Mafia Couple Love

Mafia Couple Love
Pesta


Sementara Fino, Chiko dan para anggota The Tiger, sedang menangkap satu persatu anggota kelompok mafia XX yang berkeliaran di sebuah club malam dan setiap perbatasan lingkup daerah negara B.


Fino dan Chiko tidak segan-segan untuk menghabisi anggota XX yang cari masalah dengannya. Sebanyak 20 anggota XX sudah ditahan di markas besar the Tiger.


Fino bersama Chiko berada di ruangan nya. mereka pun berbicara begitu serius. Setelah itu, mereka lalu keluar dari ruangan nya dan berjalan menuju ruangan bawah tanah untuk menghabisi para tawanan nya.


Tampak seluruh anggota XX sudah babak belur, mereka terus di cambuk dan disiksa oleh para anggota The Tiger. Saat menyadari ketua the Tiger sudah berada di ruangan bawah tanah itu. Para anggota The Tiger menghentikan aksinya dan langsung membungkukkan badannya memberi hormat kepada ketuanya.


"Apa diantara mereka ada yang ingin bebas" ucap Chiko dengan seringai licik diwajahnya yang sedang melakukan tarik ulur.


"Sepertinya tidak ada, lebih baik kita habisi saja mereka" ucap Chiko sambil tersenyum sinis, dengan pistol di tangannya.


Salah satu dari anggota XX dengan cepat mengangkat tangannya.


Fino memicingkan matanya dengan seringai licik diwajahnya.


"Lepaskan dia Zero"ucap Fino enteng.


Kemudian Zero melakukan apa yang diperintahkan oleh ketuanya. Anggota XX yang tampak babak belur itu dengan cepat bersimpuh di bawah kaki Fino sambil terus mencium sepatu Fino.


"Apa yang sedang kau lakukan hah!" ucap Fino yang berdiri tegak, tanpa menggunakan senjata.


"Berdirilah, aku tidak suka orang memohon di kakiku" ucap Fino sambil dengan suara lantang.


Orang tersebut mulai bangkit dan dengan kelicikannya, ia pun mengeluarkan belatinya dan langsung mengarahkan ke tubuh Fino. Namun Fino dengan cepat mencekal tangannya hingga belati kecil itu terjatuh di tanah. Lalu iapun menendang kedua lutut lelaki itu, hingga kembali bersimpuh di hadapan nya. Chiko kembali memborgol orang tersebut.


"Wah kau cukup berani" ucap Fino dingin dengan tatapan tajam.


"Aku akan membunuh mu Fino Alexander dan ku pastikan kau akan mati di tangan ketua ku" teriak orang tersebut.


"Hemm".


Fino lalu berbalik badan dan menarik sebuah samurai yang tersusun rapi di dinding tembok. Dengan gerakan cepat Fino langsung menebas leher orang itu, hingga kepalanya tergeletak di tanah.


Semua tawanan di ruangan itu begitu ketakutan, karena selanjutnya mereka lah yang akan dihabisi.


"Habisi mereka, dan jangan lupa bereskan mayatnya di tempat pembakaran" ucap Fino dingin dengan tatapan tajam.


Kemudian Fino berjalan keluar bersama dengan Chiko.


"Apa anda yakin bahwa wanita itu akan menemui tuan bersama ketua mereka" ucap Chiko yang mengekor di belakangnya.


"Tunggu saja tanggal mainnya Chiko" ucap Fino dengan seringai licik diwajahnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Keesokan harinya....


Fino berangkat pagi-pagi ke kantornya. Ia sama sekali tidak pernah melihat Milan, terselip rasa rindu dihatinya terhadap wanita itu, namun tetap saja ia tidak ingin terlihat membutuhkan wanita itu. Ia hanya ingin wanita itu yang harus mengejar-ngejar nya.


Pagi ini ia akan mengadakan rapat tentang rencana pembangunan rumah sakit dan apartemen akan kembali ia bahas, bersama dengan pendapatan dan pengeluaran perusahaan. Hingga rapat itu berlangsung beberapa jam lamanya.


Sementara seorang wanita cantik sudah tampak stand by di lobi perusahaan nya. Wanita itu kembali menghubungi seseorang.


"Aku sudah berada di perusahaannya, semoga rencana ku kali ini berhasil ketua"ucap Gabriela di ujung telepon.


"Hemm, jalankan rencana mu. Setelah itu, aku yang akan turun tangan" ucap seseorang diujung telepon, lalu mematikan panggilannya secara sepihak.


"Pasti semuanya akan berjalan lancar" ucap Gabriela dengan seringai licik diwajahnya.


Setelah itu, ia pun berjalan menuju resepsionis.


Gadis itu tidak lain adalah Gabriela. Setelah mendapat arahan dari staff resepsionis. Gabriela kemudian berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai tertinggi perusahaan, dimana sang direktur berada.


Gabriela kembali memperbaiki penampilan nya di dalam lift, ia tidak ingin membuat kesalahan kecil hanya karena penampilannya.


Pintu lift terbuka Gabriela dengan cepat keluar dari lift tersebut. Dan kembali berjalan lenggak-lenggok menuju ruangan penguasa perusahaan Alexander Group.


Chiko yang sudah berada di depan pintu ruangan tuannya, ia pun dengan sigap mempersilahkan Gabriela masuk ke ruangan tuannya.


Dengan perasaan campur aduk, Gabriela masuk ke ruangan Fino. Ia pun memasang senyum manisnya saat mendapati Fino tengah duduk di kursi kebesarannya yang sedang memeriksa beberapa berkas penting.


Sungguh pesona Fino Alexander membuatnya terpana, seakan tidak ingin menjalankan rencananya untuk menghabisi Fino Alexander. Gabriela hanya mematung di tempatnya sambil terus menatap Fino, namun ia kembali pada rencananya.


"Duduklah nona Gabriela, kau tidak perlu menatap ku seperti itu" ucap Fino yang sama sekali tidak beralih dari berkas penting nya.


Gabriela tersenyum manis, ia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Fino.


Kau sangat tampan Fino Alexander, tapi sayangnya aku ingin menghabisi mu. Namun aku ingin terlebih dahulu memberimu sebuah kejutan. Batin Gabriela.


"Ada yang bisa saya bantu nona Gabriela" ucap Fino yang sudah menghentikan pekerjaannya.


"Aku hanya ingin menemui mu tuan Fino Alexander"ucap Gabriela sambil menopang dagunya dengan memasang wajah centil.


"Hanya itu?" ucap Fino dingin dengan tatapan tajam.


"Bagaimana jika malam ini kita ke pesta barengan" ucap Gabriela sambil tersenyum manis.


"Tidak perlu, saya banyak urusan" ucap Fino dingin.


"Oh ya, saya tidak suka basa-basi tuan Fino" ucap Gabriela, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Fino.


Gabriela dengan santainya langsung duduk di pangkuan Fino. Fino mengepalkan tangannya dengan rahang yang mulai mengeras, namun ia tidak ingin gegabah sebelum dugaannya benar.


Gabriela mulai menyusuri wajah Fino dengan tangan kiri nya, untuk mengalihkan konsentrasi musuhnya. Sementara tangan kanannya menyelinap masuk ke dalam saku rok mini nya hingga menemukan senjata satu-satunya.


Namun Fino dengan cepat membaca pikirannya. Ia pun langsung mendorong tubuh Gabriela hingga terjatuh di lantai. Sehingga sesuatu yang dipegang Gabriela ikut terjatuh dan berbunyi nyaring.


Rupanya sebuah tusuk konde perak yang mengkilap dan sepertinya sangat tajam.


Fino lalu berjongkok mengambil tusuk konde tersebut.


"Benda apa ini nona Gabriela"tanya Fino yang membolak-balikkan benda tersebut.


Gabriela langsung mengepalkan tangannya, ia pun dengan cepat menyerang Fino. Gabriela terus melakukan perlawanan, sementara Fino terus menghindari pukulan telak Gabriela yang begitu lincah melawannya.


Fino tak mau kalah, ia pun berhasil menendang perut Gabriela hingga terjungkal ke belakang. Sementara Gabriela masih tetap berdiri di tempatnya semula. Fino kembali melakukan perlawanan, dengan gerakan cepat ia berhasil mengunci pergerakan Gabriela hingga memelintir kedua tangan Gabriela.


"Cepat katakan, di mana markas kalian" teriak Fino dengan tatapan tajam.


"Aku tidak akan pernah mengatakannya, walaupun kau membunuhku Fino Alexander" teriak Gabriela.


"Benarkah, baiklah jika seperti itu. Akan ku pastikan, kau tidak akan pernah mengikuti pesta itu" ucap Fino sambil menarik kencang rambut Gabriela.


Akkhhhh.


"Hentikan si****" teriak Gabriela.


Fino semakin puas menarik rambut Gabriela.


"Cepat hentikan, setelah ini kau akan mendapatkan kejutan dari ku...ha ha ha" teriak Gabriela histeris.


"Sepertinya aku harus mencoba benda ini" ucap Fino dengan seringai licik diwajahnya. Ia pun menangkup wajah Gabriela lalu mengarahkan tusuk konde itu di wajah Gabriela.


Srekkkk


"Akkhhhh" teriak histeris Gabriela, saat benda tumpul itu merobek wajahnya.


Gabriela memegangi wajahnya dengan kesakitan penuh.


Aku bersumpah akan melenyapkan mu Fino Alexander. Batin Gabriela.


Kedua bodyguard Fino, mulai menyeret Gabriela keluar dari perusahaannya.


Fino kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak berselang lama kemudian, Chiko kembali menghadap kepadanya dengan membawa sebuah amplop coklat.


"Tadi seseorang mengantar amplop coklat ini khusus untuk tuan Fino" ucap Chiko dengan hati-hati.


"Taruh saja disitu" ucap Fino yang sibuk bekerja.


"Baik tuan"ucap Chiko, lalu meletakkan amplop coklat tersebut diatas meja kerja tuannya. Setelah itu, ia pun undur diri dari hadapan tuannya ataupun atasannya.


Beberapa jam kemudian....


Fino mulai makan siang di dalam ruangan nya. Untungnya Chiko selalu setia memesankan makan siang untuk tuannya, jika tidak ingin makan di luar.


Kini Fino duduk di sofa sambil memegangi amplop coklat yang entah siapa pengirimnya. Fino membuka amplop coklat tersebut, ia pun mengeluarkan isi dari amplop coklat tersebut.


Dan betapa terkejutnya ia, melihat banyaknya tumpukan foto sosok yang begitu dikenalinya bermesraan dengan lelaki lain dan terlihat tidak senonoh.


"Si*lan, beraninya kau bermain api dibelakang ku"ucap Fino dengan suara meninggi hingga raut wajahnya berubah menjadi memerah, bahkan mengepalkan tangannya dengan begitu kuat. Layaknya monster Hulk yang siap mengamuk.


Fino pun menghancurkan beberapa benda di ruangannya. Ia begitu marah besar, wanita yang sudah ia klaim sebagai miliknya malah disentuh oleh lelaki lain.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam harinya...


Milan kembali keluar rumah sambil mengendap-endap. Ia pun sudah mengadakan janji dengan David untuk ke pesta salah satu pengusaha yang berpengaruh di negara B. Itu semua ia lakukan demi rencana yang akan ia jalankan.


Mobil David sudah terparkir jauh dari gerbang rumah Fino. Milan pun berhasil menyelinap keluar dari rumah Fino.


"Kok kamu berpakaian preman pasar sih" ucap David yang melihat penampilan Milan.


"Aku tidak punya pakaian lain" ucap Milan acuh.


"Hemm, baiklah. Ayo masuk" ucap David.


Milan kemudian masuk ke dalam mobil David. Kemudian mobil David melaju kencang ke sebuah butik pakaian wanita.


"Untuk apa kita ke..."


"Ayo turun, aku tidak ingin kau berpenampilan seperti ini" ucap David. Kemudian turun dari mobil, disusul Milan.


Mereka memasuki butik yang cukup terkenal bagi kalangan wanita sosialita.


"Pilihkan gaun yang cocok untuk wanita ini dan jangan lupa dandanin secantik mungkin"ucap David, kemudian memilih duduk di sofa butik tersebut. Dan tak lupa langsung membayar gaun dan seluruh pernak-pernik yang dipakai Milan kepada pemilik butik.


Sementara Milan dibawah ke sebuah ruangan khusus oleh pekerja butik tersebut.


Tap


tap


tap


Terdengar langkah kaki seorang wanita berjalan robot menghampiri David. Sedangkan David menatap wanita itu tanpa berkedip dengan penuh kagum. Ia begitu terpesona melihat penampilan Milan yang begitu anggun sampai-sampai membuatnya terhipnotis.


Sebuah gaun biru malam, di bawah lutut dengan punggung terbuka, sangat pas di tubuh Milan. Rambut Milan di buat sedikit bergelombang sehingga terkesan manis di pandang, untuk riasannya terlihat natural namun tetap saja berkesan elegan.


"Cantik" hanya itu yang mampu David ucapkan melihat sosok wanita tersebut yang tidak lain adalah Milan.


"Aku susah berjalan" ucap Milan sambil mengangkat high heels nya.


"Sudahlah, kita bisa terlambat. Lagian kamu tidak akan berjalan jauh" ucap David lalu berjalan keluar butik. David tidak mampu menguasai jantungnya yang terus saja berdegup kencang. Milan mengekor di belakangnya dengan berjalan seperti robot.


Kini mereka sudah tiba di sebuah pesta yang begitu megah. Sayangnya mereka terlambat datang di pesta tersebut. David dengan hormat membukakan pintu mobil untuk Milan. Sesekali David ingin menggandeng tangan Milan, namun Milan memelototinya sebagai ancaman untuk tidak menggandeng tangannya.


Para tamu undangan sudah memenuhi area ballroom hotel, dimana pesta itu berlangsung di sebuah hotel bintang lima di pusat kota. Milan merasa tidak nyaman menghadiri pesta tersebut.


"David, lebih baik kita disini saja. Aku tidak suka berjalan jauh di dalam sana. Dan banyak orang yang memperhatikan kita" ucap Milan.


"Baiklah, kita duduk di meja ini saja" ucap David, kemudian menarik kursi untuk diduduki oleh Milan.


Sudah tersedia minuman dan cemilan diatas meja yang mereka tempati.


Tampak pesta begitu meriah dengan penampilan penyanyi papan atas yang mulai bernyanyi dengan suara merdunya.


"Aku tinggal sebentar, soalnya aku ingin menemui tuan rumah pesta ini" ucap David.


Milan hanya mampu mengangguk. Ia pun mulai menikmati suasana pesta yang begitu meriah. Sesekali melirik ke arah David yang sedang berbicara dengan seorang pria.


Seorang wanita cantik bersama pasangannya meminta izin kepada Milan, untuk bergabung di meja mereka. Wanita itu tersenyum melihat Milan, hingga ia pun mengobrol bersama. Rupanya mereka saling kenal di galeri tari kemarin.


Tak berselang lama kemudian, David pun kembali menghampiri Milan. Suasana pesta semakin meriah, perihal MC mulai menyuarakan sesi berdansa.


"Selanjutnya akan ada sesi berdansa dan menari bersama. Sebaiknya kalian berdua harus ikut" ucap wanita cantik tersebut yang bernama Laras


"Itu sudah pasti" ucap David enteng.


"Kalau begitu kami duluan dulu"ucap Laras ramah.


Laras bersama pasangannya berjalan menuju lantai dansa.


"Berdansa lah dengan ku Milan"ucap David yang mengulurkan tangannya.


"Maaf aku tidak bisa, aku sama sekali tidak tahu berdansa David"ucap Milan dengan tatapan tajam.


MC pun kembali menyebutkan nama David bersama pasangannya untuk ke lantai dansa.


Lagi-lagi Milan merasa malu dan gugup, karena pandangan mata para tamu undangan tertuju kepadanya. Tak terkecuali sepasang mata dengan tatapan tajam terus menatap ke arahnya.


Milan jadi bimbang untuk menerima tawaran David yang mengajaknya berdansa. Terlihat mata David memohon kepadanya, dengan terpaksa Milan menerima uluran tangan David.


Mereka pun berjalan beriringan menuju lantai dansa.


Musik melow menggema di lantai dansa beberapa tamu undangan mulai berdansa dengan mesra. Sementara Milan begitu kaku, dan selalu saja menginjak sepatu David, membuat David berkali-kali meringis kesakitan. Namun tetap bersabar di hadapan Milan.


Sementara seorang lelaki di sebrang ruangan sudah terbakar api cemburu, ia pun melempar gelas minuman yang dipegangnya di lantai.


Prangg


Semua orang yang berada disekitarnya tampak terkejut. Lalu lelaki itu, berjalan dengan langkah lebar menghampiri Milan dan David yang begitu kaku berdansa.


Lelaki itu langsung menarik paksa Milan dari tangan David. Hingga membuat tubuh Milan berputar hingga menabrak dada bidang lelaki tersebut.


Mata Milan membulat sempurna melihat sosok lelaki yang menariknya secara paksa.


Bersambung........


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏🙏