tidak biasanya seperti itu, salah kata atau ucapan bisa menimbulkan masalah besar, pikirnya.
Fino lalu mengambil minuman isotonik yang disodorkan oleh Chiko, kemudian ia pun langsung meminumnya hingga tandas, karena memang tenggorokannya nya terasa kering.
Kasihan juga tuan Fino kalau seperti ini. Memang cinta terkadang datang tiba-tiba, namun pada akhirnya akan menyakitkan. Untungnya, aku belum terlalu jauh memiliki perasaan kepada nona Lexa. Karena bagiku, cinta mampu membuat orang menjadi bodoh dan hilang kendali. Batin Chiko yang memperhatikan tuannya yang tampak frustasi.
"Chiko!".
"Iya tuan" ucap Chiko cepat.
"Bagaimana dengan rekaman cctv bandara ini, apa kau sudah memeriksanya?" ucap Fino dingin.
"Saya sudah memeriksanya tuan, dan pihak bandara masih sibuk mengamati hasil rekaman cctv beberapa jam yang lalu. Jika mereka sudah menemukan titik keberadaan nona Milan, pihak bandara langsung mengabari saya tuan" ucap Chiko menjelaskan.
"Bagus, jangan sampai Milan pergi jauh dariku" ucap Fino, sambil menyandarkan punggungnya di kursi tunggu. Sungguh ia tidak ingin kehilangan sosok wanita yang sudah mengisi hatinya.
Tak berselang lama kemudian, pihak bandara yang memiliki peranan penting dalam hal sistem informasi mengenai data-data kebandaraan langsung menghampiri Chiko.
"Saya sudah menemukan titik terakhir wanita yang anda cari" ucap pihak bandara tersebut.
"Cepat perlihatkan kepada ku" ucap Fino yang langsung bangkit dari duduknya.
"Tunggu sebentar tuan, kebetulan saya mengambil beberapa potong hasil rekaman cctv di titik ini" ucap pihak bandara, kemudian menyodorkan iPad-nya kepada Fino.
Fino membulatkan matanya melihat sosok wanita yang dicarinya. Terlihat Milan menarik kopernya memasuki bandara dengan penampilan yang basah kuyup, lalu memilih duduk di kursi tunggu yang sempat ia duduki. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak tega melihat Milan seperti itu. Fino kembali tertegun melihat Milan menangis tersedu-sedu, rasa menyesal kembali menghiasi pikirannya.
"Maafkan aku Milan, karena sudah menyakiti mu" ucap Fino yang kembali memperhatikan rekaman cctv tersebut.
"Chiko, Milan masih berada di sekitar bandara. Cepat kerahkan anak buah mu untuk mencari di daerah ini, lihatlah Milan berjalan keluar bandara... aku yakin dia belum pergi jauh" ucap Fino antusias, yang sedikit mendapatkan angin segar tentang keberadaan istrinya.
"Baik tuan" ucap Chiko, lalu memberikan kode kepada para anggota The Tiger untuk mulai berpencar mencari keberadaan istri tuannya.
Sementara Milan sudah terbangun dari pingsannya beberapa menit yang lalu. Milan masih linglung melihat disekelilingnya yang terasa asing baginya. Ia pun menggerakkan tangannya, dan kembali terkejut melihat cairan infus tergantung di samping nya dengan tiang penyangga.
"Siapa yang melakukan semua ini" ucap Milan yang melihat tangannya sedang di infus.
Milan kembali memperhatikan suasana disekelilingnya yang terdapat banyak poster seniman rocker.
"Ini pasti kamar orang yang sudah menolong ku" ucap Milan, kemudian memeriksa kondisi tubuhnya, karena sudah berganti pakaian. Milan kemudian mengganti posisinya, ia pun memilih bersandar di badboard tempat tidur.
Cklek
Pintu kamar itu terbuka, Milan langsung melihat ke arah pintu. Terlihat gadis tomboi membawa nampan yang sangat ia yakini berisi makanan hangat, karena asapnya mengepul di udara. Milan kembali memicingkan matanya melihat dua bocah lelaki yang mengekor di belakang gadis tomboi tersebut.
"Selamat pagi" ucap bocah lelaki yang berwajah mirip yang langsung berlari kecil ke arah tempat tidur. Rupanya bocah lelaki itu kembar, bahkan pakaian yang mereka gunakan juga mirip.
Milan langsung tersenyum melihat bocah kembar yang langsung menghampirinya.
Mereka rupanya kembar. Batin Milan.
"Eeh kalian mau apa, mbak ini butuh istirahat" ucap Novi kepada anak kembar tersebut.
"Kakak, Kami hanya ingin melihat orang sakit"ucap mereka kompak.
"Dafa, Dafi, jangan ganggu Mbak ini" ucap Novi dengan suara meninggi.
Gadis 23 tahun itu, selalu saja mengeluarkan suara meninggi jika berurusan dengan adik kembarnya.
Dafa dan Dafi lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menatap wajah Milan. Ia sama sekali tidak memperdulikan ucapan kakaknya.
Milan lagi-lagi hanya mampu tersenyum melihat tingkah bocah kembar itu.
"Mbak sarapan dulu ya" ucap Novi yang meletakkan nampannya di atas nakas.
"Terima kasih, sudah menolong ku" ucap Milan dengan wajah pucat nya.
"Sama-sama mbak, ya sudah mbak sarapan dulu" ucap Novi.
"Kakak, kami disini saja ya jagain kakak ini. Soalnya ini hari libur, Dafi ingin bersama kakak ini" ucap Dafi yang memasang wajah memohon.
"Baiklah, asalkan kalian tidak nakal dan tidak menggangu waktu istirahat mbak ini. Kakak ingin bantuin ibu buka kedai dulu, lalu berangkat kerja" ucap Novi sambil memasang tampang garang.
Dafa dengan hati-hati mengambil nampan yang berisi semangkuk bubur ayam, kemudian memberikan kepada Milan.
"Pintarnya" puji Milan kepada bocah kembar itu.
Novi hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adik kembarnya. Walaupun adik kembarnya masih berusia 10 tahun, namun jiwa kemanusiaan nya cukup diajukan jempol. Karena hampir setiap hari, Novi direpotkan oleh adik kembarnya yang selalu saja menolong orang asing yang membutuhkan, bahkan sampai-sampai tidak sengaja menolong orang gangguan jiwa yang membuat nyawa keduanya hampir melayang.
"Kalau begitu saya permisi dulu mbak" ucap Novi, lalu undur diri dari hadapan Milan.
Sedangkan Milan mulai menikmati sarapannya. Sambil diperhatikan oleh bocah kembar itu. Tak berselang lama kemudian, Bu Ani juga menghampiri Milan untuk melihat kondisinya.
"Kalau butuh sesuatu, katakan saja ya kepada Dafa atau Dafi" ucap Bu Ani yang penuh perhatian.
"Iya Bu"ucap Milan sambil tersenyum.
Milan begitu senang tinggal di rumah sederhana Bu Ani. Ia pun kembali merasa memiliki keluarga. Canda tawa serta kebersamaan bersama keluarga Bu Ani membuatnya merasa bahagia dan pikirannya mulai teralihkan oleh kasih sayang dari anak-anak Bu Ani yang sudah menganggap nya sebagai saudara. Begitu pula dengan Bu Ani yang sudah menganggap Milan sebagai anak tertuanya. Kondisi Milan pun mulai membaik.
Milan pun mulai bercerita kepada Bu Ani dan Novi bahwa ia sedang di incar oleh penjahat, sehingga ia pun harus bersembunyi. Dan masalah kehidupan rumah tangganya, Milan tidak berani menceritakan kepada orang yang baru dikenalnya, dan itu menjadi rahasia pribadinya yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Milan pun terkadang ingin membantu pekerjaan rumah Bu Ani, namun Bu Ani tidak membiarkan nya bekerja, berhubung karena kondisinya yang masih belum sepenuhnya fit, apalagi sedang mengandung.
Milan sempat dilanda kepanikan bersama keluarga Bu Ani dua hari yang lalu. Saat para anggota The Tiger mulai memeriksa satu persatu perumahan dan kedai yang berlokasi tidak jauh dari bandara. Untungnya Milan masih memiliki kesempatan melakukan penyamaran dengan menggunakan topeng mainan dari bocah kembar Dafa dan Dafi. Untuk kopernya, Milan meminta Bu Ani untuk membakarnya beserta beberapa pakaiannya, itu semua ia lakukan agar tidak diketahui keberadaannya oleh anggota The Tiger. Milan yakin, bahwa mereka adalah utusan Fino yang sedang mencarinya kembali.
Flashback on
Tampak para anggota The Tiger mulai berkeliaran di sekitar kedai makanan milik Bu Ani.
Bu Ani yang sedang berjualan bersama anak kembarnya begitu panik, ia pun langsung menyuruh anak kembarnya untuk menemui Milan. Sedangkan Novi sudah berangkat kerja sedari tadi.
"Cepat temui kakakmu" bisik Bu Ani kepada anak kembarnya.
Kedua anak kembar itu dengan cepat menuju kamar yang ditempati oleh Milan.
Untungnya aku sudah melakukan apa yang diperintahkan oleh nak Milan untuk membakar koper miliknya bersama beberapa isinya. Batin Bu Ani.
Sementara Milan yang sudah tidak menggunakan infus tampak duduk termenung di pinggir tempat tidur.
Dafa dan Dafi membuka pintu kamar yang ditempati Milan dengan hati-hati. Milan kembali mengalihkan pandangannya saat mendengar pintu kamarnya terbuka, ia pun melihat kedua bocah kembar sedang mengendap-endap layaknya seorang pencuri menghampiri Milan.
"Kakak ada orang jahat diluar, cepat bersembunyi" ucap Dafa sambil berbisik.
Milan hanya mampu membulatkan matanya mendengar ucapan anak kembar itu.
Jangan-jangan mereka anggota The Tiger. Batin Milan yang sudah menduga.
"Kakak harus bersembunyi di mana" ucap Milan dengan suara yang berbisik pula.
"Ikuti kami kak, ayo" ucap Dafi.
Milan lalu mengikuti langkah kaki bocah kembar itu.
"Ayo masuk kak" ucap Dafi yang menyuruh Milan bersembunyi di dalam kamarnya.
Milan tidak punya pilihan, selain mengikuti ucapan anak kembar itu.
"Pakai ini kak" ucap Dafa, sambil menyerahkan sebuah topeng kepada Milan, untungnya bukan topeng monyet yang membuat Milan jijik.
Milan kemudian memakai topeng tersebut, dan luar biasa mampu menutupi wajahnya dengan sempurna.
Kedua bocah kembar itu kembali memerintah Milan untuk berbaring di atas tempat tidur, lalu kembali menyelimuti seluruh tubuh Milan. Tak berselang lama kemudian, para anggota The Tiger mulai memeriksa seluruh isi rumah Bu Ani.
"Minggir kalian bocah" ucap salah satu anggota The Tiger yang mendorong tubuh Dafi, karena menghalangi jalannya masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu saya sedang sakit keras, lihatlah dia sedang terbaring lemah" ucap Dafa yang sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil memijit kaki Milan. Sedangkan Milan merasa tidak tenang, ia pun tidak ingin ditangkap oleh anggota The Tiger yang merupakan rekan sesama mafia nya.
Ya Tuhan, semoga mereka tidak menangkap ku. Batin Milan.
Lelaki itu mendekat lalu membungkukkan tubuhnya untuk melihat wajah Milan yang sedang memakai topeng. Lelaki itu terlonjat kaget melihat wajah Milan yang sedang memakai topeng yang cukup menyeramkan dengan luka bakar di area wajahnya. Sementara Milan terus memanjatkan doa kepada Tuhan agar penyamaran nya tidak terbongkar.
"Hah, kasihan sekali ibumu, ya sudah jaga ibumu dengan baik" ucap lelaki yang merupakan anggota The Tiger, kemudian dengan cepat keluar dari kamar tersebut.
Untungnya dengan liciknya kedua bocah kembar itu mampu mengelabui anggota The Tiger.
Flashback off
Kini Milan tengah berada di dalam kamar Novi dan sedang duduk bersama dengan Novi untuk membicarakan hal penting.
"Aku sudah menganggap mu sebagai adikku Novi, bolehkah aku meminta bantuan mu" ucap Milan sambil memegang tangan Novi.
"Pasti kak, semoga aku bisa membantu mu" ucap Novi yang begitu tulus.
"Aku ingin mengubah identitas ku, agar aku bisa pergi sejauh mungkin dari negara ini. Apa kau bisa membantu ku" ucap Milan dengan tegas dengan tatapan mata yang begitu tajam.
Novi hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya.
"Terima kasih" ucap Milan.
Kemudian mereka pun saling berpelukan.
Sementara di kediaman Fino.....
Fino baru saja tiba di kediaman nya. Ia pun sudah kewalahan mencari keberadaan Milan beberapa hari ini. Namun tekadnya tidak akan berhenti sebelum menemukan Milan. Seluruh anggota The Tiger sudah ia kerahkan kemana-mana untuk mencari keberadaan istrinya, namun tak kunjung mereka temukan.
Fino kembali termenung di sofa ruang tamu. Ia pun kembali emosional akhir-akhir ini, jka para pelayan atau anak buahnya melakukan kesalahan yang tidak disengaja.
"Assalamualaikum".
Fino sama sekali tidak menjawab salam dari seseorang yang mengucapkan salam diambang pintu masuk.
"Mengapa tidak menjawab salam mama nak" ucap seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah nyonya Ratu.
Fino langsung bangkit dari duduknya dan melihat ke arah pintu sosok yang sangat disayanginya.
"Mama" ucap Fino shock melihat kedatangan ibunya.
Nyonya Ratu hanya tersenyum, ia pun berjalan menghampiri putranya.Fino pun ikut berjalan untuk menghampiri ibunya. Mereka lalu berpelukan dengan penuh kasih sayang antara seorang ibu dengan putranya.
"Mengapa mama tidak mengabari Fino" ucap Fino sambil melepaskan pelukannya.
"Mama hanya ingin menemui menantu mama. Oh iya Milan kemana?" Ucap nyonya Ratu sambil tersenyum.
Tenggorokan Fino tiba-tiba saja tercekik, ia pun tidak tahu harus menjawab apa kepada ibunya.
Bersambung.......